ide

[proc·ess] Dibalik tempat tidur Rumah Sakit

[proc·ess] Dibalik tempat tidur Rumah Sakit

“Welcome to our newest program, called The Process”

Dalam program ini kami ingin berbagi secara lebih mendalam tentang “proses pembuatan” yang mungkin belum diketahui oleh banyak orang. Kali ini kami ingin berbagi pengetahuan tentang “Hospital Bed”.

Ya, tempat tidur rumah sakit. Mungkin banyak dari kita yang kurang sadar atau kurang menyadari keberadaan alat ini. Nyatanya, tempat tidur rumah sakit memegang peran penting dalam keseharian setiap pasien yang datang ataupun dirawat. Pertimbangan pemilihan dari tempat tidur ini juga sangat beragam, mulai dari fitur apa saja yang akan kita dapatkan hingga tampilan atau kenyamanan yang bisa didapatkan oleh pengguna.

Untuk mempelajari hal tersebut, kami datang ke salah satu pabrik tempat tidur rumah sakit milik DV MEDIKA yang terletak di Solo. DV Medika Sendiri adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penjualan dan pembuatan peralatan medis dan kesehatan.

Penasaran? Check this out

Bersantai di Atas Hotel

Bersantai di Atas Hotel

Biasanya kami menghabiskan akhir pekan untuk pergi menjelajahi beberapa tempat baru. Tetapi, beda dengan kali ini, kami hanya memilih untuk menetap di satu tempat untuk bertukar cerita, berbagi canda dan tawa. Bergeser sedikit ke daerah Kemang, Jakarta Selatan, disana kalian akan menemukan tempat yang cocok untuk bersantai bersama teman-teman, di Hotel Monopoli.

p1380622_25311778527_o

p1380592_40151005332_o

Sebelum masuk, hanya dengan melihat arsitektur luar gedung kalian mungkin akan mengenali gedung ini. The Syah Establishment, mungkin itu yang akan terpikirkan oleh kalian yang “sadar”. Grup yang memiliki Bauhaus, The Gunawarman, Lucy in The Sky dan masih banyak lagi. Jadi gak heran, kalau perpaduan seni, budaya, fashion yang ada didalam gedung ini pernah kalian lihat di tempat lain. Karena memang benar Hotel Monopoli merupakan salah satu properti dari The Syah Establishment.

p1380595_39285409505_o

p1380611_39285347295_o

p1380626_28403313779_o

Tiba pukul 5 sore, dan kami langsung menuju rooftop bar yang dimiliki Hotel Monopoli, The Moon. Dengan suasana garden tropis, ditambah kolam renang kecil dipenuhi oleh pelampung-pelampung lucu semakin melengkapi suasana rooftop bar ini sendiri. Makanan yang disediakan pun tidak kalah enak dengan suasananya, apalagi melengkapi keindahan langit Jakarta di sore hari yang tentunya harus diabadikan oleh lensa kamera dan lensa mata kita pastinya.Jangan khawatir, disini juga banyak spot foto bagi kalian yang suka foto. So, jangan lupa abadikan kebersamaanmu dengan teman-temanmu ya!

Street Art X Content Creation – LXPR Development Program

Street Art X Content Creation – LXPR Development Program

Kami percaya bahwa belajar tidak harus selalu dilakukan di dalam kelas. Datang dari pagi hingga malam setiap harinya akan sangat membosankan. Nyatanya, kita bisa belajar dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun. Banyak media yang bisa dijadikan sarana untuk belajar. Salah satu contohnya, kamu bisa datang ke sebuah workshop!

WhatsApp Image 2017-11-11 at 16.16.04

WhatsApp Image 2017-11-11 at 16.16.51

Akan tetapi, sebelum datang ke sebuah workshop kamu harus mencari tahu terelebih dahulu tentang workshop yang akan kamu tuju. Kamu tidak ingin, kan, duduk dan menghabiskan waktu untuk hal yang kamu tidak suka? Kalau kamu menyukai topik dan isi dari workshop tersebut, pastinya kamu akan mengikuti sesinya dengan serius dan senang hati. Beside, by participating on a workshop, we will get more experience, knowledge and soft skill!

WhatsApp Image 2017-11-11 at 16.16.52 (1)

WhatsApp Image 2017-11-11 at 16.16.53

Salah satu workshop yang bisa kamu kunjungi adalah LXPR Development Programme atau disingkat XDP. Workshop kreatif ini adalah workshop yang selalu diadakan setiap bulan, pastinya dengan tema yang berbeda – beda. Kali ini, @lxprjakarta bekerja sama dengan @pedmons kembali menggelar LXPR Development Programme #002 dengan tema “Creative Content Making in Terms of Public Relations“. Street Art x Content Creation adalah bahasan utamanya.

WhatsApp Image 2017-11-11 at 16.16.55

Selain membuat sebuah street art, didalam workshop tersebut, @pedmons juga tips and trick untuk membuat konten yang baik dan efektif dalam industri humas, agar pesan dari konten kita bisa tersampaikan dengan baik. He also told all participants on how street art could merge to modern industry!

WhatsApp Image 2017-11-11 at 19.03.08 (1)

Kalau kamu penasaran dan ingin berpartisipasi dalam workshop XDP, kamu bisa pantau terus instagram @lxprjakarta dan tunggu workshop selanjutnya ya!

Stay creative, Mazzers! 

Speaker – Pratama Eka Dharma : @pedmons

LXPR : @lxprjakarta

Makan Sehat di Pusat Perbelanjaan, Berhenti untuk Salad

Makan Sehat di Pusat Perbelanjaan, Berhenti untuk Salad

Kami telah banyak melihat berbagai macam quotes yang ada di media sosial tentang hidup sehat. Satu kalimat yang masih teringat adalah “Your diet is a bank account. Good food choices are good investments – Bethenny Frankel“. Maka dari itu, kali ini kami akan berbagi pengalaman makan yang bukan hanya bisa membuat kamu kenyang, tetapi makanan ini juga bisa membuat kamu sehat tentunya.

Sebenarnya ada berbagai macam pilihan tempat makan yang bisa kamu kunjungi untuk memenuhi kebutuhan protein dan juga vitamin. Tapi kali ini pilihan kami tertuju pada Salad Stop. Gerai ini bisa kamu temui dengan mudah di beberapa pusat perbelanjaan di tengah kota Jakarta seperti Senayan City & Grand Indonesia.

2017-10-30 10.45.22 1

2017-10-30 10.49.42 1

Di Salad Stop ada berbagai macam pilihan menu yang bisa kamu coba. Kami mendapatkan rekomendasi untuk mencoba Cobb Salad dengan kandungan romaine lettuce, ayam panggang yang dipotong halus, daging sapi, alpukat, keju cheddar, tomat ceri, telur & bawang merah dipadukan dengan sayuran lainnya. “Menu yang ini memliki kandungan protein yang tinggi.” kata salah satu pelayan disana. Kamu juga bisa memilih lebih dari 30 pilihan toping yang berbeda. Untuk harga, kamu tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam, hanya dengan Rp75.000 – Rp 105.000 kamu sudah bisa menikmati menu yang ada disana.

Bila kamu tidak suka dengan salah satu sayur yang ada, kamu tidak perlu khawatir. Kamu bisa konfigurasi sendiri salad atau wrap pilihan kamu, take what you like. Jika masih penasaran kamu bisa langsung berkunjung ke salah satu gerainya atau kamu bisa kepo dulu di saladstop.com. Let’s start our healthy life Mazzers!!

2017-10-30 10.49.42 2

2017-10-30 10.45.23 1

2017-10-30 10.49.43 1

Kongkow Bareng : Teddy Adhitya

Kongkow Bareng : Teddy Adhitya

Kongkow bareng adalah sesi live recording music yang dibuat untuk mazzers. Sederhana, untuk menjadi referensi bagi kamu yang suka musik tanpa batas musik apa. Selain itu juga karena sesi ini live recording, jadi kamu bisa menilai sendiri keren atau kurangnya performance dari masing masing musisi.

Look out for more updates on our website and support the artist :

Soundcloud : teddyadhitya

Twitter : @teddyadhitya

Instagram : teddyadhitya

[Live Recording] Fourtwnty di Festival Komunikasi

[Live Recording] Fourtwnty di Festival Komunikasi

LSPR Communications Festival adalah sebuah acara yang diadakan pada bulan Juli 21-23 2017 silam di FX Sudirman. Acara ini terselenggara berkat kerjasama dari murid murid LSPR khususnya batch 18. Disana kamu bisa menemukan Bazaar, Exhibitions, Talk Shows dan juga Concerts.

Fourtwnty adalah salah satu pengisi acaranya. Band ini berasal dari Jakarta dan beranggotakan Ari Lesmana, Nuwi & Roots. Kalau kamu penasaran dengan penampilan Fourtwnty di LSPR Communication Festival, silahkan temukan beberapa penampilannya di bawah ini Mazzers!

 

More about LSPR Communications Festival

More updates from Fourtwnty :
Twitter : fourtwntymusic
Soundcloud : fourtwntymusic
Youtube : fourtwntymusic
Facebook : fourtwntymusic
Instagram : fourtwntymusic

Find your Analog Camera at Lowlight Bazaar

Find your Analog Camera at Lowlight Bazaar

Jadul & lampau, adalah ungkapan yang langsung terpikir bila mendengar kata “analog”. Tapi sesuatu yang jadul bukan berarti selalu memberikan konotasi yang negatif kan Mazzers? Contohnya ada ungkapan seperti “age is like fine wine, it gets better with time“. Hal ini juga berlaku di beberapa barang, salah satunya adalah kamera. Bukan tanpa alasan kami mengeluarkan pernyataan tersebut. Kami sempat datang dan menikmati pameran kamera analog.

6678508581410.LINE

6678508604234.LINE

Awal, kami tidak terlalu mengerti mengapa banyak yang bernostalgia dengan kamera tipe ini. Rasa penasaran mendorong kami untuk pergi mengunjungi salah satu pameran “lowlight bazaar 11“. Diadakan di Wisma Subud Fatmawati, dan karena analog, kami sempat berpikir bahwa yang akan datang adalah orang-orang berumur yang ingin bernostalgia dengan masa lalunya. Ternyata dugaan kami salah total, pengunjung acara ini hampir seluruhnya adalah anak muda dengan antusiasme tinggi memilih lensa dan badan kamera untuk keperluan mereka. Hobi ini seperti kembali ke masa lalu, dan tentunya menjadi salah satu investasi yang dapat dipertimbangkan (cie sok tua).

6678508641585.LINE

6678508820076.LINE

Di pameran ini kamu benar benar bisa menemukan berbagai macam pilihan badan kamera analog, lensa dan juga roll film dengan merek yang berbeda – beda. Tapi kamu harus sedikit bersabar karena tempatnya benar-benar penuh dengan antrian pembelian. Acara ini merupakan acara rutin yang diadakan oleh Jelly Playground, cek timeline mereka agar kamu tidak ketinggalan bazaar selanjutnya ya Mazzers.

6678508970850.LINE

6678508988601.LINE

300 kg ikan di pusat perbelanjaan

300 kg ikan di pusat perbelanjaan

Let’s see a grouper“, satu kalimat yang keluar dari mulut seorang teman. Kami sempat bertanya-tanya apa yang menarik dengan hanya melihat sebuah ikan yang bahkan bisa kamu temukan di restoran. Dia tidak memberikan keterangan lebih lanjut tentang hal tersebut dan meninggalkan kami dalam satu tanda tanya besar.

00778

00785

Kami diarahkan ke pusat perbelanjaan di Barat Jakarta. Neo Soho untuk lebih tepatnya. Sempat terpikir bahwa kami akan diajaknya ke sebuah tempat makan. “mungkin dia hanya bercanda”. Tetapi sesampainya disana kami diarahkan ke sebuah tempat bernama “Jakarta Aquarium” kami sempat mendengar sebelumnya tentang tempat ini, tapi kami belum mencari tahu lebih dalam tentang apa yang ada di dalamnya.

00804

00820

Menghabiskan waktu kurang lebih 1,5 jam di dalam aquarium. Kami banyak berpikir tentang bagaimana bisa mereka memasukkan begitu banyak ikan kedalam sebuah pusat perbelanjaan. Sedikit cerita tentang Jakarta Aquarium, disana kamu bukan hanya akan menemukan ikan saja tetapi ada beberapa satwa lain seperti jenis reptil.

00788

00797

Akhirnya tujuan dari akhir pekan ini semakin jelas saat kami dipampangkan dengan satu aquarium besar. Teman kami dengan semangat menunjuk satu ikan. Ikan kerapu 300Kg adalah maksud teman kami. Melihatnya berenang bebas sangat menghibur kami! Mungkin kami akan lebih sering mengunjungi tempat wisata seperti ini.

00890

00871

00869

00858

Photo : Desy Rufaida

Kongkow Bareng : Gloria Jessica

Kongkow Bareng : Gloria Jessica

Kongkow bareng adalah sesi live recording music yang dibuat untuk mazzers. Sederhana, untuk menjadi referensi bagi kamu yang suka musik tanpa batas musik apa. Selain itu juga karena sesi ini live recording, jadi kamu bisa menilai sendiri keren atau kurangnya performance dari masing masing musisi.

Look out for more updates on our website and support the artist :

Instagram : @gloriajessicaid

Facebook : gloriajessicaid

Twitter : @gloriajessicaid

Youtube : GjGltm

2565 di Atas Permukaan Laut

2565 di Atas Permukaan Laut

Mendaki gunung untuk sebagian orang mungkin merupakan momok yang menakutan, apalagi untuk perempuan. Jalan menanjak yang panjang, panas, medan yang dipenuhi batu, kerikil dan tanah merah. Mendenganya saja sudah melelahkan bukan? Bermula dari ajakan teman, saya pun langsung setuju. Mendaki gunung, salah satu sahabat saya bilang kalau saya sudah gila. Bukan tanpa alasan, karena ini adalah gunung pertama saya,”Mt Prau 2565 mdpl”

2017-05-13 12.48.57 1

2017-05-13 12.49.15 1

Kami berangkat bersama sembilan orang pendaki lainnya. Jujur, saya pun belum mengenal mereka dengan baik. Perjalanan dari Pasar Minggu menuju Wonosobo memakan waktu kurang lebih 9 jam. Sepanjang perjalanan saya habiskan dengan mengobrol, mendengarkan lagu dan tidur dengan harapan sesampainya di Wonosobo saya memiliki cukup energi untuk melanjutkan pendakian. Kami sampai di Teminal Wonosobo pukul 01.00 pagi, lebih cepat dari jadwal yang diperkirakan dan akhirnya kami pun menunggu di Terminal untuk dijemput dengan mobil jemputan pukul 06.00 pagi.

2017-05-21 01.29.39 2

2017-05-13 12.49.00 1

Pendakian pun dimulai. Tengah perjalanan menuju Dieng, saya terus berpikir apakah keputusan saya untuk mendaki gunung adalah keputusan yang benar. terlebih 2 minggu sebelum keberangkatan kami mendapat berita yang tidak mengenakan yaitu musibah yang terjadi pada pendaki lain ketika mereka mendaki ke Prau. Tapi saya nekat berangkat tentunya dengan izin Allah dan kedua orang tua saya. Sesampainya di Dieng, kami disapa oleh udara pagi yang dingin dan sejuk, embun dan kabut yang masih tebal. Cahaya matahari pun masih samar. Suasanya yang tidak bisa didapatkan di kota besar layaknya Jakarta. Setelah menaruh perlengkapan kami di basecamp, di tengah perkebunan, kami pun sarapan Mie Ongklok, makanan khas Dieng.

2017-05-13 12.49.02 1

2017-05-22 03.32.22 1

Kami sempat mengunjungi beberapa tempat wisata di Dieng seperti Kawah Sikidang, Talaga Warna dan Candi Arjuna. Setelah puas melihat pemandangan dan berfoto-foto kami pun kembali ke basecamp untuk makan siang dan beristirahat sebelum mendaki Gunung Prau. Pukul 16.00 kami berangkat menuju Gunung Prau melalui Jalur Dieng. Sebenarnya terdapat beberapa pilihan jalur menuju puncak Prau, tapi jalur Dieng adalah jalur yang direkomendasikan untuk pemula seperti saya walaupun butuh waktu yang lebih lama yakni 4 – 4,5 jam.

Photo & Text : Deska Dera

Curug dari Kejauhan

Curug dari Kejauhan

Jika melihat kalender beberapa minggu kemarin, pasti kita akan banyak menemukan tanggal merah yang ada di tengah-tengah minggu. Bisa jadi hari Senin, Kamis, Rabu atau hari lainnya selain Sabtu atau Minggu tentunya. Banyak rencana liburan yang sudah dibuat mulai dari keluar kota ataupun keluar negri.

Short escape kami kali ini dihabiskan di Bumi Parahyangan. Sederhana, waktu liburan kami dihabiskan di Barat Jawa, Bandung. Jenuh dengan pilihan liburan yang sering kami datangi di Bandung, kamipun berinisiatif untuk meminta rekomendasi dari sahabat kami yang sedari kecil tinggal disana. Panggil saja Averous, “Kalo mau main di alam, mending ke Cimahi aja disitu ada tempat yang bagus juga, coba aja ke Curug Cimahi!”. Sejujurnya tujuan utama kami ke Bandung kali ini, bukan sekedar mengisi liburan di tengah-tengah minggu. Tetapi kami harus menghadiri undangan penikahan teman kami.

IMG_0526

Dengan waktu yang singkat kamipun, memasukkan keywords “Curug Cimahi” kedalam GPS. Ternyata letaknya tidak begitu jauh dari kota Bandung. Curuh Cimahi sendiri juga bisa disebut dengan Curug Pelangi. Percaya atau tidak Curug ini terletak di tikungan jalanan, jadi mungkin agak sulit bagi pengendara mobil untuk mendapatkan parkir. Walaupun parkirannya jauh, rasa lelah kami terbayarkan oleh suasana yang terpampang di depan mata kami. Hijau dan Sejuk, lebih dari cukup untuk sekedar melepas kepenatan.

IMG_0545

IMG_0574

Saat kami datang kami hanya bisa menjelajah sampai pos lihat ke 2. Pihak pengelola dari Curug Cimahi sendiri tidak membuka untuk pos-pos selanjutnya, tapi menurut kami itu sudah cukup. Jalan yang harus dilalui memang sudah berbentuk tangga yang rapih sehingga aman untuk naik dan turun, tapi jangan sangka bahwa ada banyak sekali anak tangga yang harus dilewati dari atas menuju ke bawah. Memang kami tidak bisa sampai mendekati air terjun tersebut, tapi memandang dari jauh apa yang Tuhan telah ciptakan sudah memuaskan kami dalam perjalanan kali ini.

IMG_0574

IMG_05372

EXI(S)T in National Gallery of Indonesia

EXI(S)T in National Gallery of Indonesia

Nampaknya, usia bukan menjadi sebuah tolak ukur dari karya seni yang dihasilkan, melainkan karya nyata yang bisa kita nikmati. DIA.LO.GUE hadir dengan sebuah project yang dinamakan EXI(S)T yang bertujuan sebagai tempat inkubasi calon seniman muda untuk mengembangkan potensi artistiknya dengan mengadakan pameran rutin setiap tahunnya.

abtract

DSC09437 copy

Acara ini bisa kamu nikmati mulai dari tanggal 16 Mei hingga 5 Juni di Gedung B & D Galeri Nasional. Kali ini, EXI(S)T 2017 hadir dengan tema Tomorrow As We Know It. Dengan maksud bisa mengajak para seniman untuk memprediksi dan menginteprestasikan masa yang akan datang. Karena pada dasarnya, baik jauh maupun dekat, masa depan itu memiliki beragam perspektif yang menggambarkan setiap generasi muda pada saat ini.

DSC09451copy

DSC09456 copy

Pameran EXI(S)T ternyata sudah berlangsung selama 5 tahun berturut-turut dan berusaha mengajak para penikmat seni ‘keluar’ (to exit) dari jalur yang sudah mereka jalani untuk ‘ada’ atau ‘hadir’ (to exist) di peta seni rupa Indonesia, khususnya Jakarta. Itulah yang telah dibuktikan oleh Bey Shouqi, Dhanny Sanjaya, Edita Atmaja, Faisal Rahman Ursalim, Fransisca Retno, Gadis Fitriana, Grace Joetama, Ivan Christianto, Kara Andarini, Monica Hapsari, Ratu R. Saraswati, Rianti Gautama, Sarita Ibnoe, Wangsit Firmantika, dan Yaya Sung kali ini. Jadi, mari sempatkan waktu untuk mampir ke Galeri Nasional yang berada di Medan Merdeka Timur ini ya mazzers.

karunf

Photo & Text : desyrufaida

Danau Terindah Selama Hidup

Danau Terindah Selama Hidup

Ide untuk pergi ke sebuah danau terdengar megah di telinga saya. Setelah perjalanan panjang menuju puncak dan melewati 7 bukit penyesalan, saya benar-benar berhak menerima sebuah hadiah. Satu hal yang saya tahu, jalanan menurun sama sulitnya dengan jalan menanjak.

Setelah 7 jam berjalan, kami akhirnya sampai di tempat perkemahan yang terletak didekat danau. Berjalan di kegelapan bisa mematahkan semangatmu. Ketika malam menjadi semakin gelap, jalan semakin terlihat tidak berujung. Hal menjadi semakin buruk ketika kaki saya cedera dan saya demam pada malam itu. Setelah makan malam yang singkat, saya minum obat dan tidur. Badan saya membutuhkan istirahat setelah 3 hari tidak berhenti berjalan.

rinjani explore porter demas ryan grace filled travel junkie segara anak danau lake summit puncak lintang indonesia lombok backpack (1)

Malam itu terasa seperti mimpi buruk. Ditambah lagi kami harus berjalan 12 jam pada esok hari. Matahari pun terbit dan semua berubah saat pagi hari. Saya bangun di hadapan danau yang sangat indah, bahkan saya bisa menatapnya hingga berjam jam. Otot saya nyeri dan kaki kiri saya masih cedera. Tetapi semangat saya entah bagaimana bangkit hanya dengan melihat danau paling indah yang pernah saya lihat seumur hidup saya. Danau Segara Anak.

rinjani explore porter demas ryan grace filled travel junkie segara anak danau lake summit puncak lintang indonesia lombok backpack 2 (1)

Danau Segara Anak bisa membayar rasa sakit saya. Bila punya waktu lebih, paling tidak kamu harus menghabiskan sehari di sekitar danau. Beberapa aktivitas yang bisa kamu lakukan adalah mandi, berenang, memancing dan merasakan mandi air panas. Sayangnya, rasa sakit ini tidak mengizinkan saya untuk melakukan semua hal itu. Yang saya lakukan hanyalah duduk di tepi danau dengan secangkir kopi panas di tangan saya. Namun itu pun juga momen yang menyenangkan.

rinjani explore porter demas ryan grace filled travel junkie segara anak danau lake summit puncak lintang indonesia lombok backpack 8 (1)

Untuk mencapai ke danau, saya harus melewati perjalanan yang cukup panjang. Ini adalah video yang bisa merangkup itu semua. Perhatian: ini apa yang bisa kamu lihat 4 hari tanpa mandi.

Seperti yang sudah dituliskan di atas, saya harus berjalan 12 jam lagi untuk mencapai ke tempat peristirahatan. Semua orang sebisa mungkin bangun lebih pagi agar bisa sampai pada pukul 8 malam. Bagaimanapun, semua sangat terpesona dengan pemandangan danau tersebut. Kami akhirnya meninggalkan danau pada pukul 10:30 dan sampai pada pukul 12 malam. Perjalanan kembali mamang sangat panjang dan juga melelahkan, tapi sangat menyenangkan ketika kami mulai melihat peradaban. Dengan adanya peradaban, maksud saya, penjual minuman dengan minuman dingin.

Catch full story of this here. More stories in Grace Filled Travel Junkie, Demas Ryan.
Text/Photo : @demasryan

Sejarah dan Secangkir Kopi dalam Festival

Sejarah dan Secangkir Kopi dalam Festival

Menghabiskan senja di Barat Jakarta, kami punya beberapa pilihan untuk menikmatinya. Kami memilih untuk pergi ke museum, teman kami sempat bertanya “untuk apa ke museum sore – sore, tutup!” ungkapnya. Bukan tanpa tujuan kami datang, kami hadir ke acara “Pesta Kopi Mandiri”.

P1040794

Berbeda dengan beberapa festival kopi lainnya, acara ini diadakan di museum. Museum Mandiri, Jakarta Barat dengan tema #ngopidimuseum. Menariknya acara ini secara tidak langsung bertujuan untuk membuat banyak orang untuk mau berkunjung ke museum. Selain menambah pengetahuan bisa bersantai sambil minum kopi juga. Memang kopi tidak hanya tentang minum, tetapi mengenal sebagian sumber daya Indonesia yang memiliki potensi. Banyaknya jenis penjual kopi, cafe dan jenis jenis biji kopi menjadikan banyak pula festival dimana kita yang mau. Bisa belajar banyak tentang kopi.

P1040801

P1040808

Jika kamu tidak menyukai kopi dengan cita rasa pahit, disana kamu juga bisa menemukan kopi dengan rasa manis. Kamu bisa memilih dimana kamu ingin membeli kopi yang kamu mau, karena ada kurang lebih 30 tenant kopi yang hadir dalam acara tersebut. Maksud kami dengan tenant, adalah cafe cafe yang kamu kenal di Jakarta.

P1040819
Selain minum kopi dan juga bersantai di museum, di sana kamu juga bisa menyaksikan screening film Filosofi Kopi, menghadiri baazar, workshop dan menyaksikan lomba  ABCD Latte Art showdown. Sebelumnya acara ini sudah digelar di Yogyakarta dan kedepannya akan diadakan juga di Surabaya dan Medan. Jangan lupa cek jadwalnya ya Mazzers.

 

Cita-Cita Setinggi Langit RIXA

Cita-Cita Setinggi Langit RIXA

Sewaktu kecil kita sering sekali mendapat pertanyaan tentang cita-cita dari siapa saja, bahkan pertanyaan seputar cita cita itu sudah dilontarkan sejak kita duduk di bangku taman kanak-kanak. Dengan semangat kita menjawab, dokter, guru, pemadam kebakaran dan cita cita lainnya. Kami selalu ingat satu jawaban tentang cita-cita yang mungkin bila dipikirkan lebih lanjut cita cita itu semakin tidak realistis, astronot.

Haryadhi mencoba menghilangkan perspektif tidak realistis tersebut menjadi mungkin dalam sebuah komik. Kalo kamu salah satu yang mengikuti KOSMIK, pasti kamu sudah tidak asing lagi mendengar kata RIXA, komik ini sudah masuk episode kedua. Rixa, berasal dari kata antariksa adalah cerita yang digambarkan oleh Haryadhi yang bercerita tentang perjalanan seorang anak perempuan untuk mewujudukan mimpinya menjadi astronot.

Illustration-Guide---astronaut-suit

Contoh Storyboard

Menjadi bahan bacaan untuk menginspirasi generasi muda, agar mereka lebih banyak mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi. Komik ini juga untuk menginspirasi khususnya perempuan, karena perempuan juga dapat beraksi sebagai Astronot. Kartini jaman millenial bukan cuma sosial media. Ini adalah tujuan- tujuan Haryadhi dalam membuat komik ini.

Meskipun hanya berbentuk komik fiksi, riset yang dilakukan oleh Haryadhi dilakukan secara dalam dan mendetail. Haryadhi banyak membaca buku dan menonton film tentang luar angkasa. Riset juga dilakukan di LAPAN, Haryadhi mengaku banyak memperoleh pengetahuan tentang antarikasa disana.

maxi 2

maxi 1

Komik RIXA juga dibuat berdasarkan perhitungan yang akurat juga loh mazzers. Beberapa bagian yang ada hadir dengan menguji rumus dan memasukkannya kedalam cerita. RIXA akan keluar sebagai cover dalam Kosmik 2nd Orbit Issue #4. Buat yang ingin langsung baca online, langsung saja klik kosmik.id lalu cari RIXA


Photo : @kosmikspace

 

Menjadi “Anak“ Wae Rebo

Menjadi “Anak“ Wae Rebo

Menilik persyaratannya, untuk menjadi “anak” Wae Rebo sebetulnya tidak sulit. Desa kecil ini ibarat tangan terbuka, selalu menyambut para pengunjungnya sebagai anak-anak Wae Rebo yang baru kembali dari tanah rantau.

Syaratnya hanya satu, restu dari leluhur yang didapatkan dengan mengikuti upacara penghormatan leluhur atau disebut Waelu’u selama lima hingga sepuluh menit di salah satu rumah Mbaru Niang bernama Niang Gendang. Dalam upacara tersebut tetua adat akan memintakan restu leluhur dan mendoakan setiap pengunjung dalam bahasa setempat. Selepas upacara, persis ketika keluar dari Niang Gendang, kita sudah menjadi “anak” Wae Rebo. Walaupun terkesan sederhana, upacara penerimaan ini begitu penting dan wajib.

6a

Untuk menjadi “anak” Wae Rebo yang sesungguhnya, mengenal sejarah desa ini menjadi suatu keharusan. Dalam buku “Pesan Dari Wae Rebo” oleh Yori Antar, dikisahkan bahwa penduduk Wae Rebo adalah keturunan Empo Maro, pelaut asal Minangkabau yang berlayar bersama keluarganya hingga ke pulau Flores dan menetap di berbagai desa di Manggarai. Setelah lama berpindah-pindah karena berbagai sebab –salah satunya mengikuti arahan rubah, Empo Maro akhirnya mendapat ilham untuk pindah ke sebuah wilayah di timur, menetap di desa tersebut dan memberi nama “Wae Rebo”. Seperti leluhurnya, penduduk Wae Rebo keturunan Empo Maro ini dipercaya sebagai orang-orang yang ahli berkebun dan berburu. Terbukti bahwa berkebun adalah mata pencaharian utama penduduk Wae Rebo dengan menghasilkan kopi, jeruk, sirih, markisa, jahe, dan temulawak. Sedangkan para wanitanya menenun kain Cura.

1b

Saya lalu mencoba sudut pandang berbeda yaitu dengan mengamati anak-anak Wae Rebo yang begitu asyik bermain di alam terbuka, spontan membuat saya gembira karena teringat adegan-adegan film Laskar Pelangi. Namun segala keseruan berakhir ketika hari sudah gelap, ketika semua harus masuk rumah sebab keluar di malam hari tanpa penerangan bisa beresiko bahaya. Bagi anak-anak Wae Rebo masa kecil ialah suatu tempo kehidupan yang singkat, sesingkat pagi berganti malam. Menginjak usia sekolah, anak-anak ini harus merantau ke desa tetangga atas tuntutan literasi dan pendidikan. Sekolah Dasar paling dekat terletak tiga jam berjalan kaki turun gunung ditambah empat jam untuk kembali naik. Melanjutkan ke sekolah menengah berarti harus merantau lebih jauh lagi, kalau perlu sampai ke Ruteng.

4a

Photo & Text : Nur Fadilah

Fondasi Studi Rantau Negeri

Fondasi Studi Rantau Negeri

Percaya atau tidak, belajar di luar negeri memiliki beberapa prinsip yang sama dengan menikah. Keduanya melibatkan komitmen, menghindari kegagalan dan dimulai dengan mencari ‘sesuatu yang tepat’. Sebelum mengatakan “ya”, kamu harus 100% yakin dengan apa yang kamu inginkan terlebih dahulu. Melakukan hal tersebut akan menyelamatkan kamu dari kemungkinan untuk berubah pikiran. Baik program, universitas, negara tujuan atau pasangan hidup.

Universitas di luar menawarkan berbagai macam program. Sekali lagi, berbagai macam. Goldsmiths misalnya, ada Master of Arts dalam subjek ‘Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Memahami Pelecehan Seksual’. Bagi saya, pertama saya melihat jurusannya terlebih dahulu, diikuti oleh universitas dan negara. Kamu bisa mulai dari mana saja. Jangan malas, lakukan penelitian, temukan kedamaian jiwa, meditasi, atau apa pun kecuali membiarkan orang lain membuat pilihanmu. Kamu tidak akan membiarkan orang lain memutuskan dengan siapa kamu akan menikah, kan? Saya harap tidak, karena kamu yang akan melalui semua lintang kehidupan itu, bukan orang lain. Saya percaya bahwa ketika kamu 100% yakin dengan pilihan mu, semakin besar kemungkinan kamu akan menyukainya. Kemudian jika kamu suka, kamu akan bisa menikmati bagian paling sulit sekalipun.

Abroad2

Abroad1

Bohong jika saya mengatakan, saya tidak punya motif tersembunyi saat belajar di luar negeri. Ini adalah kesempatan untuk bisa bepergian dan tinggal di negara yang saya suka. Meskipun salah satu teman saya berkata, “Having fun needs money“. Kamu mungkin telah mendengar tentang bagaimana uang adalah masalah sensitif bagi siswa. Teman-teman saya di sini harus mencari pekerjaan paruh waktu dan ada yang harus menunda studinya karena alasan keuangan.

Namun, jika kamu menyukai apa yang kamu pilih, kamu bisa bersenang-senang, gratis. Belajar akan menyenangkan karena kamu dapat belajar tentang hal-hal yang benar-benar kamu suka. Bahkan jalan-jalan atau berjalan sendirian di sekitar kota bisa menyenangkan. You are where you want to be. Apakah belajar di luar negeri lebih banyak sengsara daripada keasikannya? Silahkan kamu yang putuskan sendiri.

Satu hal yang pasti, kamu akan tumbuh dari situ.

Photo / text : Emerentiana Yuan

Peradaban Luhur di Haribaan Ancala Manggarai

Peradaban Luhur di Haribaan Ancala Manggarai

Menyebut “Wae Rebo” bahkan kepada sesama kawan Indonesia, seringkali harus disertai dengan keterangan tentang dimana lokasinya ataupun penggambaran deskriptif tentang seperti apa wujudnya. Karena letaknya di ketinggian ancala, saya pun mengasosiasikan Wae Rebo sebagai Machu Picchu-nya Indonesia dengan pengecualian Wae Rebo bukan kota mati namun sebaliknya begitu hidup dengan denyut nadi yang kuat. Sebetulnya saya berharap tidak menggunakan asosiasi ini lagi dalam waktu dekat, karena Wae Rebo sejatinya tidak tergantikan.

7B

Wae Rebo menjadi begitu istimewa karena Mbaru Niang, karya otentik arsitektur rumah tradisional yang diwariskan Empo Maro sang leluhur setempat dan diteruskan oleh para keturunannya. Mbaru Niang di Wae Rebo berjumlah tujuh buah, satu sama lainnya terlihat identik dalam bentuk dan ukuran berupa rumah beratap kerucut besar terbuat dari ijuk. Sebuah Mbaru Niang yang terletak di tengah berukuran sedikit lebih besar dengan tinggi dan diameter 15 meter sedangkan enam lainnya memiliki tinggi dan diameter 11 meter. Di Mbaru Niang yang bernama Niang Gendang atau Mbaru Tembong itulah tempat para tetua adat Wae Rebo berkumpul dan melaksanakan berbagai upacara adat.

7A

Mbaru Niang di Wae Rebo merupakan situs penting bagi para arsitek baik dalam negeri maupun luar negeri. Keunikan dan kekhasan Mbaru Niang berhasil menarik perhatian kalangan ini, diantaranya struktur rumah yang tidak berdinding dengan atap memanjang sampai melampaui lantai yang berbentuk panggung. Atap tersebut terbuat dari kerangka bambu sedangkan untuk penyangga setiap Mbaru Niang digunakan sembilan tiang kayu. Bambu dan kayu-kayu tersebut diikat satu sama lain memakai rotan. Masing-masing Mbaru Niang dihuni bersama oleh delapan kepala keluarga yang saling berbagi satu-satunya ruangan. Saya begitu bahagia karena ada satu Mbaru Niang disebut Niang Gena Maro yang diperuntukkan untuk para wisatawan. Sebagaimana warga asli Wae Rebo, kami berbagi satu ruangan yang sama, tidur berjejer melingkari setengah Mbaru Niang, juga duduk melingkar setiap kali akan makan.

4A

 

4B

Wae Rebo sebagai peradaban di ancala Manggarai ini sungguh mampu memikat hati siapa saja. Kompleks rumah tradisional Mbaru Niang ditata begitu apik membentuk setengah lingkaran, menyisakan halaman tengah yang luas pada puncak gunung yang datar. Di belakangnya, punggung pegunungan yang lebih tinggi melatari seolah-olah menjadi pagar yang memisahkan Wae Rebo dari kehidupan dunia luar. Di atasnya, langit rendah menaungi dengan sesekali membentangkan selimut awan tipis.

7C

Pesona Wae Rebo pun tidak seketika luruh tatkala matahari terbenam. Suasana malam di Wae Rebo tidak kalah memukau, dengan langit biru gelap dibayangi siluet pegunungan dan atap-atap rumah yang menjulang ditambah taburan bintang yang bersinar terang tanpa berkompetisi dengan cahaya lain. Di ketinggian 1.200 mdpl, Wae Rebo seperti asyik sendiri, mengabaikan dunia yang terus bergejolak, hidup dalam tuntutannya sendiri. Bahkan waktu pun seakan berjalan lambat disini. Para tamu yang ingin berkunjung pun harus bersedia melepaskan ego modernisme untuk digadaikan dengan rasa syukur akan kedamaian, kesederhanaan dan kecukupan di peradaban Wae Rebo.

2

Photo/Text : @nfadilah.xi