Pemandangan berupa bingkai foto, cuplikan biografi yang dicetak di canvas, serta furniture tua zaman belanda, sangat mendominasi ruangan pertama yang saya masuki. Sesuai dengan tujuan didirikannya museum Kartini, selain menjadi obyek wisata edukasi di Jepara, Jawa Tengah, juga untuk mendokumentasikan dan memamerkan peninggalan berupa benda – benda, pakaian, dan karya tulis serta memvisualisasikan kehidupan (biografi) R.A. Kartini.
Melihat isi museum ini membuat saya sadar bahwa makna hari kartini yang kita peringati setiap tanggal 21 April adalah lebih dari sekedar memakai kebaya, atau baju tradisional. Kebiasaan yang sudah berjalan bertahun – tahun itu sepertinya harus kembali diluruskan yaitu mengingatkan masyarakat Indonesia bahwa tujuan Soekarno menetapkannya sebagai pahlawan nasional pada tahun 1964, adalah karena pemikirannya yang luar biasa. Pemikiran tersebut ia tuangkan menjadi surat – surat yang ditulis untuk sahabat – sahabatnya di Belanda. Isi suratnya yang kemudian dibukukan berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang adalah tentang curahan hatinya atas perilaku tidak adil terhadap kaum wanita yang ia rasakan.
Meski kini keadaan sudah berbeda, kita harus tetap menghormati perjuangannya selama hidup. Sayang, Kartini harus meninggal di usia muda beberapa hari setelah melahirkan anak pertamanya. Kegigihan Kartini untuk memperjuangkan kaum wanita diteruskan oleh kawan – kawannya dengan membangun Sekolah Kartini di Semarang pada 1912.
Text/Photo : @sadidae