photography

Komunikasi Ekspresi Melalui Photography

Komunikasi Ekspresi Melalui Photography

Belajar suatu hal yang baru merupakan sebuah kewajiban tentatif kepada setiap keputusan masing-masing pribadi. Layaknya manusia berharga, yang membedakan dengan makhluk lainnya adalah pengetahuan dan intelektualitas.

Professional Talk merupakan program intelect yang dikemas dengan ringan. Professional talk with Rendha Rais (Professional Stage Photographer) direkam saat pameran foto: Words of Expression yang diselenggarakan oleh klub Foto perguruan tinggi ternama di Jakarta (LSPR)

Mengundang Photographer ternama Rendha Rais, berbicara tentang pengalamannya dalam memproduksi sebuah karya guna mengkomunikasikan pesan yang diinginkan oleh client.

Bersantai di Pinggir Danau

Bersantai di Pinggir Danau

Memukau! Satu kata yang menggambarkan destinasi wisata yang kami kunjungi kali ini. Berada di bagian timur Indonesia, tepatnya di Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Kota yang memiliki topografi diapit oleh Gunung Lokon dan Gunung Mahawu ini menyajikan udara yang begitu sejuk. Berlukiskan panorama pegunungan dan perbukitan yang begitu indah, membuat kami semakin betah berada di kota ini. Terlepas dari keindahan kota Tomohon, satu destinasi wisata andalannya yang berhasil membuat kami berdecak kagum adalah Danau Linow.

5DD8C332-1985-4EB2-9565-5DB7B2F70BF5

E6D8653D-C00C-4190-BEA9-AC5EB48E4C4E

Untuk sampai di Kota Tomohon, dibutuhkan waktu tempuh  sekitar 1 jam perjalanan dengan jarak kurang lebih 30 km dari Kota Manado. Sedangkan untuk tiba di Danau Linow dapat ditempuh dengan jarak 3 km arah ke barat dari Kota Tomohon. Namun, jauhnya perjalanan terasa tidak melelahkan, karena sepanjang perjalanan kami menikmati sajian indah pemandangan hijau dari perbukitan yang ditumbuhi pepohonan besar. Ditambah lagi cantiknya pemandangan pegunungan yang mengapit Kota Tomohon.

547638FD-6DC3-45B9-8009-D501646BE7D0

97DD1CFC-3598-4971-BF4A-6974A2D7BA81

Sesampainya di Danau Linow, kami disambut dengan bau khas belerang serta uap putih yang menyembur dari area danau. Pada sisi perairannya terdapat gelembung udara kecil yang terlihat meletup-letup. Dan kata warga setempat, air di danau ini dapat berubah menjadi 3 warna yang berbeda! Kalau kita datang disaat yang tepat, kita bisa menyaksikan perubahan warna air danau tersebut. Fenomena alam yang unik ini terbentuk kerena Danau Linow menempati cekungan vulkanik.

88182F40-9661-44CF-92E2-39870500001E

7B795FB2-5112-4001-8E2B-C4BFAB28A195

Tepat di tepi danau terdapat sebuah cafe yang menyajikan secangkir kopi dan teh hangat yang tentunya sangat pas diseruput dengan sejuknya udara saat itu. Ditambah beberapa pilihan makanan khas Kota Tomohon, hari itu rasanya semakin lengkap. Kalau ditanya jika ada kesempatan apakah kami ingin berkunjung kembali kesini? Rasanya tidak ada alasan untuk menolak.

Bersantai di Atas Hotel

Bersantai di Atas Hotel

Biasanya kami menghabiskan akhir pekan untuk pergi menjelajahi beberapa tempat baru. Tetapi, beda dengan kali ini, kami hanya memilih untuk menetap di satu tempat untuk bertukar cerita, berbagi canda dan tawa. Bergeser sedikit ke daerah Kemang, Jakarta Selatan, disana kalian akan menemukan tempat yang cocok untuk bersantai bersama teman-teman, di Hotel Monopoli.

p1380622_25311778527_o

p1380592_40151005332_o

Sebelum masuk, hanya dengan melihat arsitektur luar gedung kalian mungkin akan mengenali gedung ini. The Syah Establishment, mungkin itu yang akan terpikirkan oleh kalian yang “sadar”. Grup yang memiliki Bauhaus, The Gunawarman, Lucy in The Sky dan masih banyak lagi. Jadi gak heran, kalau perpaduan seni, budaya, fashion yang ada didalam gedung ini pernah kalian lihat di tempat lain. Karena memang benar Hotel Monopoli merupakan salah satu properti dari The Syah Establishment.

p1380595_39285409505_o

p1380611_39285347295_o

p1380626_28403313779_o

Tiba pukul 5 sore, dan kami langsung menuju rooftop bar yang dimiliki Hotel Monopoli, The Moon. Dengan suasana garden tropis, ditambah kolam renang kecil dipenuhi oleh pelampung-pelampung lucu semakin melengkapi suasana rooftop bar ini sendiri. Makanan yang disediakan pun tidak kalah enak dengan suasananya, apalagi melengkapi keindahan langit Jakarta di sore hari yang tentunya harus diabadikan oleh lensa kamera dan lensa mata kita pastinya.Jangan khawatir, disini juga banyak spot foto bagi kalian yang suka foto. So, jangan lupa abadikan kebersamaanmu dengan teman-temanmu ya!

Mempelajari budaya Tiongkok di Barat Jakarta

Mempelajari budaya Tiongkok di Barat Jakarta

Sabtu lalu, kami menyusuri daerah Jakarta Barat, tepatnya di Kota Tua. Ada beberapa lokasi yang menarik untuk dikunjungi bagi kalian yang ingin merasakan sensasi Chinatown di Jakarta.

40151264102_ac50934439_k

Pertama, kami menghampiri Pancoran Tea House. Kata Pancoran sendiri berasal dari kata Pancuran Air, karena dulu terdapat sumber mata air di daerah ini. Disini, teman – teman dapat menikmati teh yang disediakan secara gratis. Tradisi minum teh disini disebut juga, patekoan atau 8 teko. Karena disini terdapat 4 teko yang berisi teh tawar dan 4 teko lainnya berisi teh manis. Teh yang tersedia disini dapat dinikmati dari pukul 8 pagi hingga 7 malam setiap harinya dan bebas untuk siapa saja yang ingin meminum nya.

26311389208_fbe8c6e5a2_k

39286203105_ad9541629c_k

Kemudian kami menuju Vihara Dharma Bakti. Vihara yang didirikan pada tahun 1650 merupakan Vihara yang memiliki banyak sejarah, salah satunya peristiwa Geger Pecinan yang terjadi pada tahun 1740. Ada banyak masyarakat keturunan tionghoa yang terbakar pada peristiwa tersebut karena hubungan antara pengusaha Belanda dan Cina kala itu tidak akur.

26311186028_2a7b742d0d_k

P1380681

P1380687

Terakhir, kami mengunjungi beberapa pasar yang berada di daerah petak 9. Diluar Gang, banyak pedagang yang menjual pernak – pernik untuk menyambut Imlek seperti; gantungan, lampu lampu kecil, baju cheongsam, angpao hingga lampion. Sedangkan di bagian dalam, terdapat jajanan dan makanan berat khas Tionghoa yang bisa kalian coba.

P1380697

P1380668

Jadi, untuk liburan Imlek kali ini kalian mau jalan – jalan kemana Mazzers?

Photo : Desy Rufaida & Reza Ibrahim

Text : Nurul Rachmadini

We Are Millenials – The Creative Photography Exhibition

We Are Millenials – The Creative Photography Exhibition

What millennials could do with their smartphone? Art is the answer! 

Acara ini menunjukkan bahwa melalui smartphone saja, anak muda bisa menciptakan karya yang luar biasa. We Are Millennials : The Creative Photography Exhibition diselenggarakan oleh kelas internasional jurusan Public Relations Batch 19. Mereka punya tujuan untuk mengangkat bakat generasi millennial, khususnya dalam seni fotografi.

Pada tanggal 25 – 27 Januari 2018, FX Sudirman lantai F3 diramaikan oleh berbagai kalangan, terutama milenial yang ingin mengetahui kreatifitas dalam seni fotografi ponsel.

IMG_5033

IMG_4937

Selain photo exhibition, ada juga seminar oleh Wira Dhamma Putra, Rafli Zulkarnaen dan Titus O. Mainassy dimana pengunjung pameran We Are Millennials mengetahui bagaimana cara mengambil foto yang berkualitas dan memiliki nilai seni yang tinggi.

Selain itu, ada juga beberapa penampilan yang menghibur seluruh pengunjung We Are Millennials : The Creative Photography Exhibition, yaitu, pertunjukan tari modern oleh GRD, DJ Max Wright. Ada juga penampilan musik dari Balqees, Arul Maulana, Subatomic dan Pertunjukkan unik solo Darbuka oleh Daood Debu.

1517293624626

Ini dia salah satu cara mengambil gambar makanan dengan konsep flatlay.
IMG_4925

IMG_5023

IMG_5028

Diharapkan juga, melalui acara ini, anak muda dapat berkontribusi ‘ala milenial’ untuk kemajuan industri kreatif lokal’.

 

Photos : @desyrufaida/ @anitanita_24

EXI(S)T in National Gallery of Indonesia

EXI(S)T in National Gallery of Indonesia

Nampaknya, usia bukan menjadi sebuah tolak ukur dari karya seni yang dihasilkan, melainkan karya nyata yang bisa kita nikmati. DIA.LO.GUE hadir dengan sebuah project yang dinamakan EXI(S)T yang bertujuan sebagai tempat inkubasi calon seniman muda untuk mengembangkan potensi artistiknya dengan mengadakan pameran rutin setiap tahunnya.

abtract

DSC09437 copy

Acara ini bisa kamu nikmati mulai dari tanggal 16 Mei hingga 5 Juni di Gedung B & D Galeri Nasional. Kali ini, EXI(S)T 2017 hadir dengan tema Tomorrow As We Know It. Dengan maksud bisa mengajak para seniman untuk memprediksi dan menginteprestasikan masa yang akan datang. Karena pada dasarnya, baik jauh maupun dekat, masa depan itu memiliki beragam perspektif yang menggambarkan setiap generasi muda pada saat ini.

DSC09451copy

DSC09456 copy

Pameran EXI(S)T ternyata sudah berlangsung selama 5 tahun berturut-turut dan berusaha mengajak para penikmat seni ‘keluar’ (to exit) dari jalur yang sudah mereka jalani untuk ‘ada’ atau ‘hadir’ (to exist) di peta seni rupa Indonesia, khususnya Jakarta. Itulah yang telah dibuktikan oleh Bey Shouqi, Dhanny Sanjaya, Edita Atmaja, Faisal Rahman Ursalim, Fransisca Retno, Gadis Fitriana, Grace Joetama, Ivan Christianto, Kara Andarini, Monica Hapsari, Ratu R. Saraswati, Rianti Gautama, Sarita Ibnoe, Wangsit Firmantika, dan Yaya Sung kali ini. Jadi, mari sempatkan waktu untuk mampir ke Galeri Nasional yang berada di Medan Merdeka Timur ini ya mazzers.

karunf

Photo & Text : desyrufaida

Sejarah dan Secangkir Kopi dalam Festival

Sejarah dan Secangkir Kopi dalam Festival

Menghabiskan senja di Barat Jakarta, kami punya beberapa pilihan untuk menikmatinya. Kami memilih untuk pergi ke museum, teman kami sempat bertanya “untuk apa ke museum sore – sore, tutup!” ungkapnya. Bukan tanpa tujuan kami datang, kami hadir ke acara “Pesta Kopi Mandiri”.

P1040794

Berbeda dengan beberapa festival kopi lainnya, acara ini diadakan di museum. Museum Mandiri, Jakarta Barat dengan tema #ngopidimuseum. Menariknya acara ini secara tidak langsung bertujuan untuk membuat banyak orang untuk mau berkunjung ke museum. Selain menambah pengetahuan bisa bersantai sambil minum kopi juga. Memang kopi tidak hanya tentang minum, tetapi mengenal sebagian sumber daya Indonesia yang memiliki potensi. Banyaknya jenis penjual kopi, cafe dan jenis jenis biji kopi menjadikan banyak pula festival dimana kita yang mau. Bisa belajar banyak tentang kopi.

P1040801

P1040808

Jika kamu tidak menyukai kopi dengan cita rasa pahit, disana kamu juga bisa menemukan kopi dengan rasa manis. Kamu bisa memilih dimana kamu ingin membeli kopi yang kamu mau, karena ada kurang lebih 30 tenant kopi yang hadir dalam acara tersebut. Maksud kami dengan tenant, adalah cafe cafe yang kamu kenal di Jakarta.

P1040819
Selain minum kopi dan juga bersantai di museum, di sana kamu juga bisa menyaksikan screening film Filosofi Kopi, menghadiri baazar, workshop dan menyaksikan lomba  ABCD Latte Art showdown. Sebelumnya acara ini sudah digelar di Yogyakarta dan kedepannya akan diadakan juga di Surabaya dan Medan. Jangan lupa cek jadwalnya ya Mazzers.

 

Peradaban Luhur di Haribaan Ancala Manggarai

Peradaban Luhur di Haribaan Ancala Manggarai

Menyebut “Wae Rebo” bahkan kepada sesama kawan Indonesia, seringkali harus disertai dengan keterangan tentang dimana lokasinya ataupun penggambaran deskriptif tentang seperti apa wujudnya. Karena letaknya di ketinggian ancala, saya pun mengasosiasikan Wae Rebo sebagai Machu Picchu-nya Indonesia dengan pengecualian Wae Rebo bukan kota mati namun sebaliknya begitu hidup dengan denyut nadi yang kuat. Sebetulnya saya berharap tidak menggunakan asosiasi ini lagi dalam waktu dekat, karena Wae Rebo sejatinya tidak tergantikan.

7B

Wae Rebo menjadi begitu istimewa karena Mbaru Niang, karya otentik arsitektur rumah tradisional yang diwariskan Empo Maro sang leluhur setempat dan diteruskan oleh para keturunannya. Mbaru Niang di Wae Rebo berjumlah tujuh buah, satu sama lainnya terlihat identik dalam bentuk dan ukuran berupa rumah beratap kerucut besar terbuat dari ijuk. Sebuah Mbaru Niang yang terletak di tengah berukuran sedikit lebih besar dengan tinggi dan diameter 15 meter sedangkan enam lainnya memiliki tinggi dan diameter 11 meter. Di Mbaru Niang yang bernama Niang Gendang atau Mbaru Tembong itulah tempat para tetua adat Wae Rebo berkumpul dan melaksanakan berbagai upacara adat.

7A

Mbaru Niang di Wae Rebo merupakan situs penting bagi para arsitek baik dalam negeri maupun luar negeri. Keunikan dan kekhasan Mbaru Niang berhasil menarik perhatian kalangan ini, diantaranya struktur rumah yang tidak berdinding dengan atap memanjang sampai melampaui lantai yang berbentuk panggung. Atap tersebut terbuat dari kerangka bambu sedangkan untuk penyangga setiap Mbaru Niang digunakan sembilan tiang kayu. Bambu dan kayu-kayu tersebut diikat satu sama lain memakai rotan. Masing-masing Mbaru Niang dihuni bersama oleh delapan kepala keluarga yang saling berbagi satu-satunya ruangan. Saya begitu bahagia karena ada satu Mbaru Niang disebut Niang Gena Maro yang diperuntukkan untuk para wisatawan. Sebagaimana warga asli Wae Rebo, kami berbagi satu ruangan yang sama, tidur berjejer melingkari setengah Mbaru Niang, juga duduk melingkar setiap kali akan makan.

4A

 

4B

Wae Rebo sebagai peradaban di ancala Manggarai ini sungguh mampu memikat hati siapa saja. Kompleks rumah tradisional Mbaru Niang ditata begitu apik membentuk setengah lingkaran, menyisakan halaman tengah yang luas pada puncak gunung yang datar. Di belakangnya, punggung pegunungan yang lebih tinggi melatari seolah-olah menjadi pagar yang memisahkan Wae Rebo dari kehidupan dunia luar. Di atasnya, langit rendah menaungi dengan sesekali membentangkan selimut awan tipis.

7C

Pesona Wae Rebo pun tidak seketika luruh tatkala matahari terbenam. Suasana malam di Wae Rebo tidak kalah memukau, dengan langit biru gelap dibayangi siluet pegunungan dan atap-atap rumah yang menjulang ditambah taburan bintang yang bersinar terang tanpa berkompetisi dengan cahaya lain. Di ketinggian 1.200 mdpl, Wae Rebo seperti asyik sendiri, mengabaikan dunia yang terus bergejolak, hidup dalam tuntutannya sendiri. Bahkan waktu pun seakan berjalan lambat disini. Para tamu yang ingin berkunjung pun harus bersedia melepaskan ego modernisme untuk digadaikan dengan rasa syukur akan kedamaian, kesederhanaan dan kecukupan di peradaban Wae Rebo.

2

Photo/Text : @nfadilah.xi

 

 

Back to Analog Shutter

Back to Analog Shutter

Makin berkembangnya zaman yang kian pesat membuat segala nya menjadi serba digital, terutama kamera. Kamera sekarang bukan hanya dimiliki oleh fotografer professional dengan segala pengetahuannya, tapi sudah menjadi benda wajib untuk anak muda era sekarang karena semakin praktis nya penggunaan kamera digita. Mereka yang tertarik dengan passion yang kuat mungkin akan mencoba kembali menjadi “primitif” dengan melirik kamera analog.

DSC00962
DSC00966

Sadar dengan semakin berkembangnya pecinta kamera analog, maka diselenggarakan lah Lowlight Bazzar yang sudah ke 9 kali nya digelar, acara yang berlangsung di gedung bara futsal Blok M ini menyediakan segala keperluan penikmat analog, mulai dari kamera, lensa, film, servis pembersihan lensa, bahkan benda-benda vintage seperti vinyl, pin, kendama, turut meramaikan acara ini.

DSC00956
DSC00963

See you again on Lowlight Bazzar 10 analog lovers!

Jember Fashion for the World

Jember Fashion for the World

Berawal dari tradisi arak-arakan Reog Ponorogo yang biasa mengadakan karnaval untuk ulang tahun kota Jember – Jawa Timur, sebuah event tahunan bernama Jember Fashion Carnaval bermula. Karnaval ini digagas oleh designer asal Jember, Dynand Fariz, dengan memanfaatkan animo masyarakat yang selalu semangat dalam menyambut ulang tahun kota Jember. 00 Dynand Fariz yang merupakan fashion designer berinisiatif untuk mengangkat nama Jember dengan membangun ciri khas serta karakteristik Jember dalam fashion dan karnaval. compilation Jember Fashion Carnaval (JFC) menampilkan kostum dengan konsep yang diangkat dari archipelago Indonesia hingga tema-tema yang sedang populer secara global, seperti anime, flora fauna, teknologi, Tsunami, musik dan lain-lain. Setiap tahun diadakan rangkaian acara sebelum karnaval besarnya. Ada lebih dari 600 orang terlibat dan mereka sebelumnya diberikan workshop selama 6 bulan dalam hal modeling, fashion design, make up  hingga performing art. JFC menjadi sebuah ajang pamer karya dari para kontestan yang biasanya terdiri dari para pemuda, masyarakat umum maupun komunitas, designer dan seniman lokal. Tentunya yang terbaik akan dipilih untuk diberikan penghargaan. Jember Fashion Carnaval telah diakui sebagai festival terbesar ke 4 di dunia dan menjadi pionir karnaval modern di Indonesia. Dengan event sekaliber ini, pastinya JFC menjadi daya tarik untuk memajukan pariwisata Jember dan Indonesia secara luas. [flickr_set id=”72157654444568733″]

Ayo mazzers, kamu bisa cek jadwalnya supaya kamu bisa mengagumi langsung detail dari dekat, dan serunya suasana karnaval ala @jemberfashioncarnaval.

@jemberfashioncarnaval

www.jemberfashioncarnawal.com

Photo : @iyutdewi | @luthfiandra

 

Holiday in the City

Holiday in the City

Asik ya kalau bisa mudik. Bertemu dengan keluarga kamu, main dengan saudara- saudara, menikmati indahnya pagi di suasana baru selain Jakarta. Derai ombak bersama dengan angin panas pantai serta pasir putih, atau di bawah pepohonan rindang dikala matahari terik dengan angin semilir bersama dedaunan cokelat yang jatuh.

[flickr_set id=”72157655809199881″]

Kalau tidak bisa? hey! Suasana Jakarta di waktu lebaran adalah situasi lain. Just like Pharrell’s new song right here,

Freedom! How ’bout some inspiration of your outfit, mazzers? cherish your Holiday in the City.



Peach Skate



Feeling thumbs



Vibe and Base



Ukulele



Boyish Avenue



American Bee

Happy mix and match!
Photographer : Kaymori / @kaymori
Fashion Director : Fahadscale / @fahadscale
Model : Bobby Rizal / @bvbryzal
Safhira Nadya / @safhr
Fashion Stylist : Gloria Jessica / @gjgltm
Tamy / @tamywn
MUA: Bella Sabilla / @bellasabillaaa

Thanks to :
KEDS / @kesdid
KOMONO / @komono_indonesia
American Eagle / @americaneagleid
Mieko Noguchi / @miekonoguchi

Night Photowalk

Night Photowalk

[flickr_set id=”72157653597596305″]
Saat matahari memberikan bumi kesempatan untuk merasakan hangatnya rembulan, disitulah langkah kaki ini berjalan untuk mencari banyak hal menarik yang bisa diabadikan dari paparan sinar bulan di Jakarta. Berkelana bertiga dengan seorang sahabat yang memang sama-sama mempunyai semangat untuk berbagi tentang kehidupan dengan mediasi mata kita yang diabadikan melalui sebuah lensa kamera. Perjalanan ini semakin asik karena hanya dengan mengendarai sepasang sepatu dan kendaraan roda dua, mengelilingi ibukota ini.

Potret kehidupan malam ibukota yang saya ambil dari sudut pandang pribadi. Harapannya agar para penikmat fotografi bisa merasakan bagaimana saya berada pada suatu suasana, yang pada saat itu rasanya semua tempat cocok untuk sebuah meditasi. Detak arloji pun hingga terdengar lantang, suara mesin terdengar lembut, angin malam menjadi hangat. Saya berharap agar teman2 yang membaca merasa bersemangat untuk memotret karena dapat mendalami apa yang sudah saya dan teman-teman saya lakukan, so, feel the ambience about my photostory, when you feel it, you want to do it, and when you want to do it, just do it. Enjoy!

Teks / Foto: @stefanuspalenteng

Night Photowalk
Night Photowalk
Night Photowalk
Night Photowalk
Night Photowalk
Night Photowalk
Night Photowalk
Night Photowalk
Night Photowalk
Night Photowalk

Late Spring X National Exam Holiday Ideas

Late Spring X National Exam Holiday Ideas

Hidup itu penuh ujian, mungkin kamu pernah dengar seseorang dalam hidup kamu yang pernah mengatakan hal ini. Tapi, ujian nasional sudah selesai! Saatnya kamu menikmati liburan, you deserved it!

Lebih menyenangkan lagi, kalau kamu liburan dengan gaya baru. To find your own personal style, let us inspire you through these ideas :

[flickr_set id=”72157651835293449″]

 

Share foto pilihan kamu, or share your own personal style via Instagram with #MazzeUp

Photographer     : @rezakurniareza

Models                  : @dionisiuslesmana & @puspitashriani

Fashion Director : @fahadscale

Fashion Stylist     : @gjgltm

MUA                      : @diahcaca