berkelana

[proc·ess] Dibalik tempat tidur Rumah Sakit

[proc·ess] Dibalik tempat tidur Rumah Sakit

“Welcome to our newest program, called The Process”

Dalam program ini kami ingin berbagi secara lebih mendalam tentang “proses pembuatan” yang mungkin belum diketahui oleh banyak orang. Kali ini kami ingin berbagi pengetahuan tentang “Hospital Bed”.

Ya, tempat tidur rumah sakit. Mungkin banyak dari kita yang kurang sadar atau kurang menyadari keberadaan alat ini. Nyatanya, tempat tidur rumah sakit memegang peran penting dalam keseharian setiap pasien yang datang ataupun dirawat. Pertimbangan pemilihan dari tempat tidur ini juga sangat beragam, mulai dari fitur apa saja yang akan kita dapatkan hingga tampilan atau kenyamanan yang bisa didapatkan oleh pengguna.

Untuk mempelajari hal tersebut, kami datang ke salah satu pabrik tempat tidur rumah sakit milik DV MEDIKA yang terletak di Solo. DV Medika Sendiri adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penjualan dan pembuatan peralatan medis dan kesehatan.

Penasaran? Check this out

Bersantai di Atas Hotel

Bersantai di Atas Hotel

Biasanya kami menghabiskan akhir pekan untuk pergi menjelajahi beberapa tempat baru. Tetapi, beda dengan kali ini, kami hanya memilih untuk menetap di satu tempat untuk bertukar cerita, berbagi canda dan tawa. Bergeser sedikit ke daerah Kemang, Jakarta Selatan, disana kalian akan menemukan tempat yang cocok untuk bersantai bersama teman-teman, di Hotel Monopoli.

p1380622_25311778527_o

p1380592_40151005332_o

Sebelum masuk, hanya dengan melihat arsitektur luar gedung kalian mungkin akan mengenali gedung ini. The Syah Establishment, mungkin itu yang akan terpikirkan oleh kalian yang “sadar”. Grup yang memiliki Bauhaus, The Gunawarman, Lucy in The Sky dan masih banyak lagi. Jadi gak heran, kalau perpaduan seni, budaya, fashion yang ada didalam gedung ini pernah kalian lihat di tempat lain. Karena memang benar Hotel Monopoli merupakan salah satu properti dari The Syah Establishment.

p1380595_39285409505_o

p1380611_39285347295_o

p1380626_28403313779_o

Tiba pukul 5 sore, dan kami langsung menuju rooftop bar yang dimiliki Hotel Monopoli, The Moon. Dengan suasana garden tropis, ditambah kolam renang kecil dipenuhi oleh pelampung-pelampung lucu semakin melengkapi suasana rooftop bar ini sendiri. Makanan yang disediakan pun tidak kalah enak dengan suasananya, apalagi melengkapi keindahan langit Jakarta di sore hari yang tentunya harus diabadikan oleh lensa kamera dan lensa mata kita pastinya.Jangan khawatir, disini juga banyak spot foto bagi kalian yang suka foto. So, jangan lupa abadikan kebersamaanmu dengan teman-temanmu ya!

Mempelajari budaya Tiongkok di Barat Jakarta

Mempelajari budaya Tiongkok di Barat Jakarta

Sabtu lalu, kami menyusuri daerah Jakarta Barat, tepatnya di Kota Tua. Ada beberapa lokasi yang menarik untuk dikunjungi bagi kalian yang ingin merasakan sensasi Chinatown di Jakarta.

40151264102_ac50934439_k

Pertama, kami menghampiri Pancoran Tea House. Kata Pancoran sendiri berasal dari kata Pancuran Air, karena dulu terdapat sumber mata air di daerah ini. Disini, teman – teman dapat menikmati teh yang disediakan secara gratis. Tradisi minum teh disini disebut juga, patekoan atau 8 teko. Karena disini terdapat 4 teko yang berisi teh tawar dan 4 teko lainnya berisi teh manis. Teh yang tersedia disini dapat dinikmati dari pukul 8 pagi hingga 7 malam setiap harinya dan bebas untuk siapa saja yang ingin meminum nya.

26311389208_fbe8c6e5a2_k

39286203105_ad9541629c_k

Kemudian kami menuju Vihara Dharma Bakti. Vihara yang didirikan pada tahun 1650 merupakan Vihara yang memiliki banyak sejarah, salah satunya peristiwa Geger Pecinan yang terjadi pada tahun 1740. Ada banyak masyarakat keturunan tionghoa yang terbakar pada peristiwa tersebut karena hubungan antara pengusaha Belanda dan Cina kala itu tidak akur.

26311186028_2a7b742d0d_k

P1380681

P1380687

Terakhir, kami mengunjungi beberapa pasar yang berada di daerah petak 9. Diluar Gang, banyak pedagang yang menjual pernak – pernik untuk menyambut Imlek seperti; gantungan, lampu lampu kecil, baju cheongsam, angpao hingga lampion. Sedangkan di bagian dalam, terdapat jajanan dan makanan berat khas Tionghoa yang bisa kalian coba.

P1380697

P1380668

Jadi, untuk liburan Imlek kali ini kalian mau jalan – jalan kemana Mazzers?

Photo : Desy Rufaida & Reza Ibrahim

Text : Nurul Rachmadini

Find your Analog Camera at Lowlight Bazaar

Find your Analog Camera at Lowlight Bazaar

Jadul & lampau, adalah ungkapan yang langsung terpikir bila mendengar kata “analog”. Tapi sesuatu yang jadul bukan berarti selalu memberikan konotasi yang negatif kan Mazzers? Contohnya ada ungkapan seperti “age is like fine wine, it gets better with time“. Hal ini juga berlaku di beberapa barang, salah satunya adalah kamera. Bukan tanpa alasan kami mengeluarkan pernyataan tersebut. Kami sempat datang dan menikmati pameran kamera analog.

6678508581410.LINE

6678508604234.LINE

Awal, kami tidak terlalu mengerti mengapa banyak yang bernostalgia dengan kamera tipe ini. Rasa penasaran mendorong kami untuk pergi mengunjungi salah satu pameran “lowlight bazaar 11“. Diadakan di Wisma Subud Fatmawati, dan karena analog, kami sempat berpikir bahwa yang akan datang adalah orang-orang berumur yang ingin bernostalgia dengan masa lalunya. Ternyata dugaan kami salah total, pengunjung acara ini hampir seluruhnya adalah anak muda dengan antusiasme tinggi memilih lensa dan badan kamera untuk keperluan mereka. Hobi ini seperti kembali ke masa lalu, dan tentunya menjadi salah satu investasi yang dapat dipertimbangkan (cie sok tua).

6678508641585.LINE

6678508820076.LINE

Di pameran ini kamu benar benar bisa menemukan berbagai macam pilihan badan kamera analog, lensa dan juga roll film dengan merek yang berbeda – beda. Tapi kamu harus sedikit bersabar karena tempatnya benar-benar penuh dengan antrian pembelian. Acara ini merupakan acara rutin yang diadakan oleh Jelly Playground, cek timeline mereka agar kamu tidak ketinggalan bazaar selanjutnya ya Mazzers.

6678508970850.LINE

6678508988601.LINE

2565 di Atas Permukaan Laut

2565 di Atas Permukaan Laut

Mendaki gunung untuk sebagian orang mungkin merupakan momok yang menakutan, apalagi untuk perempuan. Jalan menanjak yang panjang, panas, medan yang dipenuhi batu, kerikil dan tanah merah. Mendenganya saja sudah melelahkan bukan? Bermula dari ajakan teman, saya pun langsung setuju. Mendaki gunung, salah satu sahabat saya bilang kalau saya sudah gila. Bukan tanpa alasan, karena ini adalah gunung pertama saya,”Mt Prau 2565 mdpl”

2017-05-13 12.48.57 1

2017-05-13 12.49.15 1

Kami berangkat bersama sembilan orang pendaki lainnya. Jujur, saya pun belum mengenal mereka dengan baik. Perjalanan dari Pasar Minggu menuju Wonosobo memakan waktu kurang lebih 9 jam. Sepanjang perjalanan saya habiskan dengan mengobrol, mendengarkan lagu dan tidur dengan harapan sesampainya di Wonosobo saya memiliki cukup energi untuk melanjutkan pendakian. Kami sampai di Teminal Wonosobo pukul 01.00 pagi, lebih cepat dari jadwal yang diperkirakan dan akhirnya kami pun menunggu di Terminal untuk dijemput dengan mobil jemputan pukul 06.00 pagi.

2017-05-21 01.29.39 2

2017-05-13 12.49.00 1

Pendakian pun dimulai. Tengah perjalanan menuju Dieng, saya terus berpikir apakah keputusan saya untuk mendaki gunung adalah keputusan yang benar. terlebih 2 minggu sebelum keberangkatan kami mendapat berita yang tidak mengenakan yaitu musibah yang terjadi pada pendaki lain ketika mereka mendaki ke Prau. Tapi saya nekat berangkat tentunya dengan izin Allah dan kedua orang tua saya. Sesampainya di Dieng, kami disapa oleh udara pagi yang dingin dan sejuk, embun dan kabut yang masih tebal. Cahaya matahari pun masih samar. Suasanya yang tidak bisa didapatkan di kota besar layaknya Jakarta. Setelah menaruh perlengkapan kami di basecamp, di tengah perkebunan, kami pun sarapan Mie Ongklok, makanan khas Dieng.

2017-05-13 12.49.02 1

2017-05-22 03.32.22 1

Kami sempat mengunjungi beberapa tempat wisata di Dieng seperti Kawah Sikidang, Talaga Warna dan Candi Arjuna. Setelah puas melihat pemandangan dan berfoto-foto kami pun kembali ke basecamp untuk makan siang dan beristirahat sebelum mendaki Gunung Prau. Pukul 16.00 kami berangkat menuju Gunung Prau melalui Jalur Dieng. Sebenarnya terdapat beberapa pilihan jalur menuju puncak Prau, tapi jalur Dieng adalah jalur yang direkomendasikan untuk pemula seperti saya walaupun butuh waktu yang lebih lama yakni 4 – 4,5 jam.

Photo & Text : Deska Dera

Curug dari Kejauhan

Curug dari Kejauhan

Jika melihat kalender beberapa minggu kemarin, pasti kita akan banyak menemukan tanggal merah yang ada di tengah-tengah minggu. Bisa jadi hari Senin, Kamis, Rabu atau hari lainnya selain Sabtu atau Minggu tentunya. Banyak rencana liburan yang sudah dibuat mulai dari keluar kota ataupun keluar negri.

Short escape kami kali ini dihabiskan di Bumi Parahyangan. Sederhana, waktu liburan kami dihabiskan di Barat Jawa, Bandung. Jenuh dengan pilihan liburan yang sering kami datangi di Bandung, kamipun berinisiatif untuk meminta rekomendasi dari sahabat kami yang sedari kecil tinggal disana. Panggil saja Averous, “Kalo mau main di alam, mending ke Cimahi aja disitu ada tempat yang bagus juga, coba aja ke Curug Cimahi!”. Sejujurnya tujuan utama kami ke Bandung kali ini, bukan sekedar mengisi liburan di tengah-tengah minggu. Tetapi kami harus menghadiri undangan penikahan teman kami.

IMG_0526

Dengan waktu yang singkat kamipun, memasukkan keywords “Curug Cimahi” kedalam GPS. Ternyata letaknya tidak begitu jauh dari kota Bandung. Curuh Cimahi sendiri juga bisa disebut dengan Curug Pelangi. Percaya atau tidak Curug ini terletak di tikungan jalanan, jadi mungkin agak sulit bagi pengendara mobil untuk mendapatkan parkir. Walaupun parkirannya jauh, rasa lelah kami terbayarkan oleh suasana yang terpampang di depan mata kami. Hijau dan Sejuk, lebih dari cukup untuk sekedar melepas kepenatan.

IMG_0545

IMG_0574

Saat kami datang kami hanya bisa menjelajah sampai pos lihat ke 2. Pihak pengelola dari Curug Cimahi sendiri tidak membuka untuk pos-pos selanjutnya, tapi menurut kami itu sudah cukup. Jalan yang harus dilalui memang sudah berbentuk tangga yang rapih sehingga aman untuk naik dan turun, tapi jangan sangka bahwa ada banyak sekali anak tangga yang harus dilewati dari atas menuju ke bawah. Memang kami tidak bisa sampai mendekati air terjun tersebut, tapi memandang dari jauh apa yang Tuhan telah ciptakan sudah memuaskan kami dalam perjalanan kali ini.

IMG_0574

IMG_05372

Danau Terindah Selama Hidup

Danau Terindah Selama Hidup

Ide untuk pergi ke sebuah danau terdengar megah di telinga saya. Setelah perjalanan panjang menuju puncak dan melewati 7 bukit penyesalan, saya benar-benar berhak menerima sebuah hadiah. Satu hal yang saya tahu, jalanan menurun sama sulitnya dengan jalan menanjak.

Setelah 7 jam berjalan, kami akhirnya sampai di tempat perkemahan yang terletak didekat danau. Berjalan di kegelapan bisa mematahkan semangatmu. Ketika malam menjadi semakin gelap, jalan semakin terlihat tidak berujung. Hal menjadi semakin buruk ketika kaki saya cedera dan saya demam pada malam itu. Setelah makan malam yang singkat, saya minum obat dan tidur. Badan saya membutuhkan istirahat setelah 3 hari tidak berhenti berjalan.

rinjani explore porter demas ryan grace filled travel junkie segara anak danau lake summit puncak lintang indonesia lombok backpack (1)

Malam itu terasa seperti mimpi buruk. Ditambah lagi kami harus berjalan 12 jam pada esok hari. Matahari pun terbit dan semua berubah saat pagi hari. Saya bangun di hadapan danau yang sangat indah, bahkan saya bisa menatapnya hingga berjam jam. Otot saya nyeri dan kaki kiri saya masih cedera. Tetapi semangat saya entah bagaimana bangkit hanya dengan melihat danau paling indah yang pernah saya lihat seumur hidup saya. Danau Segara Anak.

rinjani explore porter demas ryan grace filled travel junkie segara anak danau lake summit puncak lintang indonesia lombok backpack 2 (1)

Danau Segara Anak bisa membayar rasa sakit saya. Bila punya waktu lebih, paling tidak kamu harus menghabiskan sehari di sekitar danau. Beberapa aktivitas yang bisa kamu lakukan adalah mandi, berenang, memancing dan merasakan mandi air panas. Sayangnya, rasa sakit ini tidak mengizinkan saya untuk melakukan semua hal itu. Yang saya lakukan hanyalah duduk di tepi danau dengan secangkir kopi panas di tangan saya. Namun itu pun juga momen yang menyenangkan.

rinjani explore porter demas ryan grace filled travel junkie segara anak danau lake summit puncak lintang indonesia lombok backpack 8 (1)

Untuk mencapai ke danau, saya harus melewati perjalanan yang cukup panjang. Ini adalah video yang bisa merangkup itu semua. Perhatian: ini apa yang bisa kamu lihat 4 hari tanpa mandi.

Seperti yang sudah dituliskan di atas, saya harus berjalan 12 jam lagi untuk mencapai ke tempat peristirahatan. Semua orang sebisa mungkin bangun lebih pagi agar bisa sampai pada pukul 8 malam. Bagaimanapun, semua sangat terpesona dengan pemandangan danau tersebut. Kami akhirnya meninggalkan danau pada pukul 10:30 dan sampai pada pukul 12 malam. Perjalanan kembali mamang sangat panjang dan juga melelahkan, tapi sangat menyenangkan ketika kami mulai melihat peradaban. Dengan adanya peradaban, maksud saya, penjual minuman dengan minuman dingin.

Catch full story of this here. More stories in Grace Filled Travel Junkie, Demas Ryan.
Text/Photo : @demasryan

Menjadi “Anak“ Wae Rebo

Menjadi “Anak“ Wae Rebo

Menilik persyaratannya, untuk menjadi “anak” Wae Rebo sebetulnya tidak sulit. Desa kecil ini ibarat tangan terbuka, selalu menyambut para pengunjungnya sebagai anak-anak Wae Rebo yang baru kembali dari tanah rantau.

Syaratnya hanya satu, restu dari leluhur yang didapatkan dengan mengikuti upacara penghormatan leluhur atau disebut Waelu’u selama lima hingga sepuluh menit di salah satu rumah Mbaru Niang bernama Niang Gendang. Dalam upacara tersebut tetua adat akan memintakan restu leluhur dan mendoakan setiap pengunjung dalam bahasa setempat. Selepas upacara, persis ketika keluar dari Niang Gendang, kita sudah menjadi “anak” Wae Rebo. Walaupun terkesan sederhana, upacara penerimaan ini begitu penting dan wajib.

6a

Untuk menjadi “anak” Wae Rebo yang sesungguhnya, mengenal sejarah desa ini menjadi suatu keharusan. Dalam buku “Pesan Dari Wae Rebo” oleh Yori Antar, dikisahkan bahwa penduduk Wae Rebo adalah keturunan Empo Maro, pelaut asal Minangkabau yang berlayar bersama keluarganya hingga ke pulau Flores dan menetap di berbagai desa di Manggarai. Setelah lama berpindah-pindah karena berbagai sebab –salah satunya mengikuti arahan rubah, Empo Maro akhirnya mendapat ilham untuk pindah ke sebuah wilayah di timur, menetap di desa tersebut dan memberi nama “Wae Rebo”. Seperti leluhurnya, penduduk Wae Rebo keturunan Empo Maro ini dipercaya sebagai orang-orang yang ahli berkebun dan berburu. Terbukti bahwa berkebun adalah mata pencaharian utama penduduk Wae Rebo dengan menghasilkan kopi, jeruk, sirih, markisa, jahe, dan temulawak. Sedangkan para wanitanya menenun kain Cura.

1b

Saya lalu mencoba sudut pandang berbeda yaitu dengan mengamati anak-anak Wae Rebo yang begitu asyik bermain di alam terbuka, spontan membuat saya gembira karena teringat adegan-adegan film Laskar Pelangi. Namun segala keseruan berakhir ketika hari sudah gelap, ketika semua harus masuk rumah sebab keluar di malam hari tanpa penerangan bisa beresiko bahaya. Bagi anak-anak Wae Rebo masa kecil ialah suatu tempo kehidupan yang singkat, sesingkat pagi berganti malam. Menginjak usia sekolah, anak-anak ini harus merantau ke desa tetangga atas tuntutan literasi dan pendidikan. Sekolah Dasar paling dekat terletak tiga jam berjalan kaki turun gunung ditambah empat jam untuk kembali naik. Melanjutkan ke sekolah menengah berarti harus merantau lebih jauh lagi, kalau perlu sampai ke Ruteng.

4a

Photo & Text : Nur Fadilah

Fondasi Studi Rantau Negeri

Fondasi Studi Rantau Negeri

Percaya atau tidak, belajar di luar negeri memiliki beberapa prinsip yang sama dengan menikah. Keduanya melibatkan komitmen, menghindari kegagalan dan dimulai dengan mencari ‘sesuatu yang tepat’. Sebelum mengatakan “ya”, kamu harus 100% yakin dengan apa yang kamu inginkan terlebih dahulu. Melakukan hal tersebut akan menyelamatkan kamu dari kemungkinan untuk berubah pikiran. Baik program, universitas, negara tujuan atau pasangan hidup.

Universitas di luar menawarkan berbagai macam program. Sekali lagi, berbagai macam. Goldsmiths misalnya, ada Master of Arts dalam subjek ‘Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Memahami Pelecehan Seksual’. Bagi saya, pertama saya melihat jurusannya terlebih dahulu, diikuti oleh universitas dan negara. Kamu bisa mulai dari mana saja. Jangan malas, lakukan penelitian, temukan kedamaian jiwa, meditasi, atau apa pun kecuali membiarkan orang lain membuat pilihanmu. Kamu tidak akan membiarkan orang lain memutuskan dengan siapa kamu akan menikah, kan? Saya harap tidak, karena kamu yang akan melalui semua lintang kehidupan itu, bukan orang lain. Saya percaya bahwa ketika kamu 100% yakin dengan pilihan mu, semakin besar kemungkinan kamu akan menyukainya. Kemudian jika kamu suka, kamu akan bisa menikmati bagian paling sulit sekalipun.

Abroad2

Abroad1

Bohong jika saya mengatakan, saya tidak punya motif tersembunyi saat belajar di luar negeri. Ini adalah kesempatan untuk bisa bepergian dan tinggal di negara yang saya suka. Meskipun salah satu teman saya berkata, “Having fun needs money“. Kamu mungkin telah mendengar tentang bagaimana uang adalah masalah sensitif bagi siswa. Teman-teman saya di sini harus mencari pekerjaan paruh waktu dan ada yang harus menunda studinya karena alasan keuangan.

Namun, jika kamu menyukai apa yang kamu pilih, kamu bisa bersenang-senang, gratis. Belajar akan menyenangkan karena kamu dapat belajar tentang hal-hal yang benar-benar kamu suka. Bahkan jalan-jalan atau berjalan sendirian di sekitar kota bisa menyenangkan. You are where you want to be. Apakah belajar di luar negeri lebih banyak sengsara daripada keasikannya? Silahkan kamu yang putuskan sendiri.

Satu hal yang pasti, kamu akan tumbuh dari situ.

Photo / text : Emerentiana Yuan

Peradaban Luhur di Haribaan Ancala Manggarai

Peradaban Luhur di Haribaan Ancala Manggarai

Menyebut “Wae Rebo” bahkan kepada sesama kawan Indonesia, seringkali harus disertai dengan keterangan tentang dimana lokasinya ataupun penggambaran deskriptif tentang seperti apa wujudnya. Karena letaknya di ketinggian ancala, saya pun mengasosiasikan Wae Rebo sebagai Machu Picchu-nya Indonesia dengan pengecualian Wae Rebo bukan kota mati namun sebaliknya begitu hidup dengan denyut nadi yang kuat. Sebetulnya saya berharap tidak menggunakan asosiasi ini lagi dalam waktu dekat, karena Wae Rebo sejatinya tidak tergantikan.

7B

Wae Rebo menjadi begitu istimewa karena Mbaru Niang, karya otentik arsitektur rumah tradisional yang diwariskan Empo Maro sang leluhur setempat dan diteruskan oleh para keturunannya. Mbaru Niang di Wae Rebo berjumlah tujuh buah, satu sama lainnya terlihat identik dalam bentuk dan ukuran berupa rumah beratap kerucut besar terbuat dari ijuk. Sebuah Mbaru Niang yang terletak di tengah berukuran sedikit lebih besar dengan tinggi dan diameter 15 meter sedangkan enam lainnya memiliki tinggi dan diameter 11 meter. Di Mbaru Niang yang bernama Niang Gendang atau Mbaru Tembong itulah tempat para tetua adat Wae Rebo berkumpul dan melaksanakan berbagai upacara adat.

7A

Mbaru Niang di Wae Rebo merupakan situs penting bagi para arsitek baik dalam negeri maupun luar negeri. Keunikan dan kekhasan Mbaru Niang berhasil menarik perhatian kalangan ini, diantaranya struktur rumah yang tidak berdinding dengan atap memanjang sampai melampaui lantai yang berbentuk panggung. Atap tersebut terbuat dari kerangka bambu sedangkan untuk penyangga setiap Mbaru Niang digunakan sembilan tiang kayu. Bambu dan kayu-kayu tersebut diikat satu sama lain memakai rotan. Masing-masing Mbaru Niang dihuni bersama oleh delapan kepala keluarga yang saling berbagi satu-satunya ruangan. Saya begitu bahagia karena ada satu Mbaru Niang disebut Niang Gena Maro yang diperuntukkan untuk para wisatawan. Sebagaimana warga asli Wae Rebo, kami berbagi satu ruangan yang sama, tidur berjejer melingkari setengah Mbaru Niang, juga duduk melingkar setiap kali akan makan.

4A

 

4B

Wae Rebo sebagai peradaban di ancala Manggarai ini sungguh mampu memikat hati siapa saja. Kompleks rumah tradisional Mbaru Niang ditata begitu apik membentuk setengah lingkaran, menyisakan halaman tengah yang luas pada puncak gunung yang datar. Di belakangnya, punggung pegunungan yang lebih tinggi melatari seolah-olah menjadi pagar yang memisahkan Wae Rebo dari kehidupan dunia luar. Di atasnya, langit rendah menaungi dengan sesekali membentangkan selimut awan tipis.

7C

Pesona Wae Rebo pun tidak seketika luruh tatkala matahari terbenam. Suasana malam di Wae Rebo tidak kalah memukau, dengan langit biru gelap dibayangi siluet pegunungan dan atap-atap rumah yang menjulang ditambah taburan bintang yang bersinar terang tanpa berkompetisi dengan cahaya lain. Di ketinggian 1.200 mdpl, Wae Rebo seperti asyik sendiri, mengabaikan dunia yang terus bergejolak, hidup dalam tuntutannya sendiri. Bahkan waktu pun seakan berjalan lambat disini. Para tamu yang ingin berkunjung pun harus bersedia melepaskan ego modernisme untuk digadaikan dengan rasa syukur akan kedamaian, kesederhanaan dan kecukupan di peradaban Wae Rebo.

2

Photo/Text : @nfadilah.xi

 

 

Perspektif Travel dalam Dokumenter

Perspektif Travel dalam Dokumenter

Jalan-jalan bukan lagi menjadi kebutuhan tersier di masa sekarang. Jalan- jalan atau travelling kini sudah menjadi gaya hidup bagi kebanyakan orang. Sekarang memesan tiket pesawat lebih mudah, pesan kamar hotel juga mudah. Tidak perlu mahal, yang penting bisa untuk tidur sebelum kembali berkelana. Begitu yang kami pikir.

Bagi kami traveling dirasa sangat penting untuk menghilangkan stress dan juga berburu foto foto yang menarik. Berbeda orang, berbeda juga persepsi terhadap traveling. Matter Halo yang terdiri dari Ibnu Dian dan Ganidra Rai juga memiliki perspektif tersendiri mengenai traveling.

Matter Halo berhasil membuat dan menyutradarai sebuah film dokumenter dengan judul Travel Is : The Documentary yang menceritakan akan pentingnya travel yang terkadang tak tersentuh, bias dan abstrak. Pada akhirnya film tersebut akan memperkaya perspektif kahalayak akan travel. bukan hanya menjadi cerita tentang perjalanan saja melaikan menjadi medium eksplorasi, eksistensi, dan refleksi terhadap realitas.

S e l a n g [sepekanpulang] – Nusa Tenggara To Maumere , Flores

S e l a n g [sepekanpulang] – Nusa Tenggara To Maumere , Flores

Tentang esensi hari terakhir rangkaian perjalanan sepekanpulang. Dalam euforia yang agak melankolis, (anti) memabukkan. Dua belas jam yang kekal berkelok di sepanjang “adimarga” Flores jalur Ruteng- Maumere.

Saya, si “pemabuk” yang payah ini, sukses bertahan tanpa tidur dan tidak sedikit pun merasa mual, tidak juga nyeri kepala. Mungkin, ini efek “rindu setengah mati”. Atau sepertinya, saya telah berhasil mencapai standar derajat sinkron tertentu sehingga kompatibel dengan yang namanya perjalanan darat overland. Bisa jadi. Yang jelas, saya berhasil survived dari hagemoni kerinduan dan mengubahnya menjadi kekuatan positif yang membesarkan hati. Saya masih sabar mengikuti permainan waktu, berkendara berjam-jam lagi untuk sampai ke rumah, kembali ke pelukan ibu, nanti malam!

Saya akan mengulang perjalanan ini dengan total overland via darat dari Jakarta-Malang-Bali-Lombok-Labuan Bajo-Maumere dengan destinasi utama di Labuhan Bajo (Pulau Komodo, Rinca, Padar dan Kenawa)! Saya tidak berniat solo lagi! 😀 Jadi, bagi siapapun yang butuh teman perjalanan dalam rute tersebut pada akhir Januari hingga awal Februari 2016, saya akan dengan senang hati berbagi perjalanan #sepekanpulang_II ^^

Terima kasih banyak untuk yang sudah mengikuti rangkaian cerita sepekanpulang ini!

Project from @f.flaurndhia
Wait for more to come, or simply goes here

Editorial : @sadidae

S e l a n g [sepekanpulang] – A State of Peace #Ruteng

S e l a n g [sepekanpulang] – A State of Peace #Ruteng

Pertama kali saya melihat Wae Rebo adalah melalui foto-foto di penelusuran gambar Google ketika mencari informasi destinasi wisata kota Ruteng. Dikuasai perasaan subyektif, saya menyematkan gelar pada Wae Rebo, sebagai “Macchu Picchu-nya Indonesia”. 

Ketika menghabiskan dua hari satu malam di Negeri Atas Awan itu, hidup seperti penduduk lokal, saya merasakan suka-duka mereka. Kedekatan yang tenteram dengan alam memang merupakan kebahagiaan terbesar. Terlebih, saya salut dengan keharmonisan masyarakatnya. Mereka memiliki hunian yang sama, tujuh buah rumah Mbaru Niang yang persis seragam, masing-masingnya dihuni bersama-sama oleh 6 hingga 8 keluarga. Mereka juga punya mata pencaharian dan sumber daya yang sama, berupa lahan-lahan perkebunan kopi dan kayu manis. Bahkan, halaman rumah mereka adalah satu bidang datar yang sama di tengah-tengah desa, digunakan untuk menjemur kopi pada siang hari dan sore harinya untuk tempat berkumpul serta dijadikan lapangan bermain bola oleh anak-anak Wae Rebo. 

Walaupun tempat tinggalnya jauh di dalam hutan di puncak bukit, saya yakin mereka bukan ingin mengasingkan diri. Keluarga besar Wae Rebo terlahir dengan sifat dermawan. Prinsip hidupnya adalah untuk berbagi bukan hanya diantara mereka sendiri, tapi juga dengan generasi sebelumnya dan generasi masa depan, bahkan dengan para tamu yang datang!

Namun anehnya, saya masih saja khawatir dengan listrik yang cuma ada pada malam hari, takut tidak bisa mengecas baterai kamera. Selain itu . . . Empat jam naik dan empat jam turun, itu bukan waktu yang sedikit untuk berjalan kaki dengan medan hutan berjurang-jurang, membawa turun hasil kebun lalu membawa naik berkilo-kilo beras, pakaian, solar dan kebutuhan lainnya. Lalu, tentang anak-anak yang sudah harus merantau keluar desa di usia sekolah dasar, hanya pulang saat akhir pekan atau bahkan menunggu hingga akhir semester. Bayangkan saja, rindu yang harus mereka tahan untuk sekedar bercerita pengalaman sekolah sehari-hari kepada ayah, ibu dan keluarga. 

Karena itu semua, saya berhasil untuk tidak merasa cemburu pada intimasi bumi dan manusia di tanah ini. Satu-satunya yang saya rasakan adalah kepuasan yang penuh syukur. Terima kasih, Wae Rebo, untuk pembelajaran hidup yang memanusiakan!

Saya akan mengulang perjalanan ini dengan total overland via darat dari Jakarta-Malang-Bali-Lombok-Labuan Bajo-Maumere dengan destinasi utama di Labuhan Bajo (Pulau Komodo, Rinca, Padar dan Kenawa)! Saya tidak berniat solo lagi! 😀 Jadi, bagi siapapun yang butuh teman perjalanan dalam rute tersebut pada akhir Januari hingga awal Februari 2016, saya akan dengan senang hati berbagi perjalanan #sepekanpulang_II ^^

Terima kasih banyak untuk yang sudah mengikuti rangkaian cerita sepekanpulang ini!

Project from @f.flaurndhia
Wait for more to come, or simply goes here

Editorial : @sadidae

S e l a n g [sepekanpulang] – A Sunset from Waringin

S e l a n g [sepekanpulang] – A Sunset from Waringin

Saya kembali tiba untuk kedua kalinya di Labuhan Bajo, pada waktu yang sama: petang hari. Tidak mengapa. Saya toh senang menjadi akrab dengan petang.

Pakaian belum sempuna mengering dan kecapan masih terasa asin selepas tadi siang snorkeling di Pink Beach dan Manta Point. Seketika terlintas di benak, pesan seorang kakak pengelana yang merekomendasikan sunset di Puncak Waringin. Tanpa terlebih dulu mampir ke penginapan, saya jalan kaki lewat gang-gang kecil di perumahan warga, mendaki hingga tiba di sebuah jalan raya yang ramai.

Saya memutar badan, langsung disilaukan oleh matahari yang bersiap terbenam. Luar biasa! Senja dalam busana terbaiknya, jingga!

Saya akan mengulang perjalanan ini dengan total overland via darat dari Jakarta-Malang-Bali-Lombok-Labuan Bajo-Maumere dengan destinasi utama di Labuhan Bajo (Pulau Komodo, Rinca, Padar dan Kenawa)! Saya tidak berniat solo lagi! 😀 Jadi, bagi siapapun yang butuh teman perjalanan dalam rute tersebut pada akhir Januari hingga awal Februari 2016, saya akan dengan senang hati berbagi perjalanan #sepekanpulang_II ^^

Terima kasih banyak untuk yang sudah mengikuti rangkaian cerita sepekanpulang ini!

Project from @f.flaurndhia
Wait for more to come, or simply goes here

Editorial : @sadidae

S e l a n g [sepekanpulang] A Dream Came True – Pulau Komodo

S e l a n g [sepekanpulang] A Dream Came True – Pulau Komodo

Petang hari, kami sampai di Labuan Bajo! Walau faktanya sedang kemarau, saya merasakan dingin angin dari kota sebelah, Ruteng, memanggil dari kejauhan dan mengajak segera menuju destinasi utama. Namun, saya terlanjur jatuh hati dan setengah mati penasaran dengan pulau-pulau yang tadi terlewati selama berlayar. Lagipula, sejak dulu saya bermimpi ingin melihat komodo! Saya bergeming sesaat sedang berpikir keras, sementara teman-teman perjalanan satu per satu mengucap selamat tinggal karena keluarganya sudah datang menjemput.

Ah. Beranilah sedikit! Jangan lagi ada senja biru seperti di Lombok, menatap tanpa daya pada Rinjani yang berdiri tepat di depan, menyaksikan mimpi tersia-sia. Maka, petang itu juga, usai check in di hostel, saya keluar menyusuri sepanjang jalan Soekarno-Hatta, berburu paket wisata ke Taman Nasional Komodo. Begitu banyak paket-paket pulau yang ditawarkan, namun saya hanya ingin ke Pulau Komodo!

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, mimpi besar itu betul-betul tergenapi.

Saya akan mengulang perjalanan ini dengan total overland via darat dari Jakarta-Malang-Bali-Lombok-Labuan Bajo-Maumere dengan destinasi utama di Labuhan Bajo (Pulau Komodo, Rinca, Padar dan Kenawa)! Saya tidak berniat solo lagi! 😀 Jadi, bagi siapapun yang butuh teman perjalanan dalam rute tersebut pada akhir Januari hingga awal Februari 2016, saya akan dengan senang hati berbagi perjalanan #sepekanpulang_II ^^

Terima kasih banyak untuk yang sudah mengikuti rangkaian cerita sepekanpulang ini!

Project from @f.flaurndhia
Wait for more to come, or simply goes here

Editorial : @sadidae

S e l a n g [sepekanpulang] – Between Sape & Labuan Bajo

S e l a n g [sepekanpulang] – Between Sape & Labuan Bajo

Dua belas jam berlalu sejak menaiki bus di terminal Mandalika sampai pada perhentian terakhir: Bima, wilayah administratif paling ujung di timur Nusa Tenggara Barat, kami akhirnya turun. Kami? Ya. Siapa sangka, begitu banyak yang terjadi selama dua belas jam di jalan. Saya berbagi bagian perjalanan ini dengan beberapa teman baru yang kebetulan sama-sama mengarah ke Flores.

Menghabiskan satu subuh yang tenang di terminal Dara Bima, kami menunggu terang untuk melanjutkan ke Pelabuhan Sape. Sayang sekali, waktu mulai tidak sabaran, mengajak berkejaran. Perkenalan dengan Bima jadinya sangat ringkas. Susah payah saya menghimpun dalam memori, kelebat pemandangan pagi hari kota Bima dari jendela mobil yang melaju kencang menuju pelabuhan selama dua jam, membentuk gambar yang paling jelas: kotak-kotak tambak garam dan kereta kuda benhur. Lalu kenangan terakhir, sambutan gerimis di pelabuhan, membuat kami berlari-lari kecil menyalip porter yang gontai memikul karung-karung besar, masuk ke dalam ferry yang dijadwalkan berangkat pukul 8 pagi, ke Labuan Bajo.

Tinggal sekali “melompat” untuk sampai ke seberang, ke daratan yang sama dengan rumah. Di Selat Sape, transisi antara Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur berlangsung meriah dikelilingi kembang-kembang air laut berbuih putih serta iringan parade lumba-lumba yang gembira menyambut para perantau, kembali pulang.

Saya akan mengulang perjalanan ini dengan total overland via darat dari Jakarta-Malang-Bali-Lombok-Labuan Bajo-Maumere dengan destinasi utama di Labuhan Bajo (Pulau Komodo, Rinca, Padar dan Kenawa)! Saya tidak berniat solo lagi! 😀 Jadi, bagi siapapun yang butuh teman perjalanan dalam rute tersebut pada akhir Januari hingga awal Februari 2016, saya akan dengan senang hati berbagi perjalanan #sepekanpulang_II ^^

Terima kasih banyak untuk yang sudah mengikuti rangkaian cerita sepekanpulang ini!

Project from @f.flaurndhia
Wait for more to come, or simply goes here

Editorial : @sadidae

S e l a n g [sepekanpulang] Malimbu & Khayangan – Sayonara Lombok

S e l a n g [sepekanpulang] Malimbu & Khayangan – Sayonara Lombok

Esok paginya, saya ke Lombok Barat. Dalam perjalanan dengan track berbelok – belok, naik – turun, saya berhenti sebentar di Bukit Malimbu untuk melihat keindahan Pantai Senggigi dari ketinggian. Ada yang membuat saya salut akan kota ini, yaitu semua jalan raya yang saya lewati sejak kemarin, diaspal halus. Jalanannya sepi dan tidak ada kemacetan, meski jarak dari satu tujuan ke tujuan lain jauh, sehingga membutuhkan banyak waktu.

Perjalanan di pulau ini telah selesai. Pukul 3 sore, saya naik bus terakhir dari terminal Mandalika menuju pelabuhan Khayangan di Lombok Timur. Sore ini juga, saya harus melanjutkan pergerakan ke timur, untuk melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo.

Saya akan mengulang perjalanan ini dengan total overland via darat dari Jakarta-Malang-Bali-Lombok-Labuan Bajo-Maumere dengan destinasi utama di Labuhan Bajo (Pulau Komodo, Rinca, Padar dan Kenawa)! Saya tidak berniat solo lagi! 😀 Jadi, bagi siapapun yang butuh teman perjalanan dalam rute tersebut pada akhir Januari hingga awal Februari 2016, saya akan dengan senang hati berbagi perjalanan #sepekanpulang_II ^^

Terima kasih banyak untuk yang sudah mengikuti rangkaian cerita sepekanpulang ini!

Project from @f.flaurndhia
Wait for more to come, or simply goes here

Editorial : @sadidae

S e l a n g [sepekanpulang] – Hello for the first time, Lombok!

S e l a n g [sepekanpulang] – Hello for the first time, Lombok!

Tentang perjalanan pulang, dimulai dengan penerbangan jam 10 pagi dari Jakarta menuju Lombok. Keindahan alam Lombok, Nusa Tenggara Barat telah terasa begitu pesawat kami mulai turun dari ketinggian dan bersiap mendarat. Awan – awan tipis menutupi bukit dan pegunungan, menebak – nebak apakah itu Bukit Pergasingan, Sembalun atau Rinjani.

Satu sore penuh menjelajah Lombok Tengah, bekunjung ke suatu daerah yang menjadi tempat wisata budaya di Lombok, yaitu Desa Sade. Di dalamnya terdapat ratusan rumah – rumah kecil khas Lombok dan ribuan warga yang tinggal dengan masih menganut adat turun – temurun dari nenek moyang. Salah satu kekhasan dari desa ini adalah para warganya biasa mengoleskan kotoran kerbau di lantai rumahnya.

Perjalanan lalu dilanjutkan ke Pantai Seger, dan menikmati sunset di Pantai Tanjung Aan dengan pasirnya yang putih, halus, serta air yang sangat jernih. Sepi dan damai.

Project from @f.flaurndhia
Wait for more to come, or simply goes here

Editorial : @sadidae