Review

Nike x Stranger Things collabs : 80’s vibe

Nike x Stranger Things collabs : 80’s vibe

Salah satu film series yang paling diminati saat ini dan sudah memasuki season ketiganya, Stranger Things, berkolaborasi bersama Nike dan menciptakan line-up sepatu dan pakaian bernuansa 80’s yang catchy.

Dirilis secara dua periode first drop dan “OG Pack”, dengan rilisan pertama yang mengambil referensi skema warna dari Hawkin’s highschool didominasi warna hijau, oranye, dan putih menggunakan siluet Cortez, Blazer Mid, and Air Tailwind 79 dari Nike serta koleksi t-shirt dan hoodie dengan desain vintage melengkapi first drop collection dari kolaborasi ini.

Drop kedua yang diberi nama ” OG Pack” yang didominasi dengan warna biru, merah, dan putih simbol warna dari Amerika dan sebagai peringatan untuk “Independence Day” masih dengan 3 siluet sepatu nike seperti seri rilisan pertama, ada detail kecil yang menarik dari rilisan kali ini terdapat di bagian belakang sepatu terdapat angka “1985” sebagai referensi tahun set yang diambil pada seri Stranger Things.

Bagaimana menurut mazzers cop or drop? pastinya auto cop untuk pecinta stranger things! (retail price 120usd semoga masuk Indonesia harga tetap masuk akal)

Photo by : highsnobiety

 

Revisiting – Curriculum Vitae by LONS

Revisiting – Curriculum Vitae by LONS

Lons adalah grup band asal Malang sejak Desember 2015 lalu, dua tahun berikutnya band yang diprakasai oleh Bayu (drum), Alvin (gitar), Dewa (bass) dan Dino (gitar) telah membagikan demo kaset pertamanya yang bertajuk “Curriculum Vitae” ke khalayak.

Bermula dari kasadaran usia seperempat abad yang menyetubuhi setiap manusia, keadaan itulah yang memaksa diri masing-masing untuk “menjual” dirinya demi menghadapi realita yang belum tentu ideal. Seperti melamar pekerjaan, menyusun CV, portfolio, menjadi pegawai, memutus pertemanan, bahkan tersesak di antara kebanyakan orang.

Mau tidak mau, suka tidak suka, harus tetap dijalani. Karena realita hidup tak selalu berjalan sesuai dengan yang kita kehendaki.

Dengan sedikit merekam sekuens ruang dan waktu yang diwakilkan dalam empat buah lagu, yaitu “Mythomani”, “Catharsis”, “In-Between” dan “Ante Meridiem (Void)”, Curriculum Vitae mencoba menjadi refleksi akan fenomena tersebut.

Haluan musik iPop dipilih sebagai personifikasi bahwa generasi millenial individu kini pada dasarnya telah berlomba menjadikan dirinya sendiri populer di dunia maya (tidak jelas) tapi tidak dikenal bahkan oleh Ketua RT lokal setempat.

Musik yang bermuara di Kota sejuk Malang ini berpadu dengan Gerpfast Kolektif sebagai Record Label dengan sederet musik Shoegaze, Indie-Pop, Post, dll.

Dedikasi Radiohead Dalam Film

Dedikasi Radiohead Dalam Film

Siapa yang tak kenal Radiohead, Band rock asal Inggris yang terdiri dari Thom Yorke (vocals, guitar, piano, keyboards), Jonny Greenwood (lead guitar, keyboards, others), Colin Greenwood (bass), Ed O’Brien (guitar, backing vocals) dan Philip Selway (drums, percussion) ini ternyata dibentuk pada tahun 1985. Pada awalnya mereka merilis single debut yang berjudul “Creep” pada tahun 1992, itu menjadi hits diseluruh dunia setelah mereka merilis album debut “Pablo Honey” (1993). Ke populeran mereka pun tidak berhenti sampai disitu saja, setelah merilis album-album berikutnya, sampai album ke 9. Mereka pun mencoba menjadi pengisi soundtrack beberapa film ternama yang masuk dalam nominasi Academy Award, salah satunya menjadi nominasi untuk Best Original Score at this year’s Oscars pada tahun 2018 kemarin. Dan berikut ini beberapa film yang juga diiringi oleh Radiohead:

 

children of men

Children of Men (Alfonso Cuarón, 2006)
Cast: Julianne Moore, Clive Owen, Chiwetel Ejiofor
Songs: Life in a Glasshouse

Sutradara Alfonso Cuarón, membuat film Children of Men dengan visual yang kuat dan keras, dan ternyata film ini berhasil melekat di memori kalian setelah melihatnya. Dengan soundtrack Radiohead, ‘Life in Glasshouse’ yang mengiringi satu adegan mengesankan yang menampilkan Michael Caine sebagai seorang pensiunan politik dan Jasper Plamer. Ketika Clive Owen bersembunyi dari dunia luar yang menakutkan di tempat Palmer yang terpencil, Radiohead pun berhasil mengiringinya.

50:50

50/50 (Jonathan Levine, 2011)
Cast: Joseph Gordon-Levitt, Seth Rogen, Anna Kendrick
Songs: High and Dry

Kali ini sutradara sekaligus penulis skrip Amerika, Jonathan Levine membuat film 50/50 yang menceritakan tentang seorang jurnalis yang divonis dengan penyakit kanker langka dan harus di kemoterapi. Dengan bantuan sahabatnya, ibunya dan terapis di pusat kanker. Sang jurnalis ini mendapatkan pelajaran apa saja dan siapa yang berperan paling penting didalam hidupnya. Dengan genre comedy, drama, romance, Radiohead berhasil mengiringi salah satu adegan di dalam film ini dengan lagunya yaitu ‘High and Dry.

There will be blood

There Will Be Blood (Paul Thomas Anderson, 2007)
Cast: Daniel Day-Lewis, Barry Del Sherman, Martin Stringer
Songs: There Will Be Blood – Jonny Greenwood

Paul Thomas Anderson seorang sutradara berasal dari Amerika yang sudah masuk nominasi 25 Academy Awards dan menang 3 kali untuk kategori cast dan crew. Dari beberapa filmnya There Will Be Blood merupakan salah satu yang memenangkan Academy Award for Best Actor. Film yang menceritakan tentang seorang penambang yang berubah menjadi pengusaha minyak di awal abad dua puluh di California. Dia bekerja keras tetapi juga mengambil keuntungan dari orang-orang disekitarnya dengan biaya mereka jika itu diperlukan. Ketegangan film ini juga dibantu dengan iringan seorang musisi inggris dan komposer Jonny Greenwood atau yang dikenal sebagai lead guitarist dan keyboardist dari Radiohead, ia berhasil mengiringinya dengan soundtrack khusus There Will Be Blood.

Suspiria

Suspiria (Luca Guadagnino, 2018)
Cast: Dakota Johnson, Tilda Swinton, Chloe Grace Moretz
Songs: Has Ended – Thom Yorke

Sutradara kelahiran Itali, Luca Guadagnino kali ini membuat film bergenre fantasy, horror, mystery, thriller. Film ini menceritakan mengenai sebuah kegelapan di tengah perusahaan tari yang terkenal di dunia, dengan menghadirkan seorang penari muda yang ambisius, seorang psikoterapis yang berduka. Dan pada akhirnya beberapa orang akan menyerah pada mimpi buruknya, serta yang lain akhirnya akan bangun. Ketegangan film ini pun dilengkapi dengan iringan dari Thom Yorke, penyanyi dan penulis lagu dari Radiohead yang menghidupi ke hororan dari film ini sendiri.

The Master

The Master (Paul Thomas Anderson, 2012)
Cast: Philip Seymour Hoffman, Joaquin Phoenix, Amy Adams
Songs: composed by Jonny Greenwood

Paul Thomas Anderson kembali reuni bersama Jonny Greenwood dalam filmnya yang berjudul The Master. Film yang menceritakan tentang kembalinya Freddie Quell dari dinas Angkatan Laut dalam Perang Dunia II, dalam perjalannya ia menemukan sekte yang melakukan latihan untuk membersihkan emosi dan ia jadi sangat terlibat dengan sekte tersebut. Kesan drama dari film ini dan peran Freddie Quell yang diperankan oleh Joaquin Phoenix ini sangat terasa dengan iringan musik dari Jonny Greenwood.

Phantom Thread

Phantom Thread (Paul Thomas Anderson, 2017)
Cast: Vicky Krieps, Daniel Day-Lewis, Lesley Manville
Songs: composed by Jonny Greenwood

Phantom Thread, film yang berhasil mendapatkan 5 nominasi dari Academy Award, dengan salah satu nominasi dari segi Best Original Music Score. Film yang menceritakan tentang pembuat pakaian terkenal Reynolds Woodcook (Daniel Day-Lewis) dan saudara perempuannya Cyril (Lesley Manville) yang berada di pusat Inggris, mulai dari berpakaian royalti, bintang film, sosialita dibuat dengan gaya berbeda dari The House of Woodcock. Jonny Greenwood pun lagi-lagi berhasil menyusun melodi untuk soundtrack dari film ini.

You Were Never Really Here

You Were Never Really Here (Lynne Ramsay, 2017)
Cast: Joaquin Phoenix, Judith Roberts, Ekaterina Samsonov
Songs: You Were Never Really Here – Jonny Greenwood

Film yang menceritakan tentang seorang veteran Perang Teluk yang trauma akan hal yang pernah dialaminya dan sekarang menjadi seorang penyeawa bayaran yang sudah lanjut usia, ia gigih untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dengan reputasi yang buruk sebagai seorang yang brutal, ia harus melarikan diri dari rasa sakit yang akan membawanya lebih dekat ke kegilaan. Pada akhirnya ia harus menyeimbangkan mana yang nyata dan mana yang mimpi? Mungkinkan akan ada babak baru dalam kehidupannya ketika dia terus berlarian berputar-putar? Sang gitaris, Jonny Greenwood berhasil mengiringi film ini dengan lagu yang berjudul You Were Never Really Here.

Vanilla Sky

Vanilla Sky (Cameron Crowe, 2001)
Cast: Tom Cruise, Penélope Cruz, Cameron Diaz
Songs: Everything in its Right Place

Drama psikologis Cameron Crowe bukan menjadi sebuah potongan bagi karya asli Spanyol yang menginspirasinya, Abre Los Ojos (1997) yang juga dibintangi oleh Penélope Cruz juga. Tapi itu bisa menjadi pengantar untuk menampilkan lagu pembuka untuk mimpi Radiohead, dengan lagu “Everything in its Right Place), kegelisahan David Aames yang diperankan oleh Tom Cruise saat ia pergi dengan santai dari kehidupan New York-nya yang sempurna. Ia dikurung dan didakwa atas pembunuhan, David Aames Jr akhirnya menceritakan kisah bagaimana dia sampai ditempat dia berada dengan psikolog polisi. Dengan iringan Radiohead, penonton akan lebih merasakan fantasy, misteri, romansa dari film ini.

Prisoners

Prisoners (Denis Villeneuve, 2013)
Cast: Hugh Jackman, Jake Gyllenhaal, Viola Davis
Songs: Codex

Denis Villeneuve, seorang sutradara asal Kanada ini membuat film berjudul Prisoners. Film ini menceritakan mengenai sebuah keluarga, yang dimana akan menimbulkan pertanyaan seberapa jauh anda akan melindungi keluarga anda? Keller Dover (Hugh Jackman) menghadapi mimpi terburuk untuk setiap orang tua, ia kehilangan putrinya yang berumur 6 tahun. Kepanikan pun dimulai ketika beberapa menit terasa seperti beberapa jam, dengan petunjuk yang minim akhirnya Dover yang panik pun memutuskan bahwa ia tidak punya pilihan untuk mengatasi masalahnya sendiri tanpa bantuan seorang detektif. Tetapi seberapa jauh ayah yang sedang putus asa ini akan pergi melindungi keluarganya? Dengan iringan Radiohead – Codex untuk penutup, menambah kesan drama, misteri, crime dari film ini sendiri.

Westworld

Westworld (Jonathan Nolan & Lisa Joy, 2016)
Cast: Evan Rachel Wood, Jeffrey Wright, Ed Harris
Songs: Codex

Sebuah serial science fiction dari Jonathan Nolan dan Lisa Joy yang terinspirasi dari film Michael Crichton 1973 dengan nama yang sama dan diatur di taman hiburan Wild West yang dibuat oleh Dr. Robert Ford (Anthony Hopkins) dengan android mirip manusia dimana para tamu didorong untuk menikmati fantasi dan keinginan mereka. Radiohead pun menjadi salah satu soundtrack seri ini dengan lagu Codex.

The Prestige

The Prestige (Christopher Nolan, 2006)
Cast: Christian Bale, Hugh Jackman, Scarlett Johansson
Songs: Analyse

Seorang sutradara, penulis asal Inggris, Christopher Nolan, kali ini membuat film berjudul The Prestige yang menceritakan tentang akhir abad kesembilan belas. Berlatar belakang di London, Robert Angier (Hugh Jackman), bersama istrinya Julia McCullough (Piper Perabo) dan Alfred Borden (Christian Bale) seorang teman dan asisten nya seorang pesulap. Ketika Julia tidak sengaja meninggal selama pertunjukan, Robert menyalahkan Alfred atas kematiannya dan mereka menjadi musuh. Lalu keduanya menjadi pesulap terkenal, mereka bersaing sampai Robert menjadi terobsesi mencoba mengungkapkan rahasia kompetitornya dengan konsekuensinya yang tragis. Dengan lagu Analyse Radiohead yang dibuat oleh Thom Yorke menjadi track kedua dalam album The Eraser pada 2006, drama dan misteri dari film ini pun semakin terasa.

A Scanner Darkly

A Scanner Darkly (Richard Linklater, 2006)
Cast: Keanue Reeves, Winona Ryder, Robert Downey Jr.
Songs: Fog’, ‘Amazing Sounds of Orgy’, ‘Skttrbrain (Four Tet Remix)’, ‘Pulk/Pull Revolving Doors’, ‘Reckoner’

Dengan setting berbentuk animasi – coretan tangan, Richard Linklater berhasil menyuguhkan sebuah ketegangan, kegelisahan dan narkotika dalam film ini. Ditambah dengan iringan dari Radiohead yang menambah kesan drama. Film yang menceritakan tentang seorang detektif yang menyamar bekerja dengan sekelompok kecil pengguna narkoba yang mencoba menghubungi distributor besar obat perusak otak. Penugasannya dipromosikan oleh pusat pemulihan tetapi ketika Bob mulai kehilangan identitas, ia harus mengikuti tes untuk memeriksa kondisi mentalnya sendiri.

Film Review I Origins

I Origins (Mike Cahill, 2014)
Cast: Michael Pitt, Steven Yeun, Astrid Bergès-Frisbey
Songs: Melatonin, Motion Picture Soundtrack

Seorang ilmuwan muda sedang melakukan penelitian mengenai evolusi mata manusia untuk membuktikan bahwa mata telah berevolusi. Setiap mata ternyata memiliki daya tarik tersendiri dan memiliki konsekuensi pribadi dan budaya yang mendalam. Film yang menceritakan seorang ilmuwan muda yang sedang melakukan penelitian mengenai evolusi mata manusia untuk membuktikan bahwa mata telah berevolusi. Setiap mata ternyata memiliki daya tarik tersendiri dan memiliki konsekuensi pribadi dan budaya yang mendalam. Film garapan Mike Cahill ini memiliki soundtrack yang diisi oleh Radiohead dan menambah kesan genre drama, romance, sci-fi yang memang diciptakan nya dari awal.

Black Mirror; Shut up and Dance

Black Mirror: Shut Up and Dance (James Watkins, 2016)
Cast: Alex Lawther, Jerome Flynn, Susannah Doyle
Songs: Exit Music (For a Film)

Sebuah serial science fiction Netflix yang dibuat oleh Charlie Brooker ini menceritakan tentang penelitian akan masyarakat modern terutama yang berkaitan dengan konsekuensi yang tidak terduga dari teknologi-teknologi baru. Memiliki cerita yang berbeda dari setiap episode, dari yang bisa ditebak ceritanya dalam waktu dekat, seringkali menyindir hingga beberapa lebih bereksperimen dan adapula yang lebih ringan. Shut Up and Dance merupakan salah satu episode dari season 3, yang disutradarai oleh James Watkins. Dalam episode kali ini menceritakan seorang remaja yang mendapatkan blackmailed dan disuruh untuk melakukan tindakan aneh dan kriminal oleh seorang hacker misterius. Ia bisa keluar dari perangkap online itu dengan cara mengikuti perintah dari orang yang tidak dikenalnya ini. Diakhir film kesan drama lebih terasa ditambah dengan alunan musik dari Radiohead untuk menutup film tersebut.

Addicted to your love: RL+KLAV

Addicted to your love: RL+KLAV

Artist R&B/ Electro Soul hampir seperti mitos di Indonesia, dan kita harus berterima kasih kepada RL dan Klav yang akhirnya berkolaborasi membuat sebuah project dengan menghasilkan R&B/Electro Soul yang sangat manis. Klav seorang multi-instrumentalist meciptakan dentuman manis berpadukan chill voice RL, memberikan satu kata yang dapat menggambarkan project ini, “tepat“.

Project RL + Klav sudah membuahkan satu album berjudul “Basic” yang bertemakan tentang cinta sebagai fondasi dari warna dan karakter album ini, berisi 5 track bernuansa chill dan dreamy, “Basic”sudah dapat kalian dengarkan di aplikasi musik favorit kalian.

Revisiting – Strange Mountain

Revisiting – Strange Mountain

Have you ever feels like fly away and locked up at the space by hearing some kind of music?

Itu yang kami rasakan saat mendengar album baru berjudul Only Remembering yang di rilis oleh Strange Mountain.  Proyek musik ambient/drone dari Marcel Thee (Sajama Cut) ini berdurasi cukup panjang apabila dibandingkan dengan lagu pada umumnya. Namun, setiap instrumennya mampu membawa kami seperti berada di dimensi lain.

His music somehow has brought up a mystical touch to the deepest soul. Just like a magic trick, it can switch on your mood into a different vibe instantly! Mungkin instrumen ini bisa menjadi pilihan tepat untuk kamu yang penat dengan iringan musik mainstream masa kini.

Selain itu, duduk dibawah langit malam hari, sembari diiringi instrumen ini, juga bisa menjadi momen yang tepat untuk kembali merenungkan kejadian seharian ini.

Synchronize Festival

Synchronize Festival

Festival musik andalan pecinta musik lokal dan juga para musisi lokal Synchronize Festival 2018 resmi di selenggarakan pada 5 Oktober 2018, memasuki tahun ke 3 Synchronize Festival dimulai dengan serangkaian tur dari bulan Juni hingga September 2018 yang bekerja sama dengan Archipelago. Formula yang sudah digunakan pada 2 tahun sebelum nya dengan line up hampir seluruh musisi lokal ternama di Indonesia yang kami yakini belum membuat bosan kembali digunakan, dan seperti dugaan kami Synchronize Fest kembali pecah di tahun ini.

Satu hal yang paling ditunggu dari Synchronize adalah line up legend sebagai penutup acara, berhubung penonton acara ini lebih di dominasi oleh anak muda, maka melihat musisi – musisi lawas ambil alih panggung merupakan hal yang jarang dan bisa menjadi salah satu momen langka bagi mereka. Dan di tahun ke 3 ini kami memiliki 3 band lawas dengan perform paling memorable menurut kami, Dewa 19 dengan semua vokalis yang pernah bermain di band tersebut, Padi yang bermain kembali bersama Piyu, dan Jamrud.

0171

Band ini pernah menjadi theme song selamat ulang tahun pada jaman nya, suara sang vokalis mas Kris pun tetap seperti yang pernah kami dengar dulu, perform Jamrud hari itu sangat intens dan padat, nyaris tanpa kesalahan pada setiap lagu. Rock!

0195

Senang rasanya melihat Fadly dan Piyu dalam satu band kembali, terimakasih untuk synchronize yang mengundang Padi. Padi sangat spesial bagi kami karena jarang ada musik pop major Indonesia yang mempunyai penulisan lirik yang sangat baik, tak terkesan cheesy seperti kebanyakan band major lain nya, Soal perform pada acara ini tak perlu kami jelaskan panjang lebar karena menurut kami mutu itu permanen, Padi tampil luar biasa seperti yang biasa mereka lakukan.

0233

0253

Melihat Dewa 19 dengan semua vokalis yang pernah bermain dalam band ini, tak mungkin berharap lebih dari ini karena sebuah momen yang sangat langka. hanya luar biasa yang dapat kami katakan pada perform Dewa 19 di acara Synchronize Festival.

0229

Untuk keseluruhan acara ini memiliki kualitas yang lebih baik dari tahun – tahun sebelum nya, pertanda pihak manajemen berkembang disetiap tahun nya. semoga acara ini tetap berjalan untuk kedepan nya.

Revisiting – Ping Pong Club

Revisiting – Ping Pong Club

Mendiskusikan kembali lagu-lagu dari masa lampau dalam Revisiting selalu menyenangkan. Beberapa minggu lalu saat senja, ditemani kopi, kami duduk sambil berdiskusi. Kembali membahas musik. Namun, tidak tentang lagu atau musisi lama. Kali ini kami saling membandingkan musisi baru favorite kami masing-masing. Sampai seorang dari tim kami mencetuskan ide baru, “kenapa gak tulis juga artikel tentang musisi-musisi baru?”. Dan dari perbincangan singkat itu, lahir lah artikel pertama dari  Revisiting ini.

Why Revisiting? and why not Revisiting? Jadi, biar obrolan musik kita semakin tanpa batas, kalau di Revisiting sound kita membahas tentang musik-musik dari masa lampau, dalam tajuk Revisiting ini kita akan lebih membahas perkembangan musik saat ini.

Kalau berbicara soal musik masa kini tidak pernah ada habisnya. Selalu ada yang baru. Dari rilis lagu baru, band baru, sampai pada aliran-aliran musik yang mungkin juga baru. Apalagi kalau membahas musisi indie Indonesia. Ibarat jamur, hampir di setiap kota memiliki band-band indie andalan mereka.

Seperti band indie baru yang satu ini. Mendengar namanya mungkin mengingatkan kita pada satu hal, olahraga tenis meja. Ping Pong Club yang merupakan grup band indie asal Bandung ini membawakan musik beraliran indie pop dengan sentuhan alunan futuristik dari synthesizers.

Setelah sukses dengan single debutnya yang berjudul “Venetian Blind”, Agustus kemarin mereka kembali merilis single keduanya yang berjudul “Skylight”. Untuk para pecinta musik indie, mungkin band indie satu ini bisa jadi pilihan penambah playlist kamu!

Editor’s pick : Indonesian denim

Editor’s pick : Indonesian denim

Sepertinya kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar tentang bahan yang satu ini, salah satu dari pakaian yang paling mudah digunakan untuk segala aktifikatas. Membahas brand luar sudah terdengar sangat membosankan, beruntung salah satu penulis kami sangat mendalami denim khusus nya denim lokal dan bagi yang belum tahu, Denim Indonesia sekarang sudah masuk dalam jajaran denim terbaik di dunia. Oleh karena itu, kami memberikan list denim lokal terbaik berdasarakan pilihan kami sebagai pilihan yang mungkin ingin menggunakan denim. So this is our” Best Local Denim List “, tidak ada nomer 1 dalam list ini karena semua punya keunikan tersendiri.

 

Old Blue

phylosophy-small

Sang veteran dalam list kita, tidak mungkin membuat list denim lokal tanpa memasukan brand yang satu ini. Old Blue mengusung tema American Vintage sebagai karakteristik denim mereka, kualitas mungkin tak perlu kita jelaskan lagi, sebutkan nama Old Blue ke para denimhead biar mereka yang menjelaskan seperti apa kualitas brand ini. Gaya vintage, cutting yang straight serta warna denim yang nanti nya akan memberikan old school fade bisa jadi pilihan kalian yang suka dengan gaya vintage.

 

Warpweft  Co

27559114449_03723111b7_c

“The Slub Master”  ini untuk kalian yang suka dengan denim bertekstur “slubby” (untuk yang belum paham slubby itu apa dapat cek di google), dan untuk kalian yang ingin memiliki denim dengan tekstur yang unik dan karakter yang tak bisa ditemukan oleh brand lain, maka inilah pilihan kalian,  untuk yang belum tahu denim lokal mempunyai harga yang cukup tinggi pada “high end” brand nya, pastinya dengan harga yang cukup tinggi anda ingin sesuatu yang berbeda bukan?

 

Carnivores soul

_160916225300_New Logo

 

Apalagi selain denim celana yang paling essential untuk para bikers? brand satu ini mengusung tema “motorcycle culture and attitude” pemilihan bahan yang siap untuk di “hajar” untuk segala medan, berkarakter stiff dan crisp menghasilkan fading yang contrast setelah pemakain. Brand satu ini masuk list kami karena karakter dari brand nya yang sangat kuat, menjadikan brand ini mempunyai nilai lebih dengan konsep nya yang jelas.

 

NBDN

21436309_1433637613410690_7834767500414812160_n

Berdiri pada tahun 2011, brand yang satu ini sudah mampu go internasional mulai dari Thailand, Malaysia, bahkan Nepal, Kenapa bisa? karena kualitas yg luar biasa dari denim ini, banyak sekali detail – detail unik dari setiap celana yang dikerjakan oleh tangan seperti slogan mereka ” human made, human taste”. Bagian paling keren dari celana ini adalah leather patch nya yang memakai gaya jahit sashiko, satu – satu nya di Indonesia yang mempunyai leather patch seperti ini. recommended one!

 

Mischief

logo

Brand yang paling lama berdiri dalam list kami, Mischief adalah denim dengan kualitas sangat baik yang mempunyai line up terbanyak dibandingkan denim lain, brand lain biasanya memberikan pilihan cutting slim straight, skinny, dan slim tappered saja, tapi mischief memberikan 7 pilihan cutting! cukup untuk memenuhi setiap bentuk kaki kalian. Pilihan bahan dari Mischief juga bisa memenuhi setiap harapan kalian, mulai dari 14 – 17oz pilihan berat, raw denim, washed denim, bisa kalian dapatkan di Mischief.

Puma 50th Collaborative Project

Puma 50th Collaborative Project

Puma bekerja sama dengan brand skateboard Santa Cruz merilis sepatu terbaru dengan siluet Puma suede classic andalan Puma. bagian upper menggunakan bahan suede hitam dengan kombinasi rubber gum sole merupakan colorway basic dari puma, dari Santa Cruz menambahkan detail embroidered sreaming hand dan desain strip merah yang menggantikan strip khas puma.

santa-cruz-skateboards-puma-suede-50-release-date-price-info-03-1200x800

santa-cruz-skateboards-puma-suede-50-release-date-price-info-08

Sepatu nya bakal dirilis 26 Juli nanti namun buat harga masih to be confirmed, setelah rilis nanti kalian bisa dapetin sepatu ini di Puma store.

Oke jadi gimana menurut kalian kolaborasi Puma x Santa Cruz ini? cop or drop?

 

photo: KicksOnFire.com

“Aesthetic” dengan bentuk baru

“Aesthetic” dengan bentuk baru

Aesthetic, menjadi kata yang sering digunakan kaum milenial untuk berbagai hal; foto, film, desain, seni, dll. Aman nampaknya jika kami nobatkan kaum milenial sekarang adalah generasi yang sangat “nyeni”, Oleh karena untuk memenuhi hasrat estetika remaja-remaja masa kini, kami memberikan sebuah mahakarya estetik dalam bentuk baru yaitu komik,

Yotsuba merupakan sebuah komik yang sebenarnya sudah cukup lama terbit, ber genre “slice of life” yang bercerita keseharian anak kecil yang bernama sama dengan judul komik nya, yang membuat komik ini berbeda dari yang lain nya adalah, hasil gambar nya sangat memperhatikan estetika, mulai dari pemandangan, landscape kota tergambar dengan detail dengan komposisi yang pas membuat kita seperti melihat foto.

Yotsuba.!.600.48831

Baiklah generasi “nyeni” selamat menikmati komik ini, apabila cerita nya kalian rasa kurang menarik setidaknya kalian bisa menikmati hasil gambar nya yang Aesthetic.

 

summer

 

Buat yang penasaran seperti apa komiknya, bisa di cek di link berikut.

Music Goodies – Imogen Heap, Imagine Dragons and Oh Wonder

Music Goodies – Imogen Heap, Imagine Dragons and Oh Wonder

Sudah masuk bulan Mei saja ya, Mazzers. Bagaimana pendapatmu tentang bulan April kemarin? Kalau dilihat kebelakang, (bukan galau yaa..) ternyata ada beberapa lagu asik yang dirilis di bulan April. If you missed the last month’s music moment, just check out the list below! 

Imogen Heap

Menemukan sesuatu yang tidak kita cari pada awalnya, ternyata tidak buruk. Misalnya, ketika sedang browsing lagu, lalu menemukan sebuah lagu dari artis yang sama sekali belum pernah kamu dengar namanya. And surprisingly, lagunya sangat ramah di telinga. Lalu beberapa detik kemudian kamu memutuskan untuk menambahkan lagu tersebut ke dalam playlist.
Tapi ternyata tidak sesederhana itu juga. Sebuah lagu kadang bisa mengingatkan kita dengan lagu lain. Seperti ketika menemukan lagu dari The Japanese House ini, kami jadi langsung teringat dengan lagu Goodnight and Go milik Imogen Heap yang dirilis pada tahun 2005. Dan satu lagi, kami jadi tahu kalau Imogen Heap juga baru saja merilis lagu lho… Mencari, dan menemukan.

Ini lagu milik The Japanese House, ‘Saw You In A Dreams’

Also, take a listen to Goodnight and Go by Imogen Heap

Imagine Dragons
Saat ditanya kapan akan merilis lagu atau album baru, mereka selalu menjawab dengan satu kata, “soon”. Tidak bisa memastikan. “Depends on how soon you think soon is”, katanya. Kadang kami yang menunggu tidak ingin terlalu lama, tapi saat yang ditunggu akhirnya muncul, kami tidak menyangka akan secepat itu.
Akhir Januari lalu, Imagine Dragons merilis sebuah lagu, Believer. Kami pikir ini adalah single pertama untuk album ketiganya. Tetapi pada akhir April, mereka merilis single kedua berjudul Thunder. It came with a really cool artwork. Kemudian di awal Mei, tepatnya tanggal 8 Mei 2017, Imagine Dragons merilis single ‘Whatever It Takes‘ yang juga terdengar menggebu. Tiga lagu yang sangat bersemangat, memberikan kita ‘bocoran’. Akan terdengar seperti apa album ‘Evolve‘ nantinya. Membawa konsep baru yang cukup berbeda dari album sebelumnya.
Soon, album number 3, please?

My personal favorite, Believer.

Ini dia single kedua untuk album Evolve.

The third single!

Oh Wonder
Kami ingat lagu yang kami putar berulang – ulang pada awal 2016 lalu. Sebuah self-titled album dari duo asal Inggris, Oh Wonder. Saya sangat menyukainya hingga memutarnya kapan pun, dimana pun. Butuh waktu selama hampir empat bulan untuk berhenti dan mendapat album lainnya untuk diputar. Cukup lama ya?
Akhir maret lalu Oh Wonder merilis lagu yang menjadi single pertama untuk album keduanya dengan judul yang sama, Ultralife. Disusul dengan Lifetimes pada minggu selanjutnya dan, kemarin, My Friends. Mereka menulis lagu ini ketika sedang menjalani tur, merindukan keluarga dan teman – temannya. Single ketiga ini mengingatakan kami pada lagu Landslide, di album pertamanya yang juga bercerita tentang keluarga dan persahabatan. Play on repeat.

Take a listen to this cheerful song, Ultralife.

This is their latest music, My Friends.

Which is your favorite, Mazzers?

Text/Music Research : @sadidae

Photo : http://www.today.com/popculture/quiz-test-your-imagine-dragons-knowledge-t28496

Our Top Watch List – Horror/Thriller May Day

Our Top Watch List – Horror/Thriller May Day

Apa sih yang membuat kamu suka nonton film bergenre horror/thriller? Film bergenre tersebut memang paling digemari diantara genre film lainnya. Alasannya adalah, karena para penggemarnya memang suka memacu adrenalin mereka dengan menonton film seram. Dari masa ke masa, film bergenre horror/thriller terus berkembang mulai dari segi alur cerita sampai tentunya teknologi berupa efek – efek menakutkan yang digunakan.

Dibawah ini adalah Our Top Watch List untuk kategori film bergenre horror/thriller.

Sinister : 1 & 2 (2012 & 2015)

Film ini adalah gabungan dari genre horror & thriller karena didalamnya ada sosok iblis bernama “Bughuul” atau yang dikenal sebagai Boogieman yang menjadi inisiator untuk pembunuhan antaranggota keluarga. Cara Boogieman membunuh adalah dengan menculik anak bungsu di setiap keluarga yang kemudian dihasut untuk membunuh anggota keluarga yang lain.

Disutradarai oleh Scott Derickson, Sinister & Sinister 2 memiliki konsep yang sama akan tetapi dari sudut pandang yang berbeda. Sinister datang dari sudut pandang kepala keluarga yang diperankan oleh Ethan Hawk, kalau Sinister 2 mengambil sudut pandang dari anak – anak bungsu yang pernah diculik oleh “Bughuul”.

Here’s the trailer for Sinister 1

Aaaand this is the trailer for the sequel :

Don’t Breathe (2016)

Sama halnya dengan film Sinister, Don’t Breathe juga merupakan gabungan dari genre horror & thriller. Sejujurnya, saya bener – bener tidak bernafas ketika adegan – adegan menegangkan dalam film ini. Menurut saya, film Don’t Breathe jauh lebih menegangkan karena Rocky yang diperankan oleh Jane Levy, bersama 2 temannya Alex (Dylan Minnette) dan Money (Daniel Zovatto) harus menghadapi seorang veteran tentara Amerika yang buta (Stephen Lang), namun ia memiliki kemampuan luar biasa untuk menganalisa sekitarnya secara detil. Mereka harus berhadapan dengan veteran tersebut karena mereka terjebak di rumahnya saat melakukan sebuah perampokan. Selain uang, ternyata ada sesuatu yang disembunyikan oleh veteran tentara tersebut dan berhasil ditemukan oleh Rocky dan Alex. Dare to know?

Paranormal Activity (2007)

Untuk film yang satu ini adalah salah satu film horror favorit saya. Bisa dibilang ini adalah film dengan genre horror yang paling realistis. Maksudnya, di film ini benar – benar tidak ditampakkan wujud dari hantu tersebut seperti layaknya film dalam kehidupan sehari – hari. Banyak barang yang berpindah tempat sendiri, terlempar sana sini tanpa kelihatan siapa yang memindahkan dan melempar barang tersebut. Menurut saya, hal misterius ini yang membuat film semakin terasa seram-nya. Adrenalin semakin terpacu ketika scene di malam hari, dimana kita dibuat menunggu – nunggu akan adanya pergerakan dari “si hantu”. After you watch it, if you’re not brave enough, you will stay awake until the sun rise. Personal experience. LOL.

Conjuring 1 & 2 (2013 & 2016)

My favorite one from my favorite Producer, James Wan! Conjuring 1 & 2, sama – sama menceritakan pengalaman sepasang suami istri yang berprofesi sebagai paranormal investigator dalam menangani satu keluarga yang “diganggu” hantu. Dalam film yang pertama, sebuah keluarga (Roger & Caroline Perone) diganggu oleh satu penyihir bernama Bathsebha. Penyihir tersebut memiliki riwayat yang mengerikan, yaitu mengorbankan anaknya sendiri untuk iblis, setelah itu ia bunuh diri. Lebih menyeramkan, Caroline kesurupan arwah Bathsheba yang membuat ia sangat ingin membunuh anaknya sendiri. Everthing was fine until I found a sentence “Based on true story” on the very last part of the movie. Oh, crap.

The sequel is pretty much the same, but different demon. The legendary, Valak. Ini hantu yang awalnya seram, tapi jadi lucu karena banyak yang membuat meme tentang Valak! Well, back to the topic.. Entah kenapa, di sekuel Conjuring kali ini, suasananya terasa jauh lebih seram. Hantu Valak disini digambarkan berpakaian seperti biarawati dengan muka pucat. Keluarga Lutz sebelumnya sempat diganggu oleh hantu lain, namun pada kenyataannya itu hanyalah suatu pengalihan sebelum akhirnya Valak muncul. I got thrilled when Warrens fight so hard against Valak! However, because of the Valak’s fame, James Wan decided to make a spin-off, titled “The Nun” that is scheduled to be released in 2018. Can’t wait!

Insidious : Chapter 1 & 2 (2011 & 2013)

Last but not least, Insidious! For those who follows this movie since the first chapter, must be as excited as i am for the Chapter 4!  Menceritakan tentang Dalton seorang anak yang bisa menjelajahi dunia astral. Akan tetapi, Dalton tersesat dan kemudian terjebak di dunia astral yang dipenuhi arwah – arwah jahat yang ingin mengambil alih tubuh Dalton. Dibantu oleh Elise, seorang paranormal, Josh, ayah Dalton berusaha mati – matian untuk menyelamatkan anaknya.

Biasanya, kalau nonton film horror, pasti kita ketakutan, tapi anehnya untuk Insidious,  malah nangis karena terharu. Despite of the amazing character in each movie, the story line it self it’s touching. It’s about struggle and love inside a family to save their loved one. How sweet is that? Dibalik hantu nenek berpakaian gaun pengantin hitam yang super creepy, hantu iblis merah, hantu kakek – kakek yang sesak nafas dan hantu – hantu lainnya, ternyata film ini cukup membawa pesan yang bagus : Always put family in the first place. 

The sequel is still about Josh’s Family. Kalau di film pertama, Dalton-lah yang terjebak dalam dunia astral, di Chapter 2, ayahnya alias Josh yang terjebak. Kita dibuat terharu lagi oleh perjuangan Dalton dalam menyelamatkan ayahnya.

Kalau kamu penggemar setia dari Insidious, pastinya sangat menunggu – nunggu untuk Insidious : Chapter 4. Sabar ya, Mazzers, kabarnya bakal dirilis di tahun ini kok!

Well, I think that’s all for Our Top Watch List for Horror/Thriller movies. Each movie has it’s own scary ambience that can spur adrenaline.  Mana favorit kamu? Kalau takut, jangan nonton sendirian ya !

 

Photo : http://screencrush.com/sinister-review/

Revisiting Sounds / Part 4 : Beeswax

Revisiting Sounds / Part 4 : Beeswax

Dalam hari-hari kita, pasti ada saat dimana kita ingin mendengarkan musik dengan tema-tema kebimbangan, cinta, angan-angan, yang biasa kita sebut galau. Tapi apakah mendengarkan lagu yang berlirik galau harus dengan irama sedih? Mata berkaca-kaca, tisu bergelatakan dimana-mana. Menurut kami, kalian bisa menikmati kegalauan dengan cara lain mazzers. Meluapkan keseluruhan hidup pada sebuah sing-a-long. Pastikan tetangga tidak terganggu ya.

Beeswax merupakan band asal Malang dengan gaya musik alternative rock/emo yang beranggotakan Bagas [vocal/guitar] Iyok [vocal/guitar] Putra [vocal/bass]
Yayan [drums], mengusung tema tentang percintaan, kebimbangan dalam hidup yang dibalut dengan twinkly dan jangly guitar khas band-band emo 90’s, membuat lagu-lagu mereka tidak terkesan cengeng walau dengan tema lirik galau. Silahkan dengarkan lagunya dibawah, dan selamat menikmati kegalauan kalian tanpa harus terlihat bawah hidup ini penuh “drama” mazzers.

Revisiting Sounds / Part 3 : Santamonica

Revisiting Sounds / Part 3 : Santamonica

Pada tulisan satu ini kita akan sedikit menuju pada opini personal. Maaf karena saya suka sekali band ini. Menurut saya dialah salah satu dari musisi terbaik yang pernah lahir dari kancah musik lokal.

Tahun 2007 mungkin akan menjadi tahun yang berbekas bagi kami. Saya saat itu masih duduk di bangku SMP yang sedang asiknya mencari band-band indie supaya bisa dibilang paling update tentang musik. Pada saat itu, terdapat salah satu acara TV lokal yang membuat review band indie Indonesia. Acara “Dem-o” menjadi salah satu pintu pengetahuan kami akan musik indie saat itu.

Malam itu diputar video klip dari sebuah band, terdengar sangat berbeda dari band-band yang biasa diputar videonya. Musik electro masih jarang pada saat itu. Sedangkan musik ini tidak mudah didengar namun indah. Saya cinta pada pendengaran pertama. Band tersebut adalah Santamonica, duo electro pop pertama yang saya dengar.

Saat ini sudah 2017. Sudah 10 tahun berlalu sejak album Santamonica keluar. Pengetahuan kita pun sudah lebih baik (rasanya begitu) dan ketika mendengarkan kembali Santamonica, kita tersadar betapa hebatnya duo ini. Kepiawaian memainkan piranti musik elektronik dan kemilau neon serta visual di setiap live dan video klip santamonica, membuat kami yakin bahwa Santamonica adalah salah satu musisi terbaik yang pernah lahir di Indonesia.

Our Rap Lit-List

Our Rap Lit-List

Kalau dilihat- lihat, sekarang ini banyak artis Rap yang muncul dan disukai. Kami tidak menutup kemungkinan untuk ikut dalam trend ini, tapi anaknya sedikit pilih pilih. Berikut beberapa pilihan lagu dan artis favorit kami. Siapa tahu sama dengan kamu mazzers!

*PS : Harsh Rap language used. Be wary of yourself.

Ariel Nayaka & Emir Hermono – 3AM In Jakarta

Ada banyak rapper di Indonesia, tapi tidak banyak yang mempunyai kemampuan untuk bernyanyi rap berbahasa Inggris dengan baik. Nayaka adalah salah satunya yang terbaik dengan kemampuan bahasa Inggris diatas rata-rata. Tak hanya itu, flow yang rapat serta berbeda di tiap lagu, serat jangakuan lagu buatannya yang sangat luas rasanya tidak mungkin jika Nayaka tidak masuk kedalam list kita.

Laze – Nothing’s Really Changed (Produced By Riza Rinanto)

Setelah rapper dengan kemampuan bernyanyi dengan bahasa Inggris yang baik. Lanjut dengan pilihan kedua yang paling bisa meramu lirik berbahasa Indonesia yang sangat baik, selain lagu ini pastinya. Percayalah sangat sulit membuat lagu rap dengan lirik Bahasa yang terdengar keren, paling tidak menurut kami. Coba dengarkan lagu-lagu dari Laze jika penasaran bagaimana Laze bermain dengan kata kata.



Rich Chigga – Who That Be

Tak perlu banyak perkenalan untuk rapper satu ini, terkenal lewat video nya di youtube yang awalnya untuk senang-senang lalu dianggap serius oleh dunia karena skill rap yang diatas rata-rata, Dat $tick menjadi “single” pertama untuk rapper muda ajaib ini. Ajaib karena selain menjadi buah bibir, juga menjadi buah untuk mata remaja Indonesia dan dunia di youtube dengan 30 juta views! Wow! Ghostface Killah juga ikut memberikan restu bahwa Rich Chigga rapper yang memumpuni.

RAYI PUTRA – TALK. CHILL. SLEEP.

Walau belum selesai dari RAN, mengeluarkan solo project mungkin jadi pilihan tepat dari Rayi. Lagu Talk, Chill, Sleep ini cukup keren sebagai operan pertama untuk solo project Rayi Putra, beat-beat kekinian dan flow Rayi kami rasa dapat memikat zaman. Tentu kami tidak cuma bicara, ketika bersantai dan tidur menjadi pilihan Rayi. He he.

Agung Hapsah (eevnxx) – Drunk Love (Prod. by Gbrand)

Dikenal dari vlog sampai filmnya dalam dunia yang katanya lebih dari TV, Agung Hapsah. Akhirnya ada youtuber yang membuat musik bagus dan asik. Lirik lafal Inggris ala anak diplomat (kayaknya sih begitu) yang baik. Bukan hanya itu, tapi juga tarikan lirik dan produksi dari Gbrand salah satu rapper muda dengan beragam karya juga menjadi fitur unik lagu Drunk Love. Isinya cocok mazzers, paling kena buat yang pendekatan dengan seseorang yang memiliki pacar. Banyak komentar mengatakan, lagu ini dari Agung untuk vlogger wanita itu. Apakah itu benar? Lagunya asik kok.


Yes that’s it, and it’s lit! Check one by one and please do suggest more to us if you have some ideas of what kind of review that we should do. We will try our best. Peace out!


All courtesy goes to each artist, youtube and God knows we just want to share.

Revisiting Sounds / Part 2 : Sharesprings

Revisiting Sounds / Part 2 : Sharesprings

Awan mulai berwarna hitam, terdengar suara – suara petir bersautan, ribuan air mulai turun layaknya pasukan yang membabi buta, terdengar mengerikan namun kita menikmatinya, yak, musim hujan telah datang.

Disaat musim hujan, hal yang paling menarik bagi kami untuk dilakukan adalah menemukan lagu yang cocok untuk menemami kopi dan rasa malas kami, lagu dengan lirik yang sedikit absurd namun terdengar manis, karena kita tidak mau rasa malas yang nyaman ini berganti galau. Sebuah gigs (konser musik) dibilangan Jakarta selatan belum lama ini mempertemukan kami dengan jawaban dari pertanyaan diatas, gigs mungil namun intim ini mempertemukan kami kembali dengan band yang mempunyai ciri khas baik dari musik dan personil nya sendiri, band yang memuaskan pencarian kami akan lagu yang tepat pada musim hujan versi kami dan band itu adalah Sharesprings.

WhatsApp Image 2016-10-21 at 3.28.06 PM

Awal perkenalan kami dengan band indie pop ini. dimulai dari bangku akhir SMA, disaat kami sedang asik-asik nya mendengarkan musik era 90an. setelah kami mulai bosan dengan playlist luar negeri dari Slowdive, Drop Nineteens, Stone Roses ,Weezer, Softies, Sonic Youth dan lain-lain, kami mulai mencari band lokal, dari sekian banyak band, Sharesprings-lah yang membuat kami jatuh hati, suara sound yang terdengar raw atau ketika mendengar musik yang tidak diedit, gitar yang menyisipkan bagian jangly disetiap lagunya, dan suara vokal yang manis dari sang vokalis wanita, benar-benar band dengan sound yang kami idam-idam kan pada saat itu. Terdengar manis namun tidak lembek khas band pop di tahun 90an.

Ini adalah nostalgia untuk mereka yang mendengarkan pada era nya, dan mungkin bisa jadi awal perkenalan kalian dengan Sharesprings. Menurut kami, cara terbaik untuk membantu band – band Indonesia ini tetap diingat adalah dengan cara mendengarkannya kembali.

Hujan kembali turun, jadi biarkan kami menikmati nya bersama Sharesprings sejenak sembari mengingat saat pertama kali mendengarkan band ini, have a good rainy day mazzers!

Revisiting Sounds / Part 1 : The Sastro

Revisiting Sounds / Part 1 : The Sastro

 

Segala yang sudah terlewat baik tentang apapun itu, pasti sangat menarik untuk ditelisik kembali, mungkin akan menjadi nostalgia untuk mereka yang mengalami nya atau akan menjadi pengetahuan baru untuk mereka yang belum mengetahui nya, dan satu hal yang paling menarik untuk ditelisik atau sekedar mengingat kembali adalah rilisan musik.

Revisiting Sounds merupakan proses, mengunjungi kembali album-album musik yang terbilang menandai era dimana rilisan tersebut pertama kali diluncurkan khusus nya di Indonesia, yaa karena kurang nya pendataan musik di Negara kita sehingga kita perlu mundur kebelakang sejenak untuk mengingat bahwa ada rilisan-rilisan Indonesia yang sangat sangat keren yang tidak boleh kita lupakan.

WhatsApp Image 2016-08-19 at 12.56.37 PM

Pada part pertama ini, di medio tahun 2005 ada sebuah band yang mengusung genre indie pop dengan sentuhan musik progressive, di tahun tersebut bahkan sekarang pun sangat jarang band yang bermain di genre ini, sehingga menurut kami album dari band ini telah meninggalkan jejak tersendiri dalam skena musik lokal untuk para penerusnya, mereka adalah The Sastro, namanya terdengar sangat lokal mungkin, namun coba dengarkan album mereka Vol.1, this one is really rad mazzers!

 

Sampai bertemu di part selanjutnya demi melestarikan musik lokal mazzers!

 

Mari kita simak lagu lari 100 album Vol.1 dari The Sastro



Instagram : @sastro_
Twitter : @thesastroband
Soundcloud : Artkelso