australia

Late Night Eats at Melbourne

Late Night Eats at Melbourne

Malam, yang selalu datang di dalam setiap perjalanan. Jika kamu memulai pagi maka akan berakhir malam. Tetapi tidak selalu begitu. Ada harinya ketika kita bersantai di pagi hari, mungkin menghindari rusuhnya jalanan di pagi hari. Oleh karena itu, hari ini kami menjadi anak malam di negara asing. Melbourne.

P1100574

Dimulai dari mengunjungi restoran kesukaan semua orang, di pinggir sungai. Siapa yang tidak suka makan di pinggir sungai dalam suasana yang nyaman tidak terlalu dingin pada bulan April di Australia? Paling tidak teman teman disini sangat menyukainya. Walau malam, tetapi tetap ramai.

Di sekitar South Wharf, perpanjangan dari Southbank dan masih merupakan satu rezim dari sekitar sungai Yarra. Kami mengenal Munich Brauhaus, dari namanya saja sudah sangat Jerman. Sebenarnya mengunjungi teman saja disini, tapi jadinya lihat lihat. Resto ini sangat luas, bisa mencakup sampai 3000 pengunjung. Ruang makan ada 4 area, di setiap area punya karakter masing masing. Ada yang dilengkapi stage, ada ruang setengah berdiri atau meja tinggi dan ruang makan meja formal di atas dan outdoor area. Lengkap untuk semua keluarga, saya rasa.

P1100587

P1100592

P1100591

Selain itu, South Wharf dan sekitar Yarra River memang terkenal dengan beberapa bar dan lounge yang menarik untuk dikunjungi. Melbourne Public Bar, selalu ramai di kala weekend dengan DJ dan penampilan live dari musik lokal (buat kita internasional sih). Plus 5, satu lounge yang menarik karena selalu mengajak untuk undang banyak orang jangan cuma sendiri (oke karena kita tidak sampai lima, kita di depan saja).

Masih banyak tempat bercengkrama malam yang menarik untuk dikunjungi setiap malam. Tidak cukup untuk satu malam berada di lingkungan ini. Beberapa teman berkata, saking Melbourne terkenal dengan kulinernya, banyak resto dan lounge yang tutup dan berganti pemilik semudah menjentikan jari setiap bulannya. Wow, what a challenge that is !

P1100588

P1100580

P1100579

P1100583

Bercerita banyak hal membuat kita yang tadinya jalan- jalan menjadi lapar di saat jalan pulang. Maka, kami berhenti di salah satu gerai masakan Cina yang yaa… terlihat biasa saja seperti gerai yang sering kita temui di Jakarta dengan gantungan daging di depannya. Hanya, bedanya disini tidak digantung. Tapi ya kurang lebih seperti itulah. Tetapi, karena ini adalah rekomendasi dari teman kami, hayuklah kita masuk dan coba apapun yang menanti disini.

Rose Garden. Itulah namanya. It was not rose kind of smell, but smells like oyster sauce, 5 spice melts with dishes, soy sauce and eggs on a pan kinda smell that sings in our garden. Ya, ini sangat menarik hidung kami. Menu, sangat sederhana. Nasi dengan telur dan ayam, atau nasi dengan daging, atau nasi dengan sayuran selayaknya di negara Asia yang mendewakan nasi. Pesanlah kami beberapa macam, dan ternyata enak! Enak! Enaaaaak! Kalau kamu percaya makanan dengan MSG itu enak, ini punya kadar MSG yang cukup di dalam hidup. Porsi, adalah hal yang lain. Banyak! Banyak! Mungkin kalau tidak selapar ini, saya tidak bisa menghabiskan satu porsi dan berakhir untuk makan pagi di esok hari.

DSC02464

DSC02461

DSC02459

DSC02457

Oke sudah lumayan banyak untuk cerita kali ini. Malam hari di Melbourne tentu punya lebih banyak lagi petualangan dibandingkan yang saya lakukan. Kapan kamu kesini mazzers?

Letakan Pundak di Melbourne Central

Letakan Pundak di Melbourne Central

Berada di kota pasti ada selanya. Ketika sedang bosan, kafe atau taman menjadi pilihan wajar untuk keluar dan menikmati hari yang lebih tenang. Untuk kami, menulis dan menemukan sesuatu yang asik untuk ditulis adalah guna dari sela setiap kota. Makanya, ketika ada di kota Melbourne harus juga mencari tempat beradu sela.

Shopping mall is one of the choice when you got into this city. Namanya memang wajar wajar saja. Seperti di Indonesia, Melbourne juga memiliki mal tempat belanja. Bedanya adalah di kota ini lebih banyak tempat makan dan bersenda gurau dibandingkan tempat untuk membeli barang. Jasa adalah suatu hal yang suci di tempat ini. Queen Victoria Village adalah salah satu tempat yang kami kunjungi untuk mencari sela. Hey, tempat duduk di rumput buatan adalah keasikan yang ditemukan di tempat ini. Bukan untuk futsal, sesimpel untuk duduk dan membuka makanan atau menyeruput kopi saja. Truly a soothing place, isn’t it?

DSC02170

DSC02171

Selain QV, salah satu tempat untuk menyendiri juga ada di dekat stasiun ramai di Central Melbourne. Flinders Station and Federation Square are two of the most popular relationship that we had. Kalau mau ke luar kota dengan kereta, Flinders station jawabannya. Ketika ingin menyendiri atau sekedar ngobrol tanpa harus keluar uang dan meluruskan kaki di Federation Square tepat di seberang St Paul’s Cathedral (sempet masuk foto lalu keluar lagi, padahal ga boleh foto). Disini ada yang jual es krim, bisa duduk di kursi kursi depan ACMI (yang juga menarik tapi nanti aja ceritanya). Tidak lupa juga ada kawanan merpati kadang ikut cari makan disini. Seru dan santai.

DSC02238

DSC02281

DSC02239

Mari kita lanjutkan perjalanan. Stay healthy and explore more mazzers.

Touchdown at Melbourne

Touchdown at Melbourne

Memulai perjalanan menuju ke Melbourne, tanah Australia yang kata teman teman saya “The Most Liveable City in Australia”. Okeh, mari kita buktikan. Melipirlah kami ke bandara dan terbang dengan penerbangan ala ke luar negeri. Ya, memang menuju luar negeri sih. To us, overnight flight is the best choice for budget savers. Of course, we are saving to more great things that will happen in Melbourne, hopefully. Spesialnya dari terbang malam hari adalah, sampai di tujuan pagi! Mendapatkan pemandangan udara tanpa kabut asap dan horizon yang membelah dua warna tidak terjadi setiap hari di Jakarta. Walaupun Australia terlihat dekat, tapi kesini memakan waktu 8 jam. Ditambah terbang malam hari, tidur nyenyak dengan bantal tambahan merupakan sebuah momen yang patut dilupakan. Karena kami tidur. He. Tapi, bangun di saat yang tepat.

IMG_5993

IMG_5793

Here we come, Melbourne. Skip the boring part as packing out and so on, we managed to find one thing that we need. Coffee, speciality coffee. Disini hampir tidak ada kopi wanita hijau (we’ve said this before, I guess), karena sebagian besar memiliki kemampuan untuk mengolah dan mencari kopinya masing masing menjadi sesuatu yang spesial. Pour over coffee, espresso machines, and a lot of styles of making coffee with each complexity of taste and aroma kept this city cool phase. Selain itu, makanan juga menjadi satu hal yang menyenangkan di sini, bisa dilihat di artikel kami tentang makan minum di Melbourne di sini. Maklum kami turis di kota baru ini jadi semua perlu diabadikan, yeah.

IMG_5427

IMG_5428

IMG_5429

IMG_5434

Di luar itu, terdapat banyak spot menarik yang akan memiliki visual yang berbeda di setiap periodenya. Beberapa yang kami temui adalah seperti tempat semua kereta bertemu, yaitu Melbourne Central. Bangunan yang terlihat tua ini adalah satu bagian yang dilindungi sebagai spot penting di Melbourne secara sejarah. Di bagian depannya terdapat banyak graffiti artist yang berkerja dan membuat lukisan lukisan asik dari film film terkenal seperti Avengers.

IMG_5843

IMG_5872

DSC02138

Perpanjangan Garis Kuliner Asia di Melbourne Central

Perpanjangan Garis Kuliner Asia di Melbourne Central

Hai, hari tidak akan berlalu dengan baik jika makanan yang kamu makan selalu itu itu saja. Selama berapa lama kamu bisa tahan hanya makan tempe, tahu dan sup? Satu tahun? 6 bulan? apa satu minggu saja sudah bosan? Itulah sebabnya manusia, seperti aku, kamu, keluarga kita mencari menu makanan baru setiap hari. Eh, nyatanya kami punya beberapa inspirasi untuk makan di luar negeri. Negara yang mempunyai kategori “liveable country” menurut teman teman Indonesia yang tinggal disana. Melbourne.

DSC02318

Satu hal yang membuat Melbourne tempat yang dapat selalu ditinggali orang Indonesia. Karena banyak makanan Asia disini. Benar. Sangat banyak. Sebanyak apa? sampai masuk ke lantai bawah tanah atau basement pun, resto Asia juga. Gami, sebenarnya ada dimana mana sekitar Melbourne. Chicken and beer culture from Korea. Memang benar enak ayamnya, walau ayam goreng saja lho. Apalagi yang dilapisi dengan saus gochujang .

DSC02317

DSC02313

Melengos lagi ke tempat tujuan lain, berdasarkan rekomendasi salah satu chef teman kami. Chin chin, satu restoran Asian Fusion yang memiliki spesialisasi di Chinese food. Jangan salah, karena bukan selalu Chinese food berhubungan dengan mangkok dan meja bundar. Fine dining experience with mouth watering crispy meat, strong herbs and seasoning, raw-like-sushi fishes and good wines. That’s how we explain our experience.

DSC02230

DSC02224

DSC02223

Tidak lupa sebagai kota dimana kopi-wanita-hijau-lingkaran tidak laku, Melbourne memiliki speciality coffee shop di setiap gangnya. Salah satu yang bikin kami berputar putar mencari adalah Monk Bodhi Dharma. Tempat ini penuh dengan menu vegetarian, tapi tetap kopinya… wuih. Kebetulan salah satu barista yang melayani kami, katanya salah satu yang menang kompetisi. We’d like some large cap please (cap = cappucinno). Share you more about Melbourne later, mazzers!

DSC02375

DSC02383

DSC02377

DSC02379

DSC02380

Photo : @sevencrow