culture

Mempelajari budaya Tiongkok di Barat Jakarta

Mempelajari budaya Tiongkok di Barat Jakarta

Sabtu lalu, kami menyusuri daerah Jakarta Barat, tepatnya di Kota Tua. Ada beberapa lokasi yang menarik untuk dikunjungi bagi kalian yang ingin merasakan sensasi Chinatown di Jakarta.

40151264102_ac50934439_k

Pertama, kami menghampiri Pancoran Tea House. Kata Pancoran sendiri berasal dari kata Pancuran Air, karena dulu terdapat sumber mata air di daerah ini. Disini, teman – teman dapat menikmati teh yang disediakan secara gratis. Tradisi minum teh disini disebut juga, patekoan atau 8 teko. Karena disini terdapat 4 teko yang berisi teh tawar dan 4 teko lainnya berisi teh manis. Teh yang tersedia disini dapat dinikmati dari pukul 8 pagi hingga 7 malam setiap harinya dan bebas untuk siapa saja yang ingin meminum nya.

26311389208_fbe8c6e5a2_k

39286203105_ad9541629c_k

Kemudian kami menuju Vihara Dharma Bakti. Vihara yang didirikan pada tahun 1650 merupakan Vihara yang memiliki banyak sejarah, salah satunya peristiwa Geger Pecinan yang terjadi pada tahun 1740. Ada banyak masyarakat keturunan tionghoa yang terbakar pada peristiwa tersebut karena hubungan antara pengusaha Belanda dan Cina kala itu tidak akur.

26311186028_2a7b742d0d_k

P1380681

P1380687

Terakhir, kami mengunjungi beberapa pasar yang berada di daerah petak 9. Diluar Gang, banyak pedagang yang menjual pernak – pernik untuk menyambut Imlek seperti; gantungan, lampu lampu kecil, baju cheongsam, angpao hingga lampion. Sedangkan di bagian dalam, terdapat jajanan dan makanan berat khas Tionghoa yang bisa kalian coba.

P1380697

P1380668

Jadi, untuk liburan Imlek kali ini kalian mau jalan – jalan kemana Mazzers?

Photo : Desy Rufaida & Reza Ibrahim

Text : Nurul Rachmadini

Menjadi “Anak“ Wae Rebo

Menjadi “Anak“ Wae Rebo

Menilik persyaratannya, untuk menjadi “anak” Wae Rebo sebetulnya tidak sulit. Desa kecil ini ibarat tangan terbuka, selalu menyambut para pengunjungnya sebagai anak-anak Wae Rebo yang baru kembali dari tanah rantau.

Syaratnya hanya satu, restu dari leluhur yang didapatkan dengan mengikuti upacara penghormatan leluhur atau disebut Waelu’u selama lima hingga sepuluh menit di salah satu rumah Mbaru Niang bernama Niang Gendang. Dalam upacara tersebut tetua adat akan memintakan restu leluhur dan mendoakan setiap pengunjung dalam bahasa setempat. Selepas upacara, persis ketika keluar dari Niang Gendang, kita sudah menjadi “anak” Wae Rebo. Walaupun terkesan sederhana, upacara penerimaan ini begitu penting dan wajib.

6a

Untuk menjadi “anak” Wae Rebo yang sesungguhnya, mengenal sejarah desa ini menjadi suatu keharusan. Dalam buku “Pesan Dari Wae Rebo” oleh Yori Antar, dikisahkan bahwa penduduk Wae Rebo adalah keturunan Empo Maro, pelaut asal Minangkabau yang berlayar bersama keluarganya hingga ke pulau Flores dan menetap di berbagai desa di Manggarai. Setelah lama berpindah-pindah karena berbagai sebab –salah satunya mengikuti arahan rubah, Empo Maro akhirnya mendapat ilham untuk pindah ke sebuah wilayah di timur, menetap di desa tersebut dan memberi nama “Wae Rebo”. Seperti leluhurnya, penduduk Wae Rebo keturunan Empo Maro ini dipercaya sebagai orang-orang yang ahli berkebun dan berburu. Terbukti bahwa berkebun adalah mata pencaharian utama penduduk Wae Rebo dengan menghasilkan kopi, jeruk, sirih, markisa, jahe, dan temulawak. Sedangkan para wanitanya menenun kain Cura.

1b

Saya lalu mencoba sudut pandang berbeda yaitu dengan mengamati anak-anak Wae Rebo yang begitu asyik bermain di alam terbuka, spontan membuat saya gembira karena teringat adegan-adegan film Laskar Pelangi. Namun segala keseruan berakhir ketika hari sudah gelap, ketika semua harus masuk rumah sebab keluar di malam hari tanpa penerangan bisa beresiko bahaya. Bagi anak-anak Wae Rebo masa kecil ialah suatu tempo kehidupan yang singkat, sesingkat pagi berganti malam. Menginjak usia sekolah, anak-anak ini harus merantau ke desa tetangga atas tuntutan literasi dan pendidikan. Sekolah Dasar paling dekat terletak tiga jam berjalan kaki turun gunung ditambah empat jam untuk kembali naik. Melanjutkan ke sekolah menengah berarti harus merantau lebih jauh lagi, kalau perlu sampai ke Ruteng.

4a

Photo & Text : Nur Fadilah

Proses Takjub Kuliner ala Jepang

Proses Takjub Kuliner ala Jepang

Mungkin ini tergantung selera masing-masing. Tapi bagi saya, Jepang adalah surga di bumi untuk perut saya. Dari restoran dengan antrian panjang sampai toko serba ada, Jepang bisa membuat perut saya tampak lebih buruk dari yang sudah ada (alias gend*t). Jadi di sinilah beberapa makanan yang menakjubkan saat perjalanan terakhir saya ke Jepang.

Pertama adalah ramen ikan Ayu. Seperti namanya, ramen ini disajikan dengan ikan ayu panggang, semacam Sweetfish, rumput laut kering atau nori, diparut lobak daikon dengan tambahan topping telur. Apa yang saya suka dengan ramen ini adalah rasanya berbeda dari ramen dengan rasa berat pada umumnya. Rasa kaldunya ringan dan segar, tidak terlalu asin tapi sedikit manis. Saya benar-benar merasa bisa makan dua porsi ramen itu. Selain ramen, mereka juga menjual onigiri panggang atau nasi dengan topping ikan ayu. Saya tidak mencoba tapi jelas terlihat lezat!

Ramen Ayu dapat dibilang sebagai restoran tradisional karena tokonya adalah bisnis jangka panjang keluarga. Restoran ini sangat kecil dengan hanya tujuh meja dan kursi yang dijalankan hanya dengan dua orang. Menunya ditulis dalam bahasa Jepang. Saya pergi ke sana dengan seorang teman yang cukup fasih berbahasa Jepang jadi entahlah, saya tidak tahu apakah dua orang di resto ini bisa mengerti bahasa Inggris.

Japan4

Japan3

Makanan kedua dalam daftar adalah jenis campuran seafood yang disajikan di atas cangkang kerang di pasar ikan Tsukiji. Saya lupa namanya seperti yang tertulis dalam bahasa Jepang dan saya juga tidak mengambil gambar dari toko tersebut. Jika kamu ke pasar ikan Tsukiji, kamu akan mengetahui bagaimana keramaiannya dan bagaimana hampir setiap toko memiliki antrian yang sangat panjang. Untungnya pada saat itu, yang satu ini tidak. Melihat seorang paman tua membakar makanan laut dengan obor, saya memberitahu teman saya untuk mencobanya. Di antara seafood, ada tuna, kerang, kerang, kepiting, mentaiko dan Shirako atau Milt ikan.

Japan6

Japan5

Terakhir, jelaslah dessert!. Salah satu dari banyak manisan yang terkenal di Jepang adalah pancake, untuk beberapa alasan. Saya pernah mengacak google dan menemukan sebuah website yang hanya mencatatatkan berbagai tempat untuk makan pancake di Jepang. Menakjubkan bukan? tempat ini direkomendasikan oleh teman saya yang kebetulan melihat ulasannya di televisi.

Kafe mewah disebut David Myers, salah satu chef-nya memenangkan penghargaan. Tempatnya terletak di dalam Mitsukoshi Department Store di Ginza, Tokyo. Saya pergi ke sana setelah waktu makan siang tapi saya masih cukup kenyang dan harus menunggu beberapa menit untuk mendapatkan meja. Sebagai tempat berada di area metropolitan, memiliki menu bahasa Inggris dan pelayan juga mampu berbahasa Inggris. Jadi, benar-benar tidak ada kekhawatiran bagi orang asing yang tidak bisa berbahasa Jepang!

Lupa nama pancake-nya, tapi menunya memiliki gambar makanan sehingga seharusnya tidak sulit untuk membuat pesanan. pancake datang dalam piring panjang dan itu benar-benar tidak terlihat seperti yang biasa. Daripada ditumpuk, hanya ada satu putaran pancake tebal yang hampir seperti donat tanpa lubang. Banyak pilihan topping seperti berbagai jenis buah, karamel almond, pecan, es krim dan krim hazelnut di atas.

Japan7


photo / text : Emerentiana Yuan

Peradaban Luhur di Haribaan Ancala Manggarai

Peradaban Luhur di Haribaan Ancala Manggarai

Menyebut “Wae Rebo” bahkan kepada sesama kawan Indonesia, seringkali harus disertai dengan keterangan tentang dimana lokasinya ataupun penggambaran deskriptif tentang seperti apa wujudnya. Karena letaknya di ketinggian ancala, saya pun mengasosiasikan Wae Rebo sebagai Machu Picchu-nya Indonesia dengan pengecualian Wae Rebo bukan kota mati namun sebaliknya begitu hidup dengan denyut nadi yang kuat. Sebetulnya saya berharap tidak menggunakan asosiasi ini lagi dalam waktu dekat, karena Wae Rebo sejatinya tidak tergantikan.

7B

Wae Rebo menjadi begitu istimewa karena Mbaru Niang, karya otentik arsitektur rumah tradisional yang diwariskan Empo Maro sang leluhur setempat dan diteruskan oleh para keturunannya. Mbaru Niang di Wae Rebo berjumlah tujuh buah, satu sama lainnya terlihat identik dalam bentuk dan ukuran berupa rumah beratap kerucut besar terbuat dari ijuk. Sebuah Mbaru Niang yang terletak di tengah berukuran sedikit lebih besar dengan tinggi dan diameter 15 meter sedangkan enam lainnya memiliki tinggi dan diameter 11 meter. Di Mbaru Niang yang bernama Niang Gendang atau Mbaru Tembong itulah tempat para tetua adat Wae Rebo berkumpul dan melaksanakan berbagai upacara adat.

7A

Mbaru Niang di Wae Rebo merupakan situs penting bagi para arsitek baik dalam negeri maupun luar negeri. Keunikan dan kekhasan Mbaru Niang berhasil menarik perhatian kalangan ini, diantaranya struktur rumah yang tidak berdinding dengan atap memanjang sampai melampaui lantai yang berbentuk panggung. Atap tersebut terbuat dari kerangka bambu sedangkan untuk penyangga setiap Mbaru Niang digunakan sembilan tiang kayu. Bambu dan kayu-kayu tersebut diikat satu sama lain memakai rotan. Masing-masing Mbaru Niang dihuni bersama oleh delapan kepala keluarga yang saling berbagi satu-satunya ruangan. Saya begitu bahagia karena ada satu Mbaru Niang disebut Niang Gena Maro yang diperuntukkan untuk para wisatawan. Sebagaimana warga asli Wae Rebo, kami berbagi satu ruangan yang sama, tidur berjejer melingkari setengah Mbaru Niang, juga duduk melingkar setiap kali akan makan.

4A

 

4B

Wae Rebo sebagai peradaban di ancala Manggarai ini sungguh mampu memikat hati siapa saja. Kompleks rumah tradisional Mbaru Niang ditata begitu apik membentuk setengah lingkaran, menyisakan halaman tengah yang luas pada puncak gunung yang datar. Di belakangnya, punggung pegunungan yang lebih tinggi melatari seolah-olah menjadi pagar yang memisahkan Wae Rebo dari kehidupan dunia luar. Di atasnya, langit rendah menaungi dengan sesekali membentangkan selimut awan tipis.

7C

Pesona Wae Rebo pun tidak seketika luruh tatkala matahari terbenam. Suasana malam di Wae Rebo tidak kalah memukau, dengan langit biru gelap dibayangi siluet pegunungan dan atap-atap rumah yang menjulang ditambah taburan bintang yang bersinar terang tanpa berkompetisi dengan cahaya lain. Di ketinggian 1.200 mdpl, Wae Rebo seperti asyik sendiri, mengabaikan dunia yang terus bergejolak, hidup dalam tuntutannya sendiri. Bahkan waktu pun seakan berjalan lambat disini. Para tamu yang ingin berkunjung pun harus bersedia melepaskan ego modernisme untuk digadaikan dengan rasa syukur akan kedamaian, kesederhanaan dan kecukupan di peradaban Wae Rebo.

2

Photo/Text : @nfadilah.xi

 

 

Lunar Love, Tahun Baru Penuh Cinta

Lunar Love, Tahun Baru Penuh Cinta

Screen Shot 2016-02-02 at 6.52.40 PM

Tahun baru Cina dan hari valentine tahun ini jatuh di bulan yang sama dan tanggal yang cukup berdekatan. Karenanya HYPE ID mengadakan sebuah event bazaar bernama “LUNAR LOVE” yang diselenggarakan di Pantai Indah kapuk (PIK) pada tanggal 29-31 Januari 2016. Lebih dari 200 tenant ikut serta meramaikan event LUNAR LOVE, dari mulai lokal brand fashion hingga food & beverages tenant. Banyak barang-barang menarik yang bisa mazzers dapatkan loh di LUNAR LOVE, selain baju baru untuk tahun baru – pastinya referensi kado untuk diberikan pada orang tersayang di hari penuh cinta nanti. Tenant F&B di LUNAR LOVE juga patut dicoba karena menghidangkan jajanan kaum urban yang rasanya enak.

Screen Shot 2016-02-02 at 5.52.22 PM

Screen Shot 2016-02-02 at 5.51.37 PM

Selain bazaar fashion dan F&B, ada penampilan akustik musik dari band yang meramaikan suasana di LUNAR LOVE. Selain itu ada pula pertunjukan barongsai yang sangat khas sekali dalam perayaan imlek. Gak cuma penampilan hiburan saja, LUNAR LOVE mengadakan eating competition yang disponsori oleh Telor Kancit dan juga berbagai macam workshop yang bisa diikuti oleh para pengunjung bazaar.

Screen Shot 2016-02-02 at 5.45.17 PM

Screen Shot 2016-02-02 at 5.46.19 PM

Apa coba hal menarik lainnya yang ada di LUNAR LOVE bazaar 2016 ini? Adanya “lucky angpao” dan berbagai surprise bagi pengunjung yang berbelanja membuat event ini semakin banyak dikunjungi oleh para pengunjung dari berbagai daerah. Belum lagi berbagai kegiatan workshop yang bisa diikuti oelh pengunjung dari berbagai usia.

Screen Shot 2016-02-02 at 5.45.54 PM

Screen Shot 2016-02-02 at 5.51.23 PM

HYPE ID selalu mengusung konsep yang menarik disetiap eventnya. Kalau kalian datang bersama keluarga, atau teman, bahkan pacar, semua pasti bisa menikmati kemeriahan event mereka. Sayang banget yah kalau Mazzers ketinggalan LUNAR LOVE bazaar tahun ini, tapi jangan khawatir! HYPE ID masih punya banyak acara bazaar untuk kamu datangi.

Screen Shot 2016-02-02 at 5.44.59 PM

Screen Shot 2016-02-02 at 5.43.54 PM

 

photo : @hype.id

S e l a n g [sepekanpulang] – Nusa Tenggara To Maumere , Flores

S e l a n g [sepekanpulang] – Nusa Tenggara To Maumere , Flores

Tentang esensi hari terakhir rangkaian perjalanan sepekanpulang. Dalam euforia yang agak melankolis, (anti) memabukkan. Dua belas jam yang kekal berkelok di sepanjang “adimarga” Flores jalur Ruteng- Maumere.

Saya, si “pemabuk” yang payah ini, sukses bertahan tanpa tidur dan tidak sedikit pun merasa mual, tidak juga nyeri kepala. Mungkin, ini efek “rindu setengah mati”. Atau sepertinya, saya telah berhasil mencapai standar derajat sinkron tertentu sehingga kompatibel dengan yang namanya perjalanan darat overland. Bisa jadi. Yang jelas, saya berhasil survived dari hagemoni kerinduan dan mengubahnya menjadi kekuatan positif yang membesarkan hati. Saya masih sabar mengikuti permainan waktu, berkendara berjam-jam lagi untuk sampai ke rumah, kembali ke pelukan ibu, nanti malam!

Saya akan mengulang perjalanan ini dengan total overland via darat dari Jakarta-Malang-Bali-Lombok-Labuan Bajo-Maumere dengan destinasi utama di Labuhan Bajo (Pulau Komodo, Rinca, Padar dan Kenawa)! Saya tidak berniat solo lagi! 😀 Jadi, bagi siapapun yang butuh teman perjalanan dalam rute tersebut pada akhir Januari hingga awal Februari 2016, saya akan dengan senang hati berbagi perjalanan #sepekanpulang_II ^^

Terima kasih banyak untuk yang sudah mengikuti rangkaian cerita sepekanpulang ini!

Project from @f.flaurndhia
Wait for more to come, or simply goes here

Editorial : @sadidae

Disciple of Dance : The Blossoms of Ballet

Disciple of Dance : The Blossoms of Ballet

Ballet adalah sebuah seni olah tubuh yang dipadu dengan musik membentuk sebuah tarian yang mengedepankan keanggunan dan teknikalitas yang tinggi. Ballet sendiri di cipatakan di Italia pada abad ke 15 renaisans dan menjadi populer hingga sekarang.

Balet_GKJ_jaws_03

Di Indonesia sendiri banyak sekali berkembang studio-studio ballet yang tentunya memiliki banyak siswa dan banyak pula yang melanjutkan menjadi ballerina profesional. Salah satunya Studio Ballet Yumiko , Bogor Jawa Barat. Setiap dua tahun Studio Ballet Yumiko menyelenggarakan pagelaran amal untuk disumbangkan ke Yayasan Pengembangan Anak Istimewa Indriya yang juga berada di Bogor.  Event yang dimeriahkan oleh para ballerina dari Studio Ballet Yumiko ini juga semakin mantap dengan kehadiran empat ballerina profesional dari Jepang: Mami Mori, Megumi Matsuoka, Saori Nagata, Yuma Miki.

Balet_GKJ_jaws_04

Balet_GKJ_jaws_02

Sebuah pertunjukkan spektakuler pastinya membutuhkan banyak persiapan dan latihan demi latihan demi performa yang maksimal. Kali ini, tim mazzeup diberi kesempatan untuk dapat melihat secara langsung kegiatan dibalik layar yang pastinya jarang sekali bisa disaksikan dalam sebuah pertunjukkan. And we are about to share our chills while watching.. ready?
 

Balet_GKJ_jaws_00

Balet_GKJ_jaws_05

Text : @chazky
Photo : @jawswatulingas
Video : @sevencrow

 

S e l a n g [sepekanpulang] – A State of Peace #Ruteng

S e l a n g [sepekanpulang] – A State of Peace #Ruteng

Pertama kali saya melihat Wae Rebo adalah melalui foto-foto di penelusuran gambar Google ketika mencari informasi destinasi wisata kota Ruteng. Dikuasai perasaan subyektif, saya menyematkan gelar pada Wae Rebo, sebagai “Macchu Picchu-nya Indonesia”. 

Ketika menghabiskan dua hari satu malam di Negeri Atas Awan itu, hidup seperti penduduk lokal, saya merasakan suka-duka mereka. Kedekatan yang tenteram dengan alam memang merupakan kebahagiaan terbesar. Terlebih, saya salut dengan keharmonisan masyarakatnya. Mereka memiliki hunian yang sama, tujuh buah rumah Mbaru Niang yang persis seragam, masing-masingnya dihuni bersama-sama oleh 6 hingga 8 keluarga. Mereka juga punya mata pencaharian dan sumber daya yang sama, berupa lahan-lahan perkebunan kopi dan kayu manis. Bahkan, halaman rumah mereka adalah satu bidang datar yang sama di tengah-tengah desa, digunakan untuk menjemur kopi pada siang hari dan sore harinya untuk tempat berkumpul serta dijadikan lapangan bermain bola oleh anak-anak Wae Rebo. 

Walaupun tempat tinggalnya jauh di dalam hutan di puncak bukit, saya yakin mereka bukan ingin mengasingkan diri. Keluarga besar Wae Rebo terlahir dengan sifat dermawan. Prinsip hidupnya adalah untuk berbagi bukan hanya diantara mereka sendiri, tapi juga dengan generasi sebelumnya dan generasi masa depan, bahkan dengan para tamu yang datang!

Namun anehnya, saya masih saja khawatir dengan listrik yang cuma ada pada malam hari, takut tidak bisa mengecas baterai kamera. Selain itu . . . Empat jam naik dan empat jam turun, itu bukan waktu yang sedikit untuk berjalan kaki dengan medan hutan berjurang-jurang, membawa turun hasil kebun lalu membawa naik berkilo-kilo beras, pakaian, solar dan kebutuhan lainnya. Lalu, tentang anak-anak yang sudah harus merantau keluar desa di usia sekolah dasar, hanya pulang saat akhir pekan atau bahkan menunggu hingga akhir semester. Bayangkan saja, rindu yang harus mereka tahan untuk sekedar bercerita pengalaman sekolah sehari-hari kepada ayah, ibu dan keluarga. 

Karena itu semua, saya berhasil untuk tidak merasa cemburu pada intimasi bumi dan manusia di tanah ini. Satu-satunya yang saya rasakan adalah kepuasan yang penuh syukur. Terima kasih, Wae Rebo, untuk pembelajaran hidup yang memanusiakan!

Saya akan mengulang perjalanan ini dengan total overland via darat dari Jakarta-Malang-Bali-Lombok-Labuan Bajo-Maumere dengan destinasi utama di Labuhan Bajo (Pulau Komodo, Rinca, Padar dan Kenawa)! Saya tidak berniat solo lagi! 😀 Jadi, bagi siapapun yang butuh teman perjalanan dalam rute tersebut pada akhir Januari hingga awal Februari 2016, saya akan dengan senang hati berbagi perjalanan #sepekanpulang_II ^^

Terima kasih banyak untuk yang sudah mengikuti rangkaian cerita sepekanpulang ini!

Project from @f.flaurndhia
Wait for more to come, or simply goes here

Editorial : @sadidae

Rumah Apung Bontang Kuala

Rumah Apung Bontang Kuala

Air mampu menenggelamkan manusia, tumbuhan, bahkan rumah, hal berbeda justru ada di Bontang, Kalimantan Timur. Siapa yang menyangka air laut mampu menopang rumah warga dan bahkan menjadi sumber kehidupan. Tak hanya itu, wilayah ini bahkan menjadi tempat wisata khas Bontang.

DSC02914

P1010092

Bontang Kuala, adalah nama dari tempat ini. Kita bisa mengelilingi kawasan ini dengan kendaraaan kita, tapi harus berhati – hati saat melewati jembatan yang dikelilingi air laut. Jembatannya terbuat dari kayu ulin yang termasuk pohon langka dan sangat mahal. Tak perlu khawatir dengan kualitas kayunya, karena semakin lama kayu ulin, semakin kuat pula ia

DSC02907

Saat memasuki kawasan Bontang Kuala ini, bau laut sangat mendominasi karena warga menjemur ikan agar bisa dijual kembali. Banyak tempat makan berjejeran disini, diarungi oleh desiran air dan ombak rendah. Dari emperan hingga restoran megah diatas kapal.

P1010103

P1010104

Copy (2) of P1010039

Text/Photo : @jejejeinan

S e l a n g [sepekanpulang] – A Sunset from Waringin

S e l a n g [sepekanpulang] – A Sunset from Waringin

Saya kembali tiba untuk kedua kalinya di Labuhan Bajo, pada waktu yang sama: petang hari. Tidak mengapa. Saya toh senang menjadi akrab dengan petang.

Pakaian belum sempuna mengering dan kecapan masih terasa asin selepas tadi siang snorkeling di Pink Beach dan Manta Point. Seketika terlintas di benak, pesan seorang kakak pengelana yang merekomendasikan sunset di Puncak Waringin. Tanpa terlebih dulu mampir ke penginapan, saya jalan kaki lewat gang-gang kecil di perumahan warga, mendaki hingga tiba di sebuah jalan raya yang ramai.

Saya memutar badan, langsung disilaukan oleh matahari yang bersiap terbenam. Luar biasa! Senja dalam busana terbaiknya, jingga!

Saya akan mengulang perjalanan ini dengan total overland via darat dari Jakarta-Malang-Bali-Lombok-Labuan Bajo-Maumere dengan destinasi utama di Labuhan Bajo (Pulau Komodo, Rinca, Padar dan Kenawa)! Saya tidak berniat solo lagi! 😀 Jadi, bagi siapapun yang butuh teman perjalanan dalam rute tersebut pada akhir Januari hingga awal Februari 2016, saya akan dengan senang hati berbagi perjalanan #sepekanpulang_II ^^

Terima kasih banyak untuk yang sudah mengikuti rangkaian cerita sepekanpulang ini!

Project from @f.flaurndhia
Wait for more to come, or simply goes here

Editorial : @sadidae

The Hype of Christmas

The Hype of Christmas

Christmassssss mazzerssss! (kemarin itu sih). Perayaan yang dilakukan juga bisa beragam, mulai dari makan malam bersama orang-orang terkasih, tukar kado dengan sahabat atau bahkan mengadakan kegiatan sosial bersama teman-teman sekelas. Nah! Berikut ini adalah event seru dalam memeriahkan christmas yang diadakan oleh Hype.id di dua area besar di Jakarta yaitu di PIK dan Lippo Mall Puri. Sebuah festival yang diadakan setiap tahun dengan konsep yang selalu berbeda-beda.

P1080270

DSC_8763

Tema yang diusung dalam dua event kali ini adalah Tropical Chrismas di Lippo Mall Puri dan Christmas Story untuk event di PIK. Keduanya sukses diselenggarakan dengan diikuti oleh lebih dari 90 tenant food and beverages juga fashion and lifestyle. Event begini pastinya bisa jadi ajang cari cari oleh-oleh, hadiah maupun pernak pernik untuk natal dan tahun baru.

DSC_8757

P1080287

P1080275

Hype festival seperti ini selalu hadir dengan ide acara yang pastinya seru untuk didatangi oleh kamu yang masih kuliah – atau bahkan keluarga kamu dari yang masih kecil atau sudah dewasa. Melihat berbagai booth yang menawarkan bukan hanya pakaian, tapi juga perlengkapan dekorasi rumah, mainan, DIY Tools sampai makanan pastinya cocok untuk jadi tujuan mengunjungi “mall“. Apalagi kalau datangnya dengan orang yang bisa traktir beli barang-barang lucu yaa…

P1080281

DSC_8755

Banyak keseruan pada hari itu. Selain pertunjukkan  band-band lokal dan atraksi di atas stage, tentunya workshop-workshop yang diadakan untuk semua umur.

P1080285

 

Duuh, kapan lagi ya ada Hype Festival? Let’s check out @hype.id

[flickr_set id=”72157662749121992″]

text : @chazky

Photo : @sevencrow
, @riyanzr
 

S e l a n g [sepekanpulang] A Dream Came True – Pulau Komodo

S e l a n g [sepekanpulang] A Dream Came True – Pulau Komodo

Petang hari, kami sampai di Labuan Bajo! Walau faktanya sedang kemarau, saya merasakan dingin angin dari kota sebelah, Ruteng, memanggil dari kejauhan dan mengajak segera menuju destinasi utama. Namun, saya terlanjur jatuh hati dan setengah mati penasaran dengan pulau-pulau yang tadi terlewati selama berlayar. Lagipula, sejak dulu saya bermimpi ingin melihat komodo! Saya bergeming sesaat sedang berpikir keras, sementara teman-teman perjalanan satu per satu mengucap selamat tinggal karena keluarganya sudah datang menjemput.

Ah. Beranilah sedikit! Jangan lagi ada senja biru seperti di Lombok, menatap tanpa daya pada Rinjani yang berdiri tepat di depan, menyaksikan mimpi tersia-sia. Maka, petang itu juga, usai check in di hostel, saya keluar menyusuri sepanjang jalan Soekarno-Hatta, berburu paket wisata ke Taman Nasional Komodo. Begitu banyak paket-paket pulau yang ditawarkan, namun saya hanya ingin ke Pulau Komodo!

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, mimpi besar itu betul-betul tergenapi.

Saya akan mengulang perjalanan ini dengan total overland via darat dari Jakarta-Malang-Bali-Lombok-Labuan Bajo-Maumere dengan destinasi utama di Labuhan Bajo (Pulau Komodo, Rinca, Padar dan Kenawa)! Saya tidak berniat solo lagi! 😀 Jadi, bagi siapapun yang butuh teman perjalanan dalam rute tersebut pada akhir Januari hingga awal Februari 2016, saya akan dengan senang hati berbagi perjalanan #sepekanpulang_II ^^

Terima kasih banyak untuk yang sudah mengikuti rangkaian cerita sepekanpulang ini!

Project from @f.flaurndhia
Wait for more to come, or simply goes here

Editorial : @sadidae

Eatnerary : Sabeb Cafe

Eatnerary : Sabeb Cafe

Apa sih Nongkrong? jaman sekarang nongkrong makin mahal kata sebagian orang. Apa iya nongkrong harus mahal?

Di tempat yang satu ini, semuanya “SABEB”!

IMG_6716Sabeb adalah kebalikan kata dari kata “bebas”, terletak di Ruko Mendrisio – Gading Serpong, Sabeb Cafe memiliki visi misi sebagai tempat nongkrong yang serba “bebas” dengan harga makanan dan minuman murah, serta tempat yang didesign dengan nyaman dan asik. Sabeb Cafe buka setiap hari, sedari pukul 10 pagi hingga “sabeb aja”!Untitled-1 Jaman sekarang makin banyak cafe-cafe yang bermunculan, tapi ciri khas Sabeb Cafe ini adalah cara pembuatan kopinya yang manual tanpa mesin. 

IMG_6735

IMG_6739

Para pecinta kopi, bisa pilih menu – mau menikmati kopi yang original, atau mau yang fusion dengan caramel atau marshmallow. Semuanya bisa dipesan custom dan pastinya disajikan dengan ramah oleh baristanya.

Mazzers, main-mainlah ke Sabeb Cafe! Sendirian tidak masalah, karena Sabeb Cafe selain bisa jadi tempat nongkrong dengan teman – tapi juga menawarkan pertemanan. Cafe crew, barista hingga owner akan dengan senang hati mengajak ngobrol pengunjung yang datang, jadi di Sabeb list pertemanan juga bisa bertambah.

Ngerjain tugas kampus di tempat ini, bisa juga jadi pilihan – karena tempatnya betul-betul didesain untuk duduk lama-lama. Ngobrol dengan owner yang baik hati atau dengan barista yang asik bisa juga jadi pembangkit mood. Kamu yang datang kesana, bisa juga ikut dalam Sabeb Project – dimana kamu bisa ikut membuat doodle (gambar tangan) dan memamerkannya di wall of fame Sabeb.

Bisa kan Sabeb Cafe masuk dalam list weekend getaway mazzers?

 

IMG_6708

IMG_6705

[flickr_set id=”72157662506376255″]

Location : @sabebcafe

S e l a n g [sepekanpulang] – Between Sape & Labuan Bajo

S e l a n g [sepekanpulang] – Between Sape & Labuan Bajo

Dua belas jam berlalu sejak menaiki bus di terminal Mandalika sampai pada perhentian terakhir: Bima, wilayah administratif paling ujung di timur Nusa Tenggara Barat, kami akhirnya turun. Kami? Ya. Siapa sangka, begitu banyak yang terjadi selama dua belas jam di jalan. Saya berbagi bagian perjalanan ini dengan beberapa teman baru yang kebetulan sama-sama mengarah ke Flores.

Menghabiskan satu subuh yang tenang di terminal Dara Bima, kami menunggu terang untuk melanjutkan ke Pelabuhan Sape. Sayang sekali, waktu mulai tidak sabaran, mengajak berkejaran. Perkenalan dengan Bima jadinya sangat ringkas. Susah payah saya menghimpun dalam memori, kelebat pemandangan pagi hari kota Bima dari jendela mobil yang melaju kencang menuju pelabuhan selama dua jam, membentuk gambar yang paling jelas: kotak-kotak tambak garam dan kereta kuda benhur. Lalu kenangan terakhir, sambutan gerimis di pelabuhan, membuat kami berlari-lari kecil menyalip porter yang gontai memikul karung-karung besar, masuk ke dalam ferry yang dijadwalkan berangkat pukul 8 pagi, ke Labuan Bajo.

Tinggal sekali “melompat” untuk sampai ke seberang, ke daratan yang sama dengan rumah. Di Selat Sape, transisi antara Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur berlangsung meriah dikelilingi kembang-kembang air laut berbuih putih serta iringan parade lumba-lumba yang gembira menyambut para perantau, kembali pulang.

Saya akan mengulang perjalanan ini dengan total overland via darat dari Jakarta-Malang-Bali-Lombok-Labuan Bajo-Maumere dengan destinasi utama di Labuhan Bajo (Pulau Komodo, Rinca, Padar dan Kenawa)! Saya tidak berniat solo lagi! 😀 Jadi, bagi siapapun yang butuh teman perjalanan dalam rute tersebut pada akhir Januari hingga awal Februari 2016, saya akan dengan senang hati berbagi perjalanan #sepekanpulang_II ^^

Terima kasih banyak untuk yang sudah mengikuti rangkaian cerita sepekanpulang ini!

Project from @f.flaurndhia
Wait for more to come, or simply goes here

Editorial : @sadidae

S e l a n g [sepekanpulang] Malimbu & Khayangan – Sayonara Lombok

S e l a n g [sepekanpulang] Malimbu & Khayangan – Sayonara Lombok

Esok paginya, saya ke Lombok Barat. Dalam perjalanan dengan track berbelok – belok, naik – turun, saya berhenti sebentar di Bukit Malimbu untuk melihat keindahan Pantai Senggigi dari ketinggian. Ada yang membuat saya salut akan kota ini, yaitu semua jalan raya yang saya lewati sejak kemarin, diaspal halus. Jalanannya sepi dan tidak ada kemacetan, meski jarak dari satu tujuan ke tujuan lain jauh, sehingga membutuhkan banyak waktu.

Perjalanan di pulau ini telah selesai. Pukul 3 sore, saya naik bus terakhir dari terminal Mandalika menuju pelabuhan Khayangan di Lombok Timur. Sore ini juga, saya harus melanjutkan pergerakan ke timur, untuk melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo.

Saya akan mengulang perjalanan ini dengan total overland via darat dari Jakarta-Malang-Bali-Lombok-Labuan Bajo-Maumere dengan destinasi utama di Labuhan Bajo (Pulau Komodo, Rinca, Padar dan Kenawa)! Saya tidak berniat solo lagi! 😀 Jadi, bagi siapapun yang butuh teman perjalanan dalam rute tersebut pada akhir Januari hingga awal Februari 2016, saya akan dengan senang hati berbagi perjalanan #sepekanpulang_II ^^

Terima kasih banyak untuk yang sudah mengikuti rangkaian cerita sepekanpulang ini!

Project from @f.flaurndhia
Wait for more to come, or simply goes here

Editorial : @sadidae

S e l a n g [sepekanpulang] – Hello for the first time, Lombok!

S e l a n g [sepekanpulang] – Hello for the first time, Lombok!

Tentang perjalanan pulang, dimulai dengan penerbangan jam 10 pagi dari Jakarta menuju Lombok. Keindahan alam Lombok, Nusa Tenggara Barat telah terasa begitu pesawat kami mulai turun dari ketinggian dan bersiap mendarat. Awan – awan tipis menutupi bukit dan pegunungan, menebak – nebak apakah itu Bukit Pergasingan, Sembalun atau Rinjani.

Satu sore penuh menjelajah Lombok Tengah, bekunjung ke suatu daerah yang menjadi tempat wisata budaya di Lombok, yaitu Desa Sade. Di dalamnya terdapat ratusan rumah – rumah kecil khas Lombok dan ribuan warga yang tinggal dengan masih menganut adat turun – temurun dari nenek moyang. Salah satu kekhasan dari desa ini adalah para warganya biasa mengoleskan kotoran kerbau di lantai rumahnya.

Perjalanan lalu dilanjutkan ke Pantai Seger, dan menikmati sunset di Pantai Tanjung Aan dengan pasirnya yang putih, halus, serta air yang sangat jernih. Sepi dan damai.

Project from @f.flaurndhia
Wait for more to come, or simply goes here

Editorial : @sadidae

S E L A N G [sepekanpulang] – Travel Diary of Flaurndhia

S E L A N G  [sepekanpulang] –  Travel Diary of Flaurndhia

Seperti namanya, sepekanpulang adalah tentang perjalanan mudik seorang anak rantau yang rindu kampung halaman tapi enggan merugi. Maksudnya?

Memang tujuan saya ingin mudik. But again, jenis mudik apa yang “mengorbankan” satu minggu pertama liburan hanya untuk perjalanan dan akhirnya cuma punya waktu tiga minggu di rumah?

Sepekanpulang adalah tentang re-discover. Untuk melihat lebih dekat setiap hal yang selama ini hanya terlewati. Untuk mengenal lebih dalam apa-siapa yang sebelumnya masih asing. Ini sebuah perjalanan pulang untuk terlahir kembali. Agar nanti ketika sampai rumah, pelukan untuk ibu bisa lebih lama hingga waktu enggan untuk bergerak. Tiga minggu akan terasa seperti selamanya.

Project from @f.flaurndhia
Wait for more to come, or simply goes here

Editorial : @sadidae