jalanjalan

Mempelajari budaya Tiongkok di Barat Jakarta

Mempelajari budaya Tiongkok di Barat Jakarta

Sabtu lalu, kami menyusuri daerah Jakarta Barat, tepatnya di Kota Tua. Ada beberapa lokasi yang menarik untuk dikunjungi bagi kalian yang ingin merasakan sensasi Chinatown di Jakarta.

40151264102_ac50934439_k

Pertama, kami menghampiri Pancoran Tea House. Kata Pancoran sendiri berasal dari kata Pancuran Air, karena dulu terdapat sumber mata air di daerah ini. Disini, teman – teman dapat menikmati teh yang disediakan secara gratis. Tradisi minum teh disini disebut juga, patekoan atau 8 teko. Karena disini terdapat 4 teko yang berisi teh tawar dan 4 teko lainnya berisi teh manis. Teh yang tersedia disini dapat dinikmati dari pukul 8 pagi hingga 7 malam setiap harinya dan bebas untuk siapa saja yang ingin meminum nya.

26311389208_fbe8c6e5a2_k

39286203105_ad9541629c_k

Kemudian kami menuju Vihara Dharma Bakti. Vihara yang didirikan pada tahun 1650 merupakan Vihara yang memiliki banyak sejarah, salah satunya peristiwa Geger Pecinan yang terjadi pada tahun 1740. Ada banyak masyarakat keturunan tionghoa yang terbakar pada peristiwa tersebut karena hubungan antara pengusaha Belanda dan Cina kala itu tidak akur.

26311186028_2a7b742d0d_k

P1380681

P1380687

Terakhir, kami mengunjungi beberapa pasar yang berada di daerah petak 9. Diluar Gang, banyak pedagang yang menjual pernak – pernik untuk menyambut Imlek seperti; gantungan, lampu lampu kecil, baju cheongsam, angpao hingga lampion. Sedangkan di bagian dalam, terdapat jajanan dan makanan berat khas Tionghoa yang bisa kalian coba.

P1380697

P1380668

Jadi, untuk liburan Imlek kali ini kalian mau jalan – jalan kemana Mazzers?

Photo : Desy Rufaida & Reza Ibrahim

Text : Nurul Rachmadini

We Are Millenials – The Creative Photography Exhibition

We Are Millenials – The Creative Photography Exhibition

What millennials could do with their smartphone? Art is the answer! 

Acara ini menunjukkan bahwa melalui smartphone saja, anak muda bisa menciptakan karya yang luar biasa. We Are Millennials : The Creative Photography Exhibition diselenggarakan oleh kelas internasional jurusan Public Relations Batch 19. Mereka punya tujuan untuk mengangkat bakat generasi millennial, khususnya dalam seni fotografi.

Pada tanggal 25 – 27 Januari 2018, FX Sudirman lantai F3 diramaikan oleh berbagai kalangan, terutama milenial yang ingin mengetahui kreatifitas dalam seni fotografi ponsel.

IMG_5033

IMG_4937

Selain photo exhibition, ada juga seminar oleh Wira Dhamma Putra, Rafli Zulkarnaen dan Titus O. Mainassy dimana pengunjung pameran We Are Millennials mengetahui bagaimana cara mengambil foto yang berkualitas dan memiliki nilai seni yang tinggi.

Selain itu, ada juga beberapa penampilan yang menghibur seluruh pengunjung We Are Millennials : The Creative Photography Exhibition, yaitu, pertunjukan tari modern oleh GRD, DJ Max Wright. Ada juga penampilan musik dari Balqees, Arul Maulana, Subatomic dan Pertunjukkan unik solo Darbuka oleh Daood Debu.

1517293624626

Ini dia salah satu cara mengambil gambar makanan dengan konsep flatlay.
IMG_4925

IMG_5023

IMG_5028

Diharapkan juga, melalui acara ini, anak muda dapat berkontribusi ‘ala milenial’ untuk kemajuan industri kreatif lokal’.

 

Photos : @desyrufaida/ @anitanita_24

300 kg ikan di pusat perbelanjaan

300 kg ikan di pusat perbelanjaan

Let’s see a grouper“, satu kalimat yang keluar dari mulut seorang teman. Kami sempat bertanya-tanya apa yang menarik dengan hanya melihat sebuah ikan yang bahkan bisa kamu temukan di restoran. Dia tidak memberikan keterangan lebih lanjut tentang hal tersebut dan meninggalkan kami dalam satu tanda tanya besar.

00778

00785

Kami diarahkan ke pusat perbelanjaan di Barat Jakarta. Neo Soho untuk lebih tepatnya. Sempat terpikir bahwa kami akan diajaknya ke sebuah tempat makan. “mungkin dia hanya bercanda”. Tetapi sesampainya disana kami diarahkan ke sebuah tempat bernama “Jakarta Aquarium” kami sempat mendengar sebelumnya tentang tempat ini, tapi kami belum mencari tahu lebih dalam tentang apa yang ada di dalamnya.

00804

00820

Menghabiskan waktu kurang lebih 1,5 jam di dalam aquarium. Kami banyak berpikir tentang bagaimana bisa mereka memasukkan begitu banyak ikan kedalam sebuah pusat perbelanjaan. Sedikit cerita tentang Jakarta Aquarium, disana kamu bukan hanya akan menemukan ikan saja tetapi ada beberapa satwa lain seperti jenis reptil.

00788

00797

Akhirnya tujuan dari akhir pekan ini semakin jelas saat kami dipampangkan dengan satu aquarium besar. Teman kami dengan semangat menunjuk satu ikan. Ikan kerapu 300Kg adalah maksud teman kami. Melihatnya berenang bebas sangat menghibur kami! Mungkin kami akan lebih sering mengunjungi tempat wisata seperti ini.

00890

00871

00869

00858

Photo : Desy Rufaida

2565 di Atas Permukaan Laut

2565 di Atas Permukaan Laut

Mendaki gunung untuk sebagian orang mungkin merupakan momok yang menakutan, apalagi untuk perempuan. Jalan menanjak yang panjang, panas, medan yang dipenuhi batu, kerikil dan tanah merah. Mendenganya saja sudah melelahkan bukan? Bermula dari ajakan teman, saya pun langsung setuju. Mendaki gunung, salah satu sahabat saya bilang kalau saya sudah gila. Bukan tanpa alasan, karena ini adalah gunung pertama saya,”Mt Prau 2565 mdpl”

2017-05-13 12.48.57 1

2017-05-13 12.49.15 1

Kami berangkat bersama sembilan orang pendaki lainnya. Jujur, saya pun belum mengenal mereka dengan baik. Perjalanan dari Pasar Minggu menuju Wonosobo memakan waktu kurang lebih 9 jam. Sepanjang perjalanan saya habiskan dengan mengobrol, mendengarkan lagu dan tidur dengan harapan sesampainya di Wonosobo saya memiliki cukup energi untuk melanjutkan pendakian. Kami sampai di Teminal Wonosobo pukul 01.00 pagi, lebih cepat dari jadwal yang diperkirakan dan akhirnya kami pun menunggu di Terminal untuk dijemput dengan mobil jemputan pukul 06.00 pagi.

2017-05-21 01.29.39 2

2017-05-13 12.49.00 1

Pendakian pun dimulai. Tengah perjalanan menuju Dieng, saya terus berpikir apakah keputusan saya untuk mendaki gunung adalah keputusan yang benar. terlebih 2 minggu sebelum keberangkatan kami mendapat berita yang tidak mengenakan yaitu musibah yang terjadi pada pendaki lain ketika mereka mendaki ke Prau. Tapi saya nekat berangkat tentunya dengan izin Allah dan kedua orang tua saya. Sesampainya di Dieng, kami disapa oleh udara pagi yang dingin dan sejuk, embun dan kabut yang masih tebal. Cahaya matahari pun masih samar. Suasanya yang tidak bisa didapatkan di kota besar layaknya Jakarta. Setelah menaruh perlengkapan kami di basecamp, di tengah perkebunan, kami pun sarapan Mie Ongklok, makanan khas Dieng.

2017-05-13 12.49.02 1

2017-05-22 03.32.22 1

Kami sempat mengunjungi beberapa tempat wisata di Dieng seperti Kawah Sikidang, Talaga Warna dan Candi Arjuna. Setelah puas melihat pemandangan dan berfoto-foto kami pun kembali ke basecamp untuk makan siang dan beristirahat sebelum mendaki Gunung Prau. Pukul 16.00 kami berangkat menuju Gunung Prau melalui Jalur Dieng. Sebenarnya terdapat beberapa pilihan jalur menuju puncak Prau, tapi jalur Dieng adalah jalur yang direkomendasikan untuk pemula seperti saya walaupun butuh waktu yang lebih lama yakni 4 – 4,5 jam.

Photo & Text : Deska Dera

Curug dari Kejauhan

Curug dari Kejauhan

Jika melihat kalender beberapa minggu kemarin, pasti kita akan banyak menemukan tanggal merah yang ada di tengah-tengah minggu. Bisa jadi hari Senin, Kamis, Rabu atau hari lainnya selain Sabtu atau Minggu tentunya. Banyak rencana liburan yang sudah dibuat mulai dari keluar kota ataupun keluar negri.

Short escape kami kali ini dihabiskan di Bumi Parahyangan. Sederhana, waktu liburan kami dihabiskan di Barat Jawa, Bandung. Jenuh dengan pilihan liburan yang sering kami datangi di Bandung, kamipun berinisiatif untuk meminta rekomendasi dari sahabat kami yang sedari kecil tinggal disana. Panggil saja Averous, “Kalo mau main di alam, mending ke Cimahi aja disitu ada tempat yang bagus juga, coba aja ke Curug Cimahi!”. Sejujurnya tujuan utama kami ke Bandung kali ini, bukan sekedar mengisi liburan di tengah-tengah minggu. Tetapi kami harus menghadiri undangan penikahan teman kami.

IMG_0526

Dengan waktu yang singkat kamipun, memasukkan keywords “Curug Cimahi” kedalam GPS. Ternyata letaknya tidak begitu jauh dari kota Bandung. Curuh Cimahi sendiri juga bisa disebut dengan Curug Pelangi. Percaya atau tidak Curug ini terletak di tikungan jalanan, jadi mungkin agak sulit bagi pengendara mobil untuk mendapatkan parkir. Walaupun parkirannya jauh, rasa lelah kami terbayarkan oleh suasana yang terpampang di depan mata kami. Hijau dan Sejuk, lebih dari cukup untuk sekedar melepas kepenatan.

IMG_0545

IMG_0574

Saat kami datang kami hanya bisa menjelajah sampai pos lihat ke 2. Pihak pengelola dari Curug Cimahi sendiri tidak membuka untuk pos-pos selanjutnya, tapi menurut kami itu sudah cukup. Jalan yang harus dilalui memang sudah berbentuk tangga yang rapih sehingga aman untuk naik dan turun, tapi jangan sangka bahwa ada banyak sekali anak tangga yang harus dilewati dari atas menuju ke bawah. Memang kami tidak bisa sampai mendekati air terjun tersebut, tapi memandang dari jauh apa yang Tuhan telah ciptakan sudah memuaskan kami dalam perjalanan kali ini.

IMG_0574

IMG_05372

Danau Terindah Selama Hidup

Danau Terindah Selama Hidup

Ide untuk pergi ke sebuah danau terdengar megah di telinga saya. Setelah perjalanan panjang menuju puncak dan melewati 7 bukit penyesalan, saya benar-benar berhak menerima sebuah hadiah. Satu hal yang saya tahu, jalanan menurun sama sulitnya dengan jalan menanjak.

Setelah 7 jam berjalan, kami akhirnya sampai di tempat perkemahan yang terletak didekat danau. Berjalan di kegelapan bisa mematahkan semangatmu. Ketika malam menjadi semakin gelap, jalan semakin terlihat tidak berujung. Hal menjadi semakin buruk ketika kaki saya cedera dan saya demam pada malam itu. Setelah makan malam yang singkat, saya minum obat dan tidur. Badan saya membutuhkan istirahat setelah 3 hari tidak berhenti berjalan.

rinjani explore porter demas ryan grace filled travel junkie segara anak danau lake summit puncak lintang indonesia lombok backpack (1)

Malam itu terasa seperti mimpi buruk. Ditambah lagi kami harus berjalan 12 jam pada esok hari. Matahari pun terbit dan semua berubah saat pagi hari. Saya bangun di hadapan danau yang sangat indah, bahkan saya bisa menatapnya hingga berjam jam. Otot saya nyeri dan kaki kiri saya masih cedera. Tetapi semangat saya entah bagaimana bangkit hanya dengan melihat danau paling indah yang pernah saya lihat seumur hidup saya. Danau Segara Anak.

rinjani explore porter demas ryan grace filled travel junkie segara anak danau lake summit puncak lintang indonesia lombok backpack 2 (1)

Danau Segara Anak bisa membayar rasa sakit saya. Bila punya waktu lebih, paling tidak kamu harus menghabiskan sehari di sekitar danau. Beberapa aktivitas yang bisa kamu lakukan adalah mandi, berenang, memancing dan merasakan mandi air panas. Sayangnya, rasa sakit ini tidak mengizinkan saya untuk melakukan semua hal itu. Yang saya lakukan hanyalah duduk di tepi danau dengan secangkir kopi panas di tangan saya. Namun itu pun juga momen yang menyenangkan.

rinjani explore porter demas ryan grace filled travel junkie segara anak danau lake summit puncak lintang indonesia lombok backpack 8 (1)

Untuk mencapai ke danau, saya harus melewati perjalanan yang cukup panjang. Ini adalah video yang bisa merangkup itu semua. Perhatian: ini apa yang bisa kamu lihat 4 hari tanpa mandi.

Seperti yang sudah dituliskan di atas, saya harus berjalan 12 jam lagi untuk mencapai ke tempat peristirahatan. Semua orang sebisa mungkin bangun lebih pagi agar bisa sampai pada pukul 8 malam. Bagaimanapun, semua sangat terpesona dengan pemandangan danau tersebut. Kami akhirnya meninggalkan danau pada pukul 10:30 dan sampai pada pukul 12 malam. Perjalanan kembali mamang sangat panjang dan juga melelahkan, tapi sangat menyenangkan ketika kami mulai melihat peradaban. Dengan adanya peradaban, maksud saya, penjual minuman dengan minuman dingin.

Catch full story of this here. More stories in Grace Filled Travel Junkie, Demas Ryan.
Text/Photo : @demasryan

Sejarah dan Secangkir Kopi dalam Festival

Sejarah dan Secangkir Kopi dalam Festival

Menghabiskan senja di Barat Jakarta, kami punya beberapa pilihan untuk menikmatinya. Kami memilih untuk pergi ke museum, teman kami sempat bertanya “untuk apa ke museum sore – sore, tutup!” ungkapnya. Bukan tanpa tujuan kami datang, kami hadir ke acara “Pesta Kopi Mandiri”.

P1040794

Berbeda dengan beberapa festival kopi lainnya, acara ini diadakan di museum. Museum Mandiri, Jakarta Barat dengan tema #ngopidimuseum. Menariknya acara ini secara tidak langsung bertujuan untuk membuat banyak orang untuk mau berkunjung ke museum. Selain menambah pengetahuan bisa bersantai sambil minum kopi juga. Memang kopi tidak hanya tentang minum, tetapi mengenal sebagian sumber daya Indonesia yang memiliki potensi. Banyaknya jenis penjual kopi, cafe dan jenis jenis biji kopi menjadikan banyak pula festival dimana kita yang mau. Bisa belajar banyak tentang kopi.

P1040801

P1040808

Jika kamu tidak menyukai kopi dengan cita rasa pahit, disana kamu juga bisa menemukan kopi dengan rasa manis. Kamu bisa memilih dimana kamu ingin membeli kopi yang kamu mau, karena ada kurang lebih 30 tenant kopi yang hadir dalam acara tersebut. Maksud kami dengan tenant, adalah cafe cafe yang kamu kenal di Jakarta.

P1040819
Selain minum kopi dan juga bersantai di museum, di sana kamu juga bisa menyaksikan screening film Filosofi Kopi, menghadiri baazar, workshop dan menyaksikan lomba  ABCD Latte Art showdown. Sebelumnya acara ini sudah digelar di Yogyakarta dan kedepannya akan diadakan juga di Surabaya dan Medan. Jangan lupa cek jadwalnya ya Mazzers.

 

Menjadi “Anak“ Wae Rebo

Menjadi “Anak“ Wae Rebo

Menilik persyaratannya, untuk menjadi “anak” Wae Rebo sebetulnya tidak sulit. Desa kecil ini ibarat tangan terbuka, selalu menyambut para pengunjungnya sebagai anak-anak Wae Rebo yang baru kembali dari tanah rantau.

Syaratnya hanya satu, restu dari leluhur yang didapatkan dengan mengikuti upacara penghormatan leluhur atau disebut Waelu’u selama lima hingga sepuluh menit di salah satu rumah Mbaru Niang bernama Niang Gendang. Dalam upacara tersebut tetua adat akan memintakan restu leluhur dan mendoakan setiap pengunjung dalam bahasa setempat. Selepas upacara, persis ketika keluar dari Niang Gendang, kita sudah menjadi “anak” Wae Rebo. Walaupun terkesan sederhana, upacara penerimaan ini begitu penting dan wajib.

6a

Untuk menjadi “anak” Wae Rebo yang sesungguhnya, mengenal sejarah desa ini menjadi suatu keharusan. Dalam buku “Pesan Dari Wae Rebo” oleh Yori Antar, dikisahkan bahwa penduduk Wae Rebo adalah keturunan Empo Maro, pelaut asal Minangkabau yang berlayar bersama keluarganya hingga ke pulau Flores dan menetap di berbagai desa di Manggarai. Setelah lama berpindah-pindah karena berbagai sebab –salah satunya mengikuti arahan rubah, Empo Maro akhirnya mendapat ilham untuk pindah ke sebuah wilayah di timur, menetap di desa tersebut dan memberi nama “Wae Rebo”. Seperti leluhurnya, penduduk Wae Rebo keturunan Empo Maro ini dipercaya sebagai orang-orang yang ahli berkebun dan berburu. Terbukti bahwa berkebun adalah mata pencaharian utama penduduk Wae Rebo dengan menghasilkan kopi, jeruk, sirih, markisa, jahe, dan temulawak. Sedangkan para wanitanya menenun kain Cura.

1b

Saya lalu mencoba sudut pandang berbeda yaitu dengan mengamati anak-anak Wae Rebo yang begitu asyik bermain di alam terbuka, spontan membuat saya gembira karena teringat adegan-adegan film Laskar Pelangi. Namun segala keseruan berakhir ketika hari sudah gelap, ketika semua harus masuk rumah sebab keluar di malam hari tanpa penerangan bisa beresiko bahaya. Bagi anak-anak Wae Rebo masa kecil ialah suatu tempo kehidupan yang singkat, sesingkat pagi berganti malam. Menginjak usia sekolah, anak-anak ini harus merantau ke desa tetangga atas tuntutan literasi dan pendidikan. Sekolah Dasar paling dekat terletak tiga jam berjalan kaki turun gunung ditambah empat jam untuk kembali naik. Melanjutkan ke sekolah menengah berarti harus merantau lebih jauh lagi, kalau perlu sampai ke Ruteng.

4a

Photo & Text : Nur Fadilah

Perspektif Travel dalam Dokumenter

Perspektif Travel dalam Dokumenter

Jalan-jalan bukan lagi menjadi kebutuhan tersier di masa sekarang. Jalan- jalan atau travelling kini sudah menjadi gaya hidup bagi kebanyakan orang. Sekarang memesan tiket pesawat lebih mudah, pesan kamar hotel juga mudah. Tidak perlu mahal, yang penting bisa untuk tidur sebelum kembali berkelana. Begitu yang kami pikir.

Bagi kami traveling dirasa sangat penting untuk menghilangkan stress dan juga berburu foto foto yang menarik. Berbeda orang, berbeda juga persepsi terhadap traveling. Matter Halo yang terdiri dari Ibnu Dian dan Ganidra Rai juga memiliki perspektif tersendiri mengenai traveling.

Matter Halo berhasil membuat dan menyutradarai sebuah film dokumenter dengan judul Travel Is : The Documentary yang menceritakan akan pentingnya travel yang terkadang tak tersentuh, bias dan abstrak. Pada akhirnya film tersebut akan memperkaya perspektif kahalayak akan travel. bukan hanya menjadi cerita tentang perjalanan saja melaikan menjadi medium eksplorasi, eksistensi, dan refleksi terhadap realitas.

Pagi – Pagi Merapi

Pagi – Pagi Merapi

Beberapa bulan yang lalu kami berkunjung ke Yogyakarta untuk mengisi libur akhir tahun. Membaca beberapa referensi tempat wisata yang bisa dikunjungi di Yogyakarta, kami tertarik dengan satu nama, yaitu “Lava Tour Merapi”.

P1030618

 

Tanpa pikir panjang kami mengikuti arahan dari salah satu situs online. Memakan waktu kurang lebih 1,5 jam dari Malioboro. Perjalanan sejauh 30km, kami tempuh dengan menggunakan mobil yang langsung mengantar ke tempat tujuan. Deretan mobil Jeep mulai terlihat saat kami sampai ke tempat tersebut.

P1030530
Salah satu pemilik mobil tersebut menjelaskan kepada kami bahwa kami dapat menikmati lava tour dengan berbagai macam pilihan. Lintasan pendek, jauh, ataupun sedang. Karena tidak memiliki waktu yang cukup panjang kamipun memilih mengambil jalur yang paling pendek.

P1030539

 

Sepanjang perjalanan, jalur yang kami lewati merupakan perpaduan antara batu-batuan, aspal dan juga tanah. Sebagai tambahan informasi, erupsi besar terjadi di Gunung Merapi pada tahun 2010 yang menelan banyak korban jiwa. Sehingga selama perjalanan kita masih bisa melihat banyak peninggalan letusan gunung merapi. Peninggalan tersebut diantaranya bebatuan yang keluar dari perut bumi dan juga sisa perabotan rumah yang terbakar akibat letusan gunung.

P1030507

P1030510

 

Sangat menarik ketika kami diantarkan dengan menggunakan mobil Jeep terbuka sehingga kita bisa merasakan udara asri pegunungan pada pagi hari. Kalau siang udaranya akan panas terik, tapi untuk yang mencari panas boleh juga. Tidak hanya mobil, disediakan juga motor bagi kamu yang menyukai off road bike.

 

 

The Hype of Christmas

The Hype of Christmas

Christmassssss mazzerssss! (kemarin itu sih). Perayaan yang dilakukan juga bisa beragam, mulai dari makan malam bersama orang-orang terkasih, tukar kado dengan sahabat atau bahkan mengadakan kegiatan sosial bersama teman-teman sekelas. Nah! Berikut ini adalah event seru dalam memeriahkan christmas yang diadakan oleh Hype.id di dua area besar di Jakarta yaitu di PIK dan Lippo Mall Puri. Sebuah festival yang diadakan setiap tahun dengan konsep yang selalu berbeda-beda.

P1080270

DSC_8763

Tema yang diusung dalam dua event kali ini adalah Tropical Chrismas di Lippo Mall Puri dan Christmas Story untuk event di PIK. Keduanya sukses diselenggarakan dengan diikuti oleh lebih dari 90 tenant food and beverages juga fashion and lifestyle. Event begini pastinya bisa jadi ajang cari cari oleh-oleh, hadiah maupun pernak pernik untuk natal dan tahun baru.

DSC_8757

P1080287

P1080275

Hype festival seperti ini selalu hadir dengan ide acara yang pastinya seru untuk didatangi oleh kamu yang masih kuliah – atau bahkan keluarga kamu dari yang masih kecil atau sudah dewasa. Melihat berbagai booth yang menawarkan bukan hanya pakaian, tapi juga perlengkapan dekorasi rumah, mainan, DIY Tools sampai makanan pastinya cocok untuk jadi tujuan mengunjungi “mall“. Apalagi kalau datangnya dengan orang yang bisa traktir beli barang-barang lucu yaa…

P1080281

DSC_8755

Banyak keseruan pada hari itu. Selain pertunjukkan  band-band lokal dan atraksi di atas stage, tentunya workshop-workshop yang diadakan untuk semua umur.

P1080285

 

Duuh, kapan lagi ya ada Hype Festival? Let’s check out @hype.id

[flickr_set id=”72157662749121992″]

text : @chazky

Photo : @sevencrow
, @riyanzr
 

Eatnerary : Sabeb Cafe

Eatnerary : Sabeb Cafe

Apa sih Nongkrong? jaman sekarang nongkrong makin mahal kata sebagian orang. Apa iya nongkrong harus mahal?

Di tempat yang satu ini, semuanya “SABEB”!

IMG_6716Sabeb adalah kebalikan kata dari kata “bebas”, terletak di Ruko Mendrisio – Gading Serpong, Sabeb Cafe memiliki visi misi sebagai tempat nongkrong yang serba “bebas” dengan harga makanan dan minuman murah, serta tempat yang didesign dengan nyaman dan asik. Sabeb Cafe buka setiap hari, sedari pukul 10 pagi hingga “sabeb aja”!Untitled-1 Jaman sekarang makin banyak cafe-cafe yang bermunculan, tapi ciri khas Sabeb Cafe ini adalah cara pembuatan kopinya yang manual tanpa mesin. 

IMG_6735

IMG_6739

Para pecinta kopi, bisa pilih menu – mau menikmati kopi yang original, atau mau yang fusion dengan caramel atau marshmallow. Semuanya bisa dipesan custom dan pastinya disajikan dengan ramah oleh baristanya.

Mazzers, main-mainlah ke Sabeb Cafe! Sendirian tidak masalah, karena Sabeb Cafe selain bisa jadi tempat nongkrong dengan teman – tapi juga menawarkan pertemanan. Cafe crew, barista hingga owner akan dengan senang hati mengajak ngobrol pengunjung yang datang, jadi di Sabeb list pertemanan juga bisa bertambah.

Ngerjain tugas kampus di tempat ini, bisa juga jadi pilihan – karena tempatnya betul-betul didesain untuk duduk lama-lama. Ngobrol dengan owner yang baik hati atau dengan barista yang asik bisa juga jadi pembangkit mood. Kamu yang datang kesana, bisa juga ikut dalam Sabeb Project – dimana kamu bisa ikut membuat doodle (gambar tangan) dan memamerkannya di wall of fame Sabeb.

Bisa kan Sabeb Cafe masuk dalam list weekend getaway mazzers?

 

IMG_6708

IMG_6705

[flickr_set id=”72157662506376255″]

Location : @sabebcafe

Eatnerary : Mari Makan di Wonderland

Eatnerary : Mari Makan di Wonderland

Akhir-akhir ini Jepang sedang menjadi destinasi favorit banyak orang untuk menghabiskan waktu liburan. Selain karena tradisinya, budaya pop culture juga bisa jadi daya tarik yang unik untuk dikunjungi. Misalnya salah satu cafe tematik  yang berada di daerah Ginza – Tokyo yaitu “Alice In Wonderland Cafe”.

IMG_0037

Ketika masuk, kita akan melewati lorong yang wall-papernya dibuat sedemikian rupa seakan kita masuk ke dalam buku dengan hiasan jam kantong super besar, rasanya semua hal jadi raksasa!

img_9760

Dekorasi didalam ruang cafe sungguh sangat menarik, setiap sudutnya bisa menjadi spot untuk foto-foto. Terinspirasi dari buku anak Alice In Wonderland karya Lewis Caroll, tidak hanya interiornya saja, tapi tema Alice in Wonderland ini sangat konsisten dari perlengkapan makan hingga pelayannya yang menggunakan kostum Alice. Ketika kita masuk ke dalam, sungguh fantasi kita akan dibawa seakan kita ada di Wonderland.

 

Mazzers tahu tidak kira-kira makanan apa yang disajikan di cafe ini? Alice in Wonderland cafe menyajikan menu-menu makanan jepang yang sudah fusion – atau dimodernkan dengan makanan barat. Menu makanan dan minuman yang disajikan juga tidak hilang ke khas-an ala wonderlandnya. Tidak lengkap rasanya, kalau sudah pesan tapi tidak difoto dulu sebelum disantap.

[flickr_set id=”72157661010574935″]

Yang seperti ini, pastinya jadi destinasi menarik untuk masuk dalam list itinerary jalan-jalan kita kalau ke Jepang.

 

PS: Mazzers yang suka dengan Alice, mereka akan kembali dengan “Alice in Wonderland 2 : Through the Looking Glass” pada bulan Mei tahun depan. wow! Seru~

text/photo : @chazky
add photo : favbulous.com

Non-Pasaran di Pasar-pasaran Ubud

Non-Pasaran di Pasar-pasaran Ubud

 

Kalau ke Bali nggak ke Ubud, rasanya kurang ya?
Ubud terkenal dengan monkey forest, keunikan kota, pura yang ada disana, dan terutama lokasinya yang dekat dengan alam dan persawahan. Tapi kalau Mazzers mau ke Ubud, jangan lupa juga untuk ngecek event yang satu ini : Pasar-pasaran Ubud.
2

Pasar-pasaran Ubud adalah  Sunday morning artsy crafty market, sebuah event yang diadakan sekitar setahun dua kali yang digagas oleh sekelompok anak muda kreatif yang tinggal di Ubud dalam tim bernama Kerdus.
36

Pasar-pasaran yang dimulai pada Februari 2013 ini dikonsepkan seperti pasar tradisional yang menjual banyak sekali kreasi handmade dari para crafter, produk dan kerajinan kriya dari banyak designer indie, dan ada juga second hand goods yang pastinya unik untuk di koleksi. Targetnya tentu saja wisatawan lokal maupun asing yang sedang berkunjung ke Ubud.

711

5

Tidak hanya jualan, Pasar-pasaran ini adalah ajang pameran bagi para seniman. Pengunjung juga bisa terhibur dengan adanya live music yang menghadirkan sound vintage sebagai ambience. Ada juga workshop “DIY  Art and Craft” yang langsung dipandu oleh crafternya. Dengan nuansa sederhana tapi tetap cozy, Pasar-pasaran asik sekali jadi tempat untuk mencari teman baru dan berinteraksi dengan sesama pengunjung. Dimana lagi coba kita bisa liburan, sambil mengupdate skill dan menginspirasi kita untuk jadi lebih kreatif.
49

Semua karya atau produk yang masuk di Pasar-pasaran harus melalui proses kurasi, maka setiap acara pasti ada saja hal yang unik untuk ditunggu. Bukan hanya berbagai jenis barang dan pesertanya saja, tapi Pasar-pasaran selalu dibuat dengan tema berbeda di setiap penyelenggaraannya. Dan yang pasti, bisa piknik dalam suasana Ubud yang hijau dengan udara yang segar!

Seru ya? Kesana yuk!
Pastinya kunjungan Mazzers  merupakan bentuk dukungan agar Pasar-pasaran terus bisa menjadi sarana menyalurkan ide-ide segar dan menginspirasi event-event selanjutnya.
Kamu bisa follow instagram mereka di @pasarpasaran untuk cari tahu infomasi lebih detil dari event keren ini.

8

Photo :
Kerdus Ubud
Cecilia Hidayat

 

 

“Kolusi” Positif, Kota Tanpa Polusi

“Kolusi” Positif, Kota Tanpa Polusi

Bila Car Free Day di Jakarta diadakan seminggu sekali, di Zermatt kamu bisa merasakannya setiap hari. Zermatt adalah sebuah kota di distrik Visp, Swiss. Kota yang berbatasan dengan Italy ini dikenal dengan kota tanpa polusi.

DSCF6685

Kota kecil di lereng pegunungan Alpen ini sudah sejak 1947 meniadakan kendaraan berbahan bakar apapun selain listrik untuk berada di kota ini. Jadi di kota ini kamu bisa merasakan udara yang lebih segar dan ringan saat kamu menghirupnya.

DSCF6804

Tidak hanya udara segar, di kota Zermatt mazzers bisa memulai perjalan ke puncak Matterhon. Matterhon adalah salah satu puncak tertinggi di Swiss. Puncak yang paling banyak difoto, paling sering didaki dan juga bisa menikmati pemandangannya yang indah. Buat kamu yang ingin menikmati puncak Matterhon, kota Zermatt adalah gerbang untuk mendaki puncak Matterhon.

DSCF6791 DSCF6796 DSCF6801

 

Text/Photo : Gevaldi S.R / @Gevaldi