photo story

Bersantai di Pinggir Danau

Bersantai di Pinggir Danau

Memukau! Satu kata yang menggambarkan destinasi wisata yang kami kunjungi kali ini. Berada di bagian timur Indonesia, tepatnya di Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Kota yang memiliki topografi diapit oleh Gunung Lokon dan Gunung Mahawu ini menyajikan udara yang begitu sejuk. Berlukiskan panorama pegunungan dan perbukitan yang begitu indah, membuat kami semakin betah berada di kota ini. Terlepas dari keindahan kota Tomohon, satu destinasi wisata andalannya yang berhasil membuat kami berdecak kagum adalah Danau Linow.

5DD8C332-1985-4EB2-9565-5DB7B2F70BF5

E6D8653D-C00C-4190-BEA9-AC5EB48E4C4E

Untuk sampai di Kota Tomohon, dibutuhkan waktu tempuh  sekitar 1 jam perjalanan dengan jarak kurang lebih 30 km dari Kota Manado. Sedangkan untuk tiba di Danau Linow dapat ditempuh dengan jarak 3 km arah ke barat dari Kota Tomohon. Namun, jauhnya perjalanan terasa tidak melelahkan, karena sepanjang perjalanan kami menikmati sajian indah pemandangan hijau dari perbukitan yang ditumbuhi pepohonan besar. Ditambah lagi cantiknya pemandangan pegunungan yang mengapit Kota Tomohon.

547638FD-6DC3-45B9-8009-D501646BE7D0

97DD1CFC-3598-4971-BF4A-6974A2D7BA81

Sesampainya di Danau Linow, kami disambut dengan bau khas belerang serta uap putih yang menyembur dari area danau. Pada sisi perairannya terdapat gelembung udara kecil yang terlihat meletup-letup. Dan kata warga setempat, air di danau ini dapat berubah menjadi 3 warna yang berbeda! Kalau kita datang disaat yang tepat, kita bisa menyaksikan perubahan warna air danau tersebut. Fenomena alam yang unik ini terbentuk kerena Danau Linow menempati cekungan vulkanik.

88182F40-9661-44CF-92E2-39870500001E

7B795FB2-5112-4001-8E2B-C4BFAB28A195

Tepat di tepi danau terdapat sebuah cafe yang menyajikan secangkir kopi dan teh hangat yang tentunya sangat pas diseruput dengan sejuknya udara saat itu. Ditambah beberapa pilihan makanan khas Kota Tomohon, hari itu rasanya semakin lengkap. Kalau ditanya jika ada kesempatan apakah kami ingin berkunjung kembali kesini? Rasanya tidak ada alasan untuk menolak.

Pelajaran dari Pulau Salura // Part 1

Pelajaran dari Pulau Salura // Part 1

Perjalanan dimulai dari Kota Waingapu, Sumba Timur, NTT. Saya mengikuti sebuah program Pekan Nusantara yang diadakan oleh yayasan Generasi Emas Nusantara. Pekan Nusantara sendiri adalah sebuah program mengajar yang dilakukan selama seminggu, yang kali ini dilakukan di Pulau Salura, Sumba Timur, NTT, salah satu pulau yang terletak di selatan Indonesia yang berbatasan dengan Australia.

Perjalanan panjang saya tempuh menggunakan bus khas Sumba. Bus tersebut adalah sebuah truk tanah yang di modif dengan dipasangakan atap dan bangku di bagian belakang truk. Tempat bertemu para peserta dengan panitia di lakukan di Bandara Umbu Mehang Kunda, Waingapiu, NTT. Di Bandara inilah perkenalan antara peserta dan panitia dilakukan.

DSC00504

Estimasi perjalanan dari kota Waingapu menuju Pulau Salura adalah sekitar 6 jam perjalanan darat dan 1 jam perjalanan laut tetapi saat itu perjalanan yang kami tempuh lebih dari estimasi awal. Kami sempat menginap di rumah salah satu orang terpandang di sumba timur yang disebut Umbu, seorang pangeran daerah Gonggi yang merupakan salah satu daerah di daerah Sumba Timur. Esok harinya kami menuju pelabuhan Katundu untuk menyebrang ke Pulau Salura tempat tujuan mengajar kami.

DSC00533

DSC00801

Perjalanan dari Waingapu ke Pulau Salura memakan waktu lama dikarenakan kami banyak berhenti beberapa kali untuk menikmati pemandangan indah yang disuguhkan oleh alam sumba selama perjalanan. Jalanan yang rusak diimbangi dengan keindahan bukit dengan rumput hijau yang menyelimutinya yang dapat dilihat di kanan kiri jalan.

Kami sampai di Pulau Salura pada sore hari menjelang malam. Sesampainya di Pulau Salura saya di suguhkan keindahan pulau yang memiliki pasir putih dengan air laut berwarna biru muda dan pemandangan bukit indah yang terllihat dari pesisir pantai Pulau Salura. Kami juga disambut oleh pihak sekolah yang lalu mengantar kami ke tempat penginapan kami. Kami menginap di ruang kelas SMP yang ada di pulau Salura.

DSC00862

DSC00984

DSC01028

DSC01069

DSC00524

DSC00770


Photo & Text : @gevaldi

Serenity of Walking at Kyoto

Serenity of Walking at Kyoto

We know Kyoto is the place for temples, but does the city offers more than that? We had to do trial of wandering around Kyoto.

Setiap kita mau pergi, melihat referensi adalah hal yang biasa dilakukan. Tetapi dimanapun itu, pasti selalu tentang harus pergi kesini, harus pergi kesana, makan ini, lakukan itu dan banyak hal lainnya. Kalau kamu mau tahu tentang itu, jangan lanjutkan membaca artikel ini. It’s about walking experience, street photography type of article.

P1170184

Jalan kaki adalah kendaraan utama ketika di Jepang. Serius. Beneran. Sumpah. Kalau tidak bersiap untuk jalan kaki, siap siaplah koyo, salep, gel untuk sakit otot (saking ga mau nyebut merk), dan lainnya yang bisa menyembuhkan segala penyakit di kaki yang pegal.

Di satu sisi lainnya, memang sangat terorganisir untuk berjalan kaki di hampir seluruh Jepang. Seperti negara negara maju lainnya.

P1170174

The amazing thing about walking in Kyoto besides the good vibe of walking, the windy autumn when we walk around October – November, also the sights to see while walking. Di perjalanan dari pasar, menuju ke kuil – kuil terkenal di Kyoto, kamu bisa melewati berbagai pemandangan. Dari orang orang yang beraktifitas secara lokal seperti membeli minuman di mesin, duduk sambil minum kopi panas kalengan sampai penduduk lokal yang sedang bekerja seperti kurir dan banyak lainnya.

P1170216

P1170221

P1170236

P1170255

Pemandangan lainnya adalah berada di kota tua, kota modern dan taman atau alam terbuka dalam setiap bloknya. Seperti berada di satu tempat di sekitar tengah kota Kyoto, satu sisi melihat toko toko terkenal seperti Disney, Uniqlo dan lainnya. Pindah blok, lalu kita bisa menemukan taman di samping sungai dan kita berjalan di atas jembatan.

P1170225

P1170238

P1170239

We had a time frame to do other things, so that’s the reason not wandering so much at the area. Wish we had more time, will be back here soon!

Letakan Pundak di Melbourne Central

Letakan Pundak di Melbourne Central

Berada di kota pasti ada selanya. Ketika sedang bosan, kafe atau taman menjadi pilihan wajar untuk keluar dan menikmati hari yang lebih tenang. Untuk kami, menulis dan menemukan sesuatu yang asik untuk ditulis adalah guna dari sela setiap kota. Makanya, ketika ada di kota Melbourne harus juga mencari tempat beradu sela.

Shopping mall is one of the choice when you got into this city. Namanya memang wajar wajar saja. Seperti di Indonesia, Melbourne juga memiliki mal tempat belanja. Bedanya adalah di kota ini lebih banyak tempat makan dan bersenda gurau dibandingkan tempat untuk membeli barang. Jasa adalah suatu hal yang suci di tempat ini. Queen Victoria Village adalah salah satu tempat yang kami kunjungi untuk mencari sela. Hey, tempat duduk di rumput buatan adalah keasikan yang ditemukan di tempat ini. Bukan untuk futsal, sesimpel untuk duduk dan membuka makanan atau menyeruput kopi saja. Truly a soothing place, isn’t it?

DSC02170

DSC02171

Selain QV, salah satu tempat untuk menyendiri juga ada di dekat stasiun ramai di Central Melbourne. Flinders Station and Federation Square are two of the most popular relationship that we had. Kalau mau ke luar kota dengan kereta, Flinders station jawabannya. Ketika ingin menyendiri atau sekedar ngobrol tanpa harus keluar uang dan meluruskan kaki di Federation Square tepat di seberang St Paul’s Cathedral (sempet masuk foto lalu keluar lagi, padahal ga boleh foto). Disini ada yang jual es krim, bisa duduk di kursi kursi depan ACMI (yang juga menarik tapi nanti aja ceritanya). Tidak lupa juga ada kawanan merpati kadang ikut cari makan disini. Seru dan santai.

DSC02238

DSC02281

DSC02239

Mari kita lanjutkan perjalanan. Stay healthy and explore more mazzers.

Peradaban Luhur di Haribaan Ancala Manggarai

Peradaban Luhur di Haribaan Ancala Manggarai

Menyebut “Wae Rebo” bahkan kepada sesama kawan Indonesia, seringkali harus disertai dengan keterangan tentang dimana lokasinya ataupun penggambaran deskriptif tentang seperti apa wujudnya. Karena letaknya di ketinggian ancala, saya pun mengasosiasikan Wae Rebo sebagai Machu Picchu-nya Indonesia dengan pengecualian Wae Rebo bukan kota mati namun sebaliknya begitu hidup dengan denyut nadi yang kuat. Sebetulnya saya berharap tidak menggunakan asosiasi ini lagi dalam waktu dekat, karena Wae Rebo sejatinya tidak tergantikan.

7B

Wae Rebo menjadi begitu istimewa karena Mbaru Niang, karya otentik arsitektur rumah tradisional yang diwariskan Empo Maro sang leluhur setempat dan diteruskan oleh para keturunannya. Mbaru Niang di Wae Rebo berjumlah tujuh buah, satu sama lainnya terlihat identik dalam bentuk dan ukuran berupa rumah beratap kerucut besar terbuat dari ijuk. Sebuah Mbaru Niang yang terletak di tengah berukuran sedikit lebih besar dengan tinggi dan diameter 15 meter sedangkan enam lainnya memiliki tinggi dan diameter 11 meter. Di Mbaru Niang yang bernama Niang Gendang atau Mbaru Tembong itulah tempat para tetua adat Wae Rebo berkumpul dan melaksanakan berbagai upacara adat.

7A

Mbaru Niang di Wae Rebo merupakan situs penting bagi para arsitek baik dalam negeri maupun luar negeri. Keunikan dan kekhasan Mbaru Niang berhasil menarik perhatian kalangan ini, diantaranya struktur rumah yang tidak berdinding dengan atap memanjang sampai melampaui lantai yang berbentuk panggung. Atap tersebut terbuat dari kerangka bambu sedangkan untuk penyangga setiap Mbaru Niang digunakan sembilan tiang kayu. Bambu dan kayu-kayu tersebut diikat satu sama lain memakai rotan. Masing-masing Mbaru Niang dihuni bersama oleh delapan kepala keluarga yang saling berbagi satu-satunya ruangan. Saya begitu bahagia karena ada satu Mbaru Niang disebut Niang Gena Maro yang diperuntukkan untuk para wisatawan. Sebagaimana warga asli Wae Rebo, kami berbagi satu ruangan yang sama, tidur berjejer melingkari setengah Mbaru Niang, juga duduk melingkar setiap kali akan makan.

4A

 

4B

Wae Rebo sebagai peradaban di ancala Manggarai ini sungguh mampu memikat hati siapa saja. Kompleks rumah tradisional Mbaru Niang ditata begitu apik membentuk setengah lingkaran, menyisakan halaman tengah yang luas pada puncak gunung yang datar. Di belakangnya, punggung pegunungan yang lebih tinggi melatari seolah-olah menjadi pagar yang memisahkan Wae Rebo dari kehidupan dunia luar. Di atasnya, langit rendah menaungi dengan sesekali membentangkan selimut awan tipis.

7C

Pesona Wae Rebo pun tidak seketika luruh tatkala matahari terbenam. Suasana malam di Wae Rebo tidak kalah memukau, dengan langit biru gelap dibayangi siluet pegunungan dan atap-atap rumah yang menjulang ditambah taburan bintang yang bersinar terang tanpa berkompetisi dengan cahaya lain. Di ketinggian 1.200 mdpl, Wae Rebo seperti asyik sendiri, mengabaikan dunia yang terus bergejolak, hidup dalam tuntutannya sendiri. Bahkan waktu pun seakan berjalan lambat disini. Para tamu yang ingin berkunjung pun harus bersedia melepaskan ego modernisme untuk digadaikan dengan rasa syukur akan kedamaian, kesederhanaan dan kecukupan di peradaban Wae Rebo.

2

Photo/Text : @nfadilah.xi

 

 

Touchdown at Melbourne

Touchdown at Melbourne

Memulai perjalanan menuju ke Melbourne, tanah Australia yang kata teman teman saya “The Most Liveable City in Australia”. Okeh, mari kita buktikan. Melipirlah kami ke bandara dan terbang dengan penerbangan ala ke luar negeri. Ya, memang menuju luar negeri sih. To us, overnight flight is the best choice for budget savers. Of course, we are saving to more great things that will happen in Melbourne, hopefully. Spesialnya dari terbang malam hari adalah, sampai di tujuan pagi! Mendapatkan pemandangan udara tanpa kabut asap dan horizon yang membelah dua warna tidak terjadi setiap hari di Jakarta. Walaupun Australia terlihat dekat, tapi kesini memakan waktu 8 jam. Ditambah terbang malam hari, tidur nyenyak dengan bantal tambahan merupakan sebuah momen yang patut dilupakan. Karena kami tidur. He. Tapi, bangun di saat yang tepat.

IMG_5993

IMG_5793

Here we come, Melbourne. Skip the boring part as packing out and so on, we managed to find one thing that we need. Coffee, speciality coffee. Disini hampir tidak ada kopi wanita hijau (we’ve said this before, I guess), karena sebagian besar memiliki kemampuan untuk mengolah dan mencari kopinya masing masing menjadi sesuatu yang spesial. Pour over coffee, espresso machines, and a lot of styles of making coffee with each complexity of taste and aroma kept this city cool phase. Selain itu, makanan juga menjadi satu hal yang menyenangkan di sini, bisa dilihat di artikel kami tentang makan minum di Melbourne di sini. Maklum kami turis di kota baru ini jadi semua perlu diabadikan, yeah.

IMG_5427

IMG_5428

IMG_5429

IMG_5434

Di luar itu, terdapat banyak spot menarik yang akan memiliki visual yang berbeda di setiap periodenya. Beberapa yang kami temui adalah seperti tempat semua kereta bertemu, yaitu Melbourne Central. Bangunan yang terlihat tua ini adalah satu bagian yang dilindungi sebagai spot penting di Melbourne secara sejarah. Di bagian depannya terdapat banyak graffiti artist yang berkerja dan membuat lukisan lukisan asik dari film film terkenal seperti Avengers.

IMG_5843

IMG_5872

DSC02138

Social Mode On, Road to WWIM 13

Social Mode On, Road to WWIM 13

1458489414852

Banyak sekali generasi muda yang menggunakan Instagram. Instagram menjadi sosial media favorit bagi generasi muda di Indonesia. Terlihat dari banyaknya komunitas foto yang diciptakan para generasi muda Indonesia seperti, @streetmeetina, @squaregrapher, @visitandshot, @urbexpeople, dan masih banyak lagi.

IMG_2811

IMG_2804

IMG_8023

Instagram juga membawa budaya baru bagi para penggunanya. Salah satunya muncul dengan WWIM ( World Wide Instameet ). WWIM menjadi acara wajib bagi para pengguna Instagram terutama di Indonesia. Kali ini Road To WWIM diselenggarakan untuk membangkitkan kembali budaya WWIM yang semestinya. WWIM dibuat untuk seluruh pengguna instagram agar tidak hanya kenal melalui dunia maya saja tetapi bisa saling bertemu di kehidupan nyata. Road To WWIM13 mengumpulkan seluruh pengguna instagram sebelum WWIM13 nanti (April) dengan membawa satu bendera yaitu Instagram tanpa membawa masing-masing komunitas.

IMG_2803

Photo :
@dwikigemilang
@19marv
@marissayu_
Text : @gevaldi